Hujan deras sudah berakhir. Hanya menyisakan udara dingin dan genangan air di beberapa ruas jalan menuju sebuah rumah mewah bergaya minimalis. Mobil Langit baru memasuki garasi rumahnya pukul delapan malam. Tubuhnya tampak lelah. Rentetan peristiwa begitu memompa jantungnya lebih kencang hari ini. Semua berhubungan dengan Biru. Gadis berponi yang jika ia melihatnya, Langit begitu ingin memeluk. Yang jika itu tentangnya, Langit bisa berbicara banyak. Dan jika ada air matanya, Langit begitu ingin melindungi. Ah cinta!
"Biarkan papa dan om Agung menyelesaikan semua ini. Tetaplah di sampingnya. Tidak menutup kemungkinan orang yang menjadi buronan Om Agung yang melakukan semua ini. Mereka ingin konsentrasi Agung pecah hingga mereka bisa dengan mudah melakukan kejahatannya selama ini," pesan Heru saat Langit menghampirinya sepulang dari rumah Biru.
Langit mendengus kesal. Ia memutar-mutar lehernya sekedar meringankan sedikit penat di kepalanya. Mengapa nasibnya dan Biru sama. Selalu terancam oleh penjahat-penjahat yang di kejar Heru dan Agung. Seakan tak peduli hukum di negara ini, para pelaku kejahatan akan melakukan berbagai cara agar mereka tak tertangkap. Benar kata papanya dulu. Kalau bisa, tidak perlu mengumbar jati diri kepada orang lain. Karena bisa jadi mereka akan memanfaatkan keadaan itu.
"Selamat malam Den," sapa Pak Seno satpam yang bekerja di rumah Langit.
"Malam Pak," balas Langit berjalan menuju pintu utama. Sekilas matanya melihat sebuah mobil yang sangat ia hafal siapa pemiliknya.
"Dasar penjilat," rutuk Langit memalingkan wajahnya dari mobil itu.
"Assalamualaikum," salam Langit pada siapa saja yang pertama kali ia temui di dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab seseorang yang berdiri menyambut kedatangan Langit di ruang tamu.
Sempat terkejut dengan apa yang dilihatnya, tapi Langit berusaha menahan diri dengan tidak menatap wajah lawan bicaranya lagi. Langit bergegas menuju kamarnya dengan wajah sebal dan tangan yang ia kepal keras.
"Sayang, kamu baru pulang? Bagaimana keadaan Biru?" tanya Ayunda yang menghampirinya dengan sebuah nampan berisi makanan ringan dan dua cangkir teh yang ia bawa dari dapur.
"Biru baik. Sudah Langit antar pulang," jawab Langit sambil menatap nampan di tangan Ayunda.
"Oh syukurlah. Minum teh yuk sama mama dan Adi. Dia datang mau ketemu kamu," Ayunda berucap dengan nada semanis mungkin agar Langit menuruti keinginannya untuk duduk bersama.
"Maaf Ma, Langit cape. Mau istirahat," balas Langit dan melangkahkan kakinya menuju anak tangga.
Wajah Ayunda menunduk kecewa. Ia tahu Langit akan menolak ajakannya. Namun usaha untuk mendekatkan Langit dan Adi selalu saja dicoba. Tak pernah sekalipun ia melihat Langit dan Adi duduk bersama sekedar bicara hobi atau membahas teman wanitanya seperti kebanyakan anak laki-laki sebaya yang lain. Yang selalu saja terlihat sejak mereka kecil hingga sekarang hanyalah pertengkaran.
"Lang, gue mau minta maaf," ucap Adi menghentikan langkah Langit dengan kalimat halusnya.
Langit seketika membalikkan separuh badannya tanpa menatap Adi yang sudah berjalan kian mendekat.
"Cih, mimpi apa lo minta maaf?" ucap Langit tak menganggap serius permintaan Adi.
"Gue gak sengaja kesenggol kaki lo kemarin," ucap Adi menengadahkan wajahnya mengarah pada Langit yang berdiri di anak tangga.
"Sayang, apa kamu jatuh? Apa ada yang sakit?" Ayunda menelisik tubuh anak tunggalnya. Ia sama sekali tak mengetahui masalah itu. Yang Ayunda tahu Langit bertanding basket untuk masuk Tim Nasional dan tidak pulang karena menginap di rumah Rega.
KAMU SEDANG MEMBACA
Buruan Tembak Gue!
Roman d'amourCinta itu tak pernah bergeser sedikit pun sejak ia menatap mata sayu gadis itu. Baraka Langit, berjanji akan menaklukkan calon tunangannya sendiri tanpa membawa label di jodohkan. Dan gadis bermata indah itu adalah Biru Pramana. Penakluk sang kapten...
