Suara kelas berangsur sepi. Jam pelajaran telah usai lima menit yang lalu. "Jadi lo pulang naik ojek Bi?" Elka berdiri di samping mejanya menatap Biru yang sedang memesan ojek online.
"Ehm ... bukan hanya pulang, pergi juga naik ojek," Biru berdiri, lalu merangkul bahu Elka dengan senyum terselip di ujung bibirnya. "Jangan sewot gitu, besok-besok lo boleh antar gue pulang. Tapi hari ini, gue pulang sendiri aja dulu. Mau kenalan dengan jalan sepanjang sekolah. Jadi kalo suatu hari gue pergi sendiri, gue gak akan tersesat," tambah Biru lagi. Yang benar saja, Biru hanya ingin menikmati hari-hari sekolahnya dengan pergi dan pulang seorang diri. Tanpa pengawalan ataupun sopir pribadi. Hal yang berbeda dengan dirinya sewaktu bersekolah di Jakarta. Asiiik! Biru sudah tak sabar menjelajah.
"Baiklah ... lo hati-hati ya. Kalo ada apa-apa telepon polisi aja!" kelakar Elka lalu berjalan bersama meninggalkan ruang kelas.
"Ya jelas gue telepon polisi. Tapi gue cari polisinya yang ganteng dulu!" Biru berhasil membuat Elka berkacak pinggang di depannya.
"Oh pantesan tadi lo cuekin Pak Haris. Ternyata lo ngincer pak polisi ganteng ya? Kasian loh. Pak Haris sudah usaha banget deketin lo tadi," kenang Elka saat guru Bahasa Inggrisnya memburu Biru dengan banyak pertanyaan. Untung ada bisikan Fera sang ahli bahasa inggris.
"Elkaaaa!" Hampir saja sebuah cubitan kecil mendarat pada pinggang Elka kalau saja si tukang kepo itu tidak cepat berlari kecil meninggalkan Biru.
"Gue duluan ya ..." pekiknya dengan lambaian tangan menuju tempat parkir.
Biru terus melangkah menuju keluar area sekolah. Melewati gerbang tinggi yang bergandengan dengan pagar yang tak kalah tingginya. Tapi tiba-tiba matanya menyipit, baru saja kakinya menginjak lantai trotoar di depan sekolah, sebuah klakson mobil membuatnya harus menoleh pada si pemilik mobil. "Biru, kamu pulang ke mana?" Haris, guru Bahasa Inggris menyapanya dari dalam mobil.
"Ehm ... " Belum sempat Biru menjawab, Haris kembali bertanya dengan mobilnya yang semakin mendekat. "Saya antar ya?" Itu tawaran yang membuat bulu kuduk Biru berdiri. Sungguh gadis itu tak menduga Haris akan menawarkannya sebuah tumpangan. Padahal banyak siswa lain yang berdiri di sekitar trotoar. Haris seolah tak melihat.
"Maaf Pak. Saya ..." Biru menggantungkan kalimatnya. Kepalanya masih belum bisa berfikir cepat saat ini. Jika ditolak, apakah akan berpengaruh dengan nilai Bahasa Inggrisnya nanti? Tapi kalau ia menerima tumpangan itu, 'Ih anak baru itu mau aja berduaan dengan guru. Mau dompleng nilai kali'. Biru menggelengkan kepala membuyarkan pikirannya yang sudah jauh melesat.
"Kita jadi pulang bareng kan?" Langit sudah berdiri tepat di samping Biru hingga bahu mereka saling beradu.
"Apa?" lirih Biru tanpa suara yang bisa didengar Haris.
"Kita jadi pulang bareng kan?" Langit mengulang kembali pertanyaannya. Wajah datarnya menoleh pada Biru yang sudah kebingungan saat ini. Tentu saja si gadis berponi itu bingung dengan cowok yang seperti benda ajaib keluar tepat waktu dari kantong Doraemon. Tapi itu bagus. Biru tidak perlu menjawab tawaran Haris karena laki-laki matang itu segera menaikkan kaca mobilnya. Sebuah klakson perpisahan dari Haris tanda dia pergi lebih dulu.
"Terima kasih ..." Biru menunduk tak berani menatap wajah cowok yang baru saja menyelamatkannya. Dia yakin, jika dia melihat wajah tanpa banyak ekspresi itu, dia ragu akan tetap memegang teguh prinsipnya, jangan mudah jatuh cinta! Kalimat sakti yang selalu Biru ucapkan dalam hati setiap kali ada cowok yang mendekatinya.
Bukannya menjawab, Langit memilih berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya. "Dasar jus wortel!" decak Biru memegang dadanya yang berdetak tak berirama lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Buruan Tembak Gue!
RomansaCinta itu tak pernah bergeser sedikit pun sejak ia menatap mata sayu gadis itu. Baraka Langit, berjanji akan menaklukkan calon tunangannya sendiri tanpa membawa label di jodohkan. Dan gadis bermata indah itu adalah Biru Pramana. Penakluk sang kapten...
