***
SEBELUM BACA FOLLOW DULU YA TEMAN. DAN VOTE SERTA KOMENTARNYA PASTI SANGAT DITUNGGU AUTHOR, BIAR MAKIN SEMANGAT! MAKASIH ...
"Pake yang mana ya, biru atau hitam?" Biru memilih-milih gaun pendek yang tergantung di lemari pakaiannya. Tampak juga beberapa gaun lain yang sudah terhempas di atas kasur.
"Yang ini aja deh, biar kelihatan seksiiii," Biru berputar-putar di depan cermin dengan gaun abu-abu selutut tanpa lengan. Rambutnya dikuncir tidak terlalu tinggi tapi masih memperlihatkan leher jenjangnya. Semakin sempurna dengan lipstik merah muda dan sepatu high heels tujuh sentimeter.
Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam. Tapi Elka belum juga menjemputnya. Biru sedikit geregetan tumben anak itu terlambat. Menuruni anak tangga sambil menenteng tas kecil di tangannya gadis itu menemui oma di ruang tamu.
"Biru, ada yang jemput tuh," ucap oma melirik pintu utama rumah itu.
"Siapa Oma? Bukan Om Heru atau bang Alex kan?" oma mengangkat kedua bahunya. "Liat aja sendiri," sembari berlalu dari ruang tamu. "Mungkin Elka?" pikir Biru membuka pintu utama yang berukuran cukup besar itu. Dan...
"Permisi, Anda siapa?" tanya Biru kepada laki-laki yang membelakanginya. Ia terlihat bersandar di sebuah mobil tepat di depan tangga pintu utama rumahnya. Biru bergeming. Bahu itu? Dia pernah melihat. Tapi di mana?
"Gue," orang itu menoleh kepada Biru yang masih berdiri di depan pintu.
"Langit," mata Biru terbelalak. Menelan beberapa kali salivanya. Seolah tak percaya dengan penglihatannya, tangannya ingin mengucek-ngucek kedua matanya tapi tersadar sudah dipoles maskara. Memang ini bukan pertama kalinya Langit mendatangi rumahnya. Tapi untuk malam ini kedatangan Langit sungguh mengejutkan.
"Kok lo di sini?" ucap Biru masih berdiri di ambang pintu.
"Mau jemput lo," Langit berdiri gagah dengan kedua tangannya di dalam saku celana.
"Tapi gue ..."
Kring kring....
Kalimat Biru tergantung ketika ponselnya berdering. Sebuah pesan dari Elka. "Sori Bi, gue pergi agak telat, karena nunggu mobil dipake kakak gue bentar. Lo pergi duluan aja. Jangan sampai terlambat ya, karena pembukaannya bakalan seru!" Biru menatap sedikit lama pesan itu. Sedikit kesal tapi apa daya namanya juga hendak menumpang. Ponsel itu disimpan kembali dalam tas tangan kecil yang digenggamnya. Matanya kembali pada Langit yang menatapnya lekat. Benarkah malam minggu ini akan ia habiskan bersama Baraka Langit? Biru menahan senyumnya. Dan Langit menyukai itu. Setelah berpamitan dengan oma dan Lisa, Biru menutup pintu rumahnya lalu berjalan mendekati laki-laki yang akan membawa jantungnya berlarian tak menentu.
"Ayo berangkat." Langit berjalan menuju pintu penumpang. Membukakan pintu dan mempersilahkan Biru masuk. Sekilas matanya menilai penampilan cantik Biru malam ini.
"Bi, lo gak pernah tanya kenapa gue selalu lepasin kuncir lo selama ini?" Langit mendekatkan dirinya pada Biru yang semakin mematung. "Karena gue cantik dengan rambut terurai?" tebak Biru terbata-bata. Gadis itu sangat ingat dengan kalimat andalan Langit yang menyenangkan hatinya.
Langit tersenyum. Lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Biru sambil menarik kunciran itu. "Gue gak suka leher putih lo dilihat orang lain!" bisiknya.
"Ha ..." Biru terperangah. Langit kah ini? Bisikkan itu mengunci Biru pada tatapan Langit yang begitu bermakna. "Masuk!" Akhirnya suara Langit mengembalikan kesadaran Biru.
Suasana di dalam mobil begitu hening dan canggung. Hanya suara mesin mobil dan klakson dari kendaraan-kendaraan lain yang ikut menemani perjalanan mereka menuju malam PENSI. Langit terlihat hanya fokus dengan kemudinya walau di kepalanya sudah berhamburan kalimat-kalimat indah yang tertahan. Sedangkan Biru, sibuk membujuk jantungnya yang berlarian sejak Langit menarik kunciran rambutnya. Sudah, lupakan pertengkaran kemarin. Anggap itu manisan buah dalam perjuangan cinta ini. Dan untuk puisi Biru, mungkin sikap manis Langit malam ini adalah jawaban untuk puisi itu. Biru masih yang terpilih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Buruan Tembak Gue!
RomanceCinta itu tak pernah bergeser sedikit pun sejak ia menatap mata sayu gadis itu. Baraka Langit, berjanji akan menaklukkan calon tunangannya sendiri tanpa membawa label di jodohkan. Dan gadis bermata indah itu adalah Biru Pramana. Penakluk sang kapten...
