Lo harus selalu terlihat cantik!

23 3 21
                                        

Biru kembali ke kelas. Nafasnya tak teratur. Masih terngiang-ngiang perkataan Adibrata tadi. Bahkan rangkulan di pinggangnya tadi masih membuat Biru jijik. "Gue benci, benci," Biru mengentak-entakkan kaki di bawah mejanya.

"Maafin gue ya Bi.." Indah mencoba menenangkan Biru. Wajahnya tak kalah sebal mengingat kelakuan Adi tadi.

"Gue gak apa-apa," lirihnya dengan suara berat menahan tangis. Ini pertama kali pinggangnya tersentuh laki-laki. Itu pun laki-laki tak beradab seperti Adi.

"Maaf," lirih Indah lagi.

Di sudut sana, Langit memperhatikan Biru sedari tadi. Dia tahu ada yang tidak beres.

"Ga, Indah dari mana?" tanya Langit kepada Rega.

"Tadi gue liat ke perpus. Gak tau setelah itu," jawab Rega seadanya.

"Nanyain Indah atau temannya Indah?" sambung Rega menggoda.

"Lo mau gue suka sama Indah?" jawab Langit ketus.

"Apa-apaan ini. Awas ya lo sampe nikung gue di pertigaan. Lo gue end! ujar Rega sedikit memanas.

"Cih, siapa juga yang suka sama gebetan lo," Langit membetulkan posisi duduknya lalu melipat kedua tangan di atas dadanya.

"Lo gak maju lagi Lang? Siapa tahu sekarang Biru mau nerima lo? Heran gue, bisa tahan lo ya pura-pura cuek gini," tembak Rega yang jelas tahu Langit sangat menyukai gadis itu.

Langit menarik nafas kasar. Mencoba santai dan bersandar di kursi. Matanya tertuju kepada gadis berkulit putih itu.

"Gue maju atau diam aja, dia bakal tetap jadi milik gue," ucap Langit percaya diri.

"Ha ... beneran? Gimana caranya? Lo pake pelet ya?" tanya Rega dengan suara berbisik.

"Enak aja lo bilang! Udah ah, oneday gue akan cerita," Langit bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Rega dengan senyum di ujung bibirnya.

"Jangan terlalu yakin. Ntar disambar orang," teriak Rega pada Langit. Dasar ... kadang orang terlalu ganteng juga gak bagus...gengsinya kegedean. Sok mau diamin Biru. Padahal dia sendiri yang susah menahan rindu.

Langit berdiri di ambang pintu. Menajamkan pendengarannya. Ekor matanya melihat Biru yang seperti sedang dibujuk Indah. Apa dia nangis lagi? Langit semakin memperjelas penglihatannya. Langit gusar. Please Bi jangan nangis!

Suasana kelas terasa lengang. Sebagian siswa masih ada yang belajar di perpustakaan. Sebagian lagi mungkin juga nongkrong di kantin.

"Bi, sudah dong marahnya," Indah merebut kertas yang sedang dicoret-coret Biru. Sebuah gambar abstrak yang mewakili pikiran Biru. Persis seperti gambar benang kusut. "Apa perlu kita laporkan dia ke Kepala Sekolah?" tambah Indah.

"Gak usah. Nanti bokap gue tahu, gue bisa homeschooling mulai besok. Gue gak mau." Itu syarat dari Agung agar Biru mau menerima pengawal yang dikirimnya.

Langit terkejut, "Siapa yang mau dilaporkan? Dan untuk apa?" Langit duduk dibangku dekat dia berdiri tadi. Membuka ponsel seolah mencari sesuatu yang penting di sana.

Dari arah pintu Elka dan Fera masuk. Menghampiri Indah dan Biru tanpa menoleh pada Langit yang menunduk di bangku depan. Mereka tampak tergesa-gesa.

"Bi ... lo harus klarifikasi sekarang. Apa maksud gosip yang beredar di luar. Dimana-mana orang ceritain lo Bi." Elka menarik lengan Indah. Menggesernya lalu duduk pada bangku yang diduduki Indah sebelumnya. "Dasar tomboi, tenaganya tenaga kuda," Indah mencebik.

Biru dan Indah saling tatap, "Ayo, lo kasih tau gue, atau gue tau dari orang lain?" ancam Elka menunjuk Biru dengan dagunya.

"Adi ngajakin Biru pacaran. Caranya jijik banget. Pake tarik-tarik pinggang Biru segala," jelas Indah. "Masa ia Biru mau. Lihat mukanya aja baru tadi, sudah maksa ajak jadian. Psikopat kali tu anak," imbuh Indah.

Buruan Tembak Gue!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang