[Komedi-Romantis]
Bagaimana jadinya jika seorang Duda muda kaya raya tertarik pada gadis SMA?
"Saya suka susu kamu."
"Hah?!"
"Eh--maksudnya susu buatan kamu."
Penasaran dengan kelanjutannya? Mari intip kelakuan si bucin tolol, Aldiksa Diningrat.
[F...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kemarin banyak yang salah paham. Padahal itu Oliv, bukan Ilham. Aku juga udah klarifikasi di instagram...
••••••••••
"Waktu mengerjakan tinggal lima menit lagi," ucap Pak Broto selaku pengawas ujian.
Mendengar itu Elin menjadi panik, bahkan soal yang ia kerjakan masih kurang seperempat lagi. Mata Elin melirik kearah Alika yang duduk berseberangan dengannya. Ya, selama ujian, bangku para siswa memang di acak.
"Ssstttt!!!" bisik Elin memanggil Alika. Namun, Alika tetap tak menyahut seolah tuli akan panggilan Elin.
Akhirnya terpaksa Elin pun menjawabnya dengan asal-asalan. Untung saja soalnya pilihan ganda, ia tak bisa membayangkan jika mendapatkan soal essay. Otak kerdil nya tak mampu berfikir dengan cepat, secepat rasa ini tumbuh kepadamu...eakkk.
"Waktu sudah habis. Silahkan bangku paling belakang mengumpulkan ke depan!!!" perintah Pak Broto menginterupsi.
"Waktu habis!" sindir Gio saat melihat Elin masih saja menulis.
Karena kesal, Elin pun menyerahkan lembar jawabannya kepada Gio dengan ogah-ogahan.
"Baik, Anak-anak kalian boleh pulang. Untuk Gio, tolong bawakan lembar jawaban teman-temanmu ke meja Bapak,"
"Bapak izin undur diri, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..." lanjut Pak Broto sebelum keluar dari ruang kelas.
"Akhirnya...." Elin merenggangkan otot-otot tangannya sejenak. Setelah dirasa selesai, gadis itu segera mengemasi alat tulis nya kedalam tas.
"Kok gue baru sadar kalo tas lo baru?" celetuk Alika yang sudah berdiri didepan bangku Elin.
Elin tersenyum manis, "Baru beli kemarin."
"Ngapain beli lagi? Bukannya setelah pulang Camping lo baru beli tas juga? Lagian bentar lagi kan kita lulus," ucap Alika semakin heran.
"Ga tau, ini di beliin suami gue. Katanya biar bisa ganti tiap hari."
Alika melongo seketika, "Gila! Enak bener hidup lo, gue aja gak ganti-ganti dari kelas sepuluh!!" Tanpa sadar, Alika memukul lengan Elin sedikit keras hingga sang empu meringis dibuatnya.
Entah kenapa mendengar ucapan Alika tadi, Elin ingin tertawa. Padahal dulu ia juga sama seperti Alika. Jika tidak rusak, maka haram hukumnya untuk membeli lagi. Namun, berbeda dengan sekarang, ia bisa menggantinya jika bosan.
"Nanti malem gue mau ke rumah lo!"
Elin mengernyitkan keningnya bingung, "Ngapain?"
Alika tersenyum misterius, "Mau nampung barang-barang yang udah bosen lo pakai."