Tenggelam Di hati Kamu

27 4 13
                                        

Pukul 15.15 WIB.

Biru sibuk menyiapkan keperluan renangnya. Mulai dari kacamata, baju ganti dan benda-benda kecil keperluan cewek lainnya sudah masuk dalam tas parasut hitam. Tidak lupa baju renang yang sudah dipakainya dilapis kaos putih dan celana jeans pendek. Sepertinya topi putih yang dibelikan tante Lisa minggu lalu penyempurna penampilannya sore ini. Biru tersenyum tipis. Di depan kaca hiasnya, ada pantulan wajah yang mirip sekali dengan Lestari. "Pantas papa bilang gue jelmaan mama. Mirip banget!" lirihnya sambil mengurai rambut yang bertopi itu.

Drettt ... drettt ... suara pesan masuk pada ponselnya.

"Buruan keluar, gue di depan," ketik Elka pada pesan singkatnya.

"Yoi," Huffff ... sopir andalan Geng Komik telah tiba.

"Oma Biru pamit," ucap Biru pada oma yang menghadangnya di depan pintu.

"Ingat hati-hati. Alex lagi keluar kota." Peringatan oma yang tidak sedikit pun mengurangi kekhawatirannya.

"Siap Ibu Mertua Komandan!" hormat Biru selayaknya upacara bendera di hari Senin.

Di depan rumah sudah terparkir mobil merah Elka. Gadis tomboi sang pemilik mobil tampak menyisir rambutnya di depan kaca spion. "Harusnya gue cepak aja nih rambut. Cepat banget panjangnya," lirihnya. Bagi Elka, selagi hatinya masih perempuan, tidak ada yang boleh protes jika penampilannya seperti laki-laki. Kalau calon suami? "Gue akan pake rok andai gue dilamar cowok berkuda putih."

"Hei, kok gak telepon aja sih. Ribet banget pake ketik-ketik pesan," Biru mengeluh saat menaiki mobil Elka.

"Pulsa gue kritis, gak cukup buat nelpon," jawab Elka sambil melajukan kemudinya dengan kecepatan sedang. Tak lama mereka tiba di lokasi tempat pengambilan nilai renang. Di sana sudah menunggu Indah dan Fera yang sama-sama di jemput oleh Rega lebih awal.

"Hai Bi, kaki lo sudah sembuh?" tanya Fera sembari matanya menelisik kaki Biru yang kemarin sempat bengkak.

"Sudah agak mendingan. Gue rasa sekedar berenang bisa lah. Gue gak mau ambil nilai susulan, bakal gabung sama kelas lain. Lagian kan tadi gue gak sekolah jadi cukuplah buat gue istirahat," jelas Biru diikuti anggukan Indah dan Fera.

"Baguslah," lirih Elka.

Suara peluit guru olahraga terdengar. Semua siswa berkumpul di sisi kolam renang untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Tak tergantikan! Langit selalu memimpin kelasnya untuk hal itu. Sejak tragedi minyak kayu putih, kelas IPA 1 kembali riuh oleh pasangan fenomenal mereka 'LANGIT BIRU'.

"Ayolah Bi, bantu kami jadi Tim Kawal Sampai Jadian lagi," pekik salah seorang dari barisan paling belakang.

"Kalo lo gak mau paling depan nanti Intan nyosor lagi. Lo mau?" bisik Indah menghasut.

Biru yang tak kuasa badannya di dorong-dorong akhirnya menurut. Sesekali ia meringis. Ternyata kaki itu masih ngilu diajak berjalan. Tapi harus diabaikan. Hari ini harus mendapatkan nilai!

Biru sudah berbaris paling depan. Berhadapan langsung dengan pawang hatinya. Langit melempar senyum. Tapi Biru membuang wajahnya. Sungguh jika mengingat Intan memeluknya kemarin, Biru masih cemburu.

Biru menekuk satu kakinya ke belakang dan kedua tangannya direntangkan. Sedikit tidak seimbang, Biru goyang dan hampir terjatuh. Langit memang selalu ada untuk Biru. Tangannya dengan sigap menangkap tangan Biru yang limbung. "Cie ... cie ..." sorak IPA 1 kompak. Sementara di salah satu barisan lainnya, "Ciiih," Intan sangat membenci keaktifan kelasnya menjodohkan Biru dan Langit.

"Ayo ayo ambil posisi sesuai absen," suara guru olahraga membubarkan barisan. Beberapa siswa dengan absen di awal memulai lebih dulu. Ada beberapa gaya renang yang diuji pada pengambilan nilai kali ini. Biru tenang. Kemampuan berenangnya tidak usah diragukan. Bahkan Biru pernah menjuarai lomba renang di sekolahnya yang dulu.

Buruan Tembak Gue!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang