Nabung komentar dulu, baru up➡️
31. Selamat Tinggal Elin
Jantung Diksa berdetak dua kali lebih cepat kala menemukan Elin berdiri di depan tenda dengan pandangan sendu.
Mata Diksa mulai berair, tanpa sadar pria itu menjatuhkan Bu Fitri di atas tanah, kemudian berlari menghampiri istrinya.
"ASTAGHFIRULLAH PAK DIKSA!!!" teriak Bu Susan dan Bu Gita kompak, kaget dengan tindakan Diksa yang membahayakan itu.
Sedangkan Bu Fitri semakin meringis saat merasakan tubuhnya seolah remuk.
'Semua gara-gara Elin!!!'
"Sayang, maaf aku tadi terpaksa..." Diksa memeluk lutut istrinya.
Elin hanya diam tak menyahut, gadis itu menatap Bu Fitri dengan pandangan yang sulit diartikan.
Alika yang mengerti situasi pun malah semakin mengompori, "Gatel ya Bu? Sini saya garuk pakai linggis!"
Bu Fitri sontak mendelik tak terima, "Tidak sopan kamu Alika!"
"Sini kejar saya kalau bisa!" tantang Alika dengan nada mengejek, karena ia tahu jika Bu Fitri tak bisa berdiri, apalagi berjalan.
"Alika...minta maaf sama Bu Fitri!" tegur Bu Susan membuat gadis itu cengengesan.
Bukannya meminta maaf, Alika justru masuk kedalam tenda dengan santai seakan tak memiliki dosa.
"Lihat teman kamu! Pasti dia terpengaruh dengan sifat buruk mu itu!!" tuduh Bu Fitri kepada Elin yang tetap mematung tanpa bersuara.
"Diam!!!" bentak Diksa kepada Bu Fitri, lalu pria itu mendongak menatap istrinya dengan pandangan melembut.
"Sayang, maaf..."
"Hiks ampun... Maaf sayang..."
Diksa sangat takut jika istrinya seperti ini, jujur saja lebih baik Elin memarahinya daripada gadis itu mendiaminya.
"Mau mimi....hiks mimi..."
Dengan sekali gerakan, pelukan Diksa di kaki Elin terlepas. Gadis itu masuk kedalam tenda tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Diksa hendak mengikuti. Namun, pintu tenda langsung di tutup oleh Elin membuat pria itu kembali menangis pilu.
"Mau mimi..." racau Diksa, sesekali menghapus air matanya yang berjatuhan.
Beberapa saat kemudian Diksa terdiam di depan tenda dengan pandangan kosong.
"DORRR!!!"
Diksa telonjak kaget saat suara Ilham tiba-tiba terdengar di telinganya.
"Bang Diksa mau mimi?" goda Ilham.
"Pergi! Jangan menganggu saya!" usir Diksa kesal seraya memukul pipinya sendiri yang terkena gigitan nyamuk.
"Sepertinya Anda butuh ini. Baygon, semprot satu detik, nyamuk mati sepuluh jam!!!" ucap Ilham mempromosikan obat nyamuk favoritnya.
Diksa menatap Ilham datar, "Saya ingin menumpang di tenda kamu!"
"Boleh, tapi saya gak punya mimi...nih dada saya kempes, " Ilham menaikkan kaos yang dikenakannya.
Diksa mencebikkan bibirnya kesal, "Sayang, Ilham nakal..." adu Diksa berharap Elin mendengar suaranya.
Diksa mirip seperti anak kecil.
💚💚💚
"Kamu tidak usah sok peduli terhadap saya, saya bisa mengobatinya sendiri!" Bu Fitri menyentak tangan Devan yang menyentuh kakinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELDIKSA [End]
Roman d'amour[Komedi-Romantis] Bagaimana jadinya jika seorang Duda muda kaya raya tertarik pada gadis SMA? "Saya suka susu kamu." "Hah?!" "Eh--maksudnya susu buatan kamu." Penasaran dengan kelanjutannya? Mari intip kelakuan si bucin tolol, Aldiksa Diningrat. [F...
![ELDIKSA [End]](https://img.wattpad.com/cover/306262458-64-k649451.jpg)