Diksa terduduk di lantai depan pintu UGD. Di dalam sana, Elin tengah di tangani oleh Dokter.
Pria itu tak henti-hentinya merapalkan do'a kepada Yang Maha Kuasa agar istrinya di beri keselamatan.
Tak lama kemudian pintu UGD terbuka menampakkan seorang wanita berjas putih, yaitu seorang dokter yang menangani Elin.
Diksa pun segera berdiri dengan tergesa-gesa menghampiri Dokter tersebut. Rasa khawatir Diksa semakin menjadi kala melihat wajah Dokter itu yang nampak tak mengenakkan. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Bagaimana keadaan istri saya?! Dia baik-baik saja kan?!!"
Dokter itu hanya diam dengan pandangan sendu, "Sebelumnya saya minta maaf.."
"M-maksud anda?"
Dengan sekali hembusan nafas Dokter itu mulai melanjutkan ucapannya, "Maaf istri anda tidak dapat kami selamatkan karena pendarahan yang cukup parah."
Diksa hampir tumbang, untung saja dengan sigap Reynand menopang tubuh pria itu.
"JANGAN BERCANDA!!!! DIA TIDAK MUNGKIN MENINGGALKAN SAYA!!!!" Diksa berteriak kesetanan, lalu berlari ke dalam untuk mengecek keadaan sang istri. Ia hanya ingin memastikan jika Elin baik-baik saja.
Reynand pun ikut masuk lantaran takut Diksa berbuat nekat.
"Sayang ayo bangun, nanti kalau kamu udah sembuh kita jalan-jalan," ucap Diksa dengan mulut bergetar sembari menatap wajah istrinya yang sudah memucat dan mata yang terpejam erat. Kemudian pandangannya beralih ke arah perut buncit Elin, "Anak ayah baik-baik aja kan?"
Reynand berjalan mendekat kearah Diksa, kemudian mengelus pundak pria itu pelan, "Tuan harus sabar, biarkan istri anda tenang di sisi Allah."
"Maksud kamu apa Rey? Elin masih disini bersama saya.." Diksa tertawa dengan air mata berlinang.
Reynand memejamkan matanya hingga satu bulir air matanya sukses terjatuh, dadanya berdenyut sakit saat melihat Diksa seperti ini. Apalagi Reynand sudah menganggap Diksa layaknya saudara sendiri.
"Sayang kapan kamu bangun? Aku nungguin kamu disini."
"Tuan, saya mohon jangan seperti ini."
Diksa menatap Reynand sendu, disertai dengan isakan lirih, "Kenapa Elin tidak mau bangun Rey...apa dia tidak merindukan saya?"
Diksa menarik kasar kerah Reynand, "JAWAB SAYA REY?!!"
"SADAR TUAN, ISTRI ANDA SUDAH MENINGGAL!!!!" teriak Reynand menyadarkan Diksa.
Cekalan Diksa pada kerah Reynand mulai mengendur, tubuh Diksa merosot hingga terduduk di lantai. Pria itu menangis sejadi-jadinya.
"BANG!!! BANG DIKSA!!!"
Mata Diksa yang tadinya terpejam, kini langsung terbuka dengan nafas terengah-engah. Pandangan Diksa mengedar, ia menemukan Reynand dan Ilham yang sedang berdiri tepat di samping ranjangnya sembari menatap nya bingung. Jadi, ternyata ia hanya bermimpi, tapi entah kenapa mimpi itu terasa sangat nyata.
"Lo kenapa sih bang? Teriak-teriak, bikin kaget aja." Tangan Ilham terulur menyentuh dahi Diksa. Ia sempat mengira jika Diksa demam karena pelipis pria itu mengeluarkan keringat, padahal cuaca saat ini lumayan dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELDIKSA [End]
Romance[Komedi-Romantis] Bagaimana jadinya jika seorang Duda muda kaya raya tertarik pada gadis SMA? "Saya suka susu kamu." "Hah?!" "Eh--maksudnya susu buatan kamu." Penasaran dengan kelanjutannya? Mari intip kelakuan si bucin tolol, Aldiksa Diningrat. [F...
![ELDIKSA [End]](https://img.wattpad.com/cover/306262458-64-k649451.jpg)