SETELAH MEMBACA, PERKENANKAN JEMARI KALIAN UNTUK MENDUKUNG KARYA INI DENGAN VOTE, KOMEN DAN SHARE. MARI SAMA-SAMA SALING MENDUKUNG...
APRESIASI KALIAN AKAN SANGAT BERARTI BAGIKU
PLEASE FOLLOW JUGA INSTAGRAM AKU@dia.purnama.9
UNTUK INFO-INFO YANG AKU TULIS. THANK YOU SEKEBON JERUK GAIISSS...
**********
Kamar di ujung lorong rumah besar itu selalu tampak gelap. Hanya dimasuki sedikit cahaya dari sela-sela jendela. Malam itu, seorang anak kecil laki-laki memberanikan dirinya kembali. Ia membuka pintu besar kamar yang tak bisa ia masuki semau hatinya. Sunyi ... sangat sunyi. Ada bau pengap yang menyeruak. Sudut-sudut dindingnya pun dibiarkan berdebu dan disinggahi sarang laba-laba. Sungguh ironi dengan kamar lainnya yang terdapat di rumah mewah itu.
Tangan-tangan kecil miliknya meraba-raba dinding sebagai penunjuk jalan. Langkahnya pun sangat hati-hati. Bahkan hembusan nafasnya dilarang terdengar di sana. Anak itu berhenti. Memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian yang hilang timbul. Aku harus mencoba lagi! Ia bergumam sambil meremas ujung sweaternya.
Sreeetttt ... suara sobekan kain. Anak kecil itu ternganga. Ada darah dari pergelangan tangan yang dilihatnya. Hanya bisa diam. Tak berani berbuat apa-apa. Lalu tampak luka itu ditutup oleh kain kecil dari baju yang sobek. Bahkan tangan yang menutup luka baru itu pun berbekas luka yang sudah kering.
Seorang wanita yang berulang-ulang kali menyayat nadinya lalu menutupnya kembali. Dia hanya mencari rasa sakit dari luka itu. Lalu mengobatinya kembali. Itu nikmat katanya! Lebih nikmat dari pada langsung memotong nadinya sampai putus lalu mati seketika.
"Sudah aku katakan, jangan pernah masuk ke tempatku." Suara wanita itu dingin. Bahkan lebih dingin dari kamar yang tidak pernah dimasuki sinar matahari itu.
"Mama!" Dia memanggil dengan takut. Tak ingin wajahnya dilempari gelas kaca seperti terakhir kali ia memasuki kamar itu.
"Jangan panggil aku mama! Aku tidak pernah menginginkan kau menjadi anakku. Karena kehadiranmu di dalam perutku, aku harus menikah dengan tua bangka itu." Wanita yang selalu berpakaian putih panjang itu menyibakkan rambut panjangnya yang terurai tak terurus. Anak itu memundurkan langkahnya. Sedikit ada ragu untuk terus menghampiri ibu yang sangat ia rindukan itu. "Mama, lihat aku Ma ..." lirihnya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Pergi! Pergi ...," pekiknya menggelegar lalu menghampiri anak itu. Mencengkeram dagunya dengan kuat. "Kau tahu, aku sangat membencimu. Jangan pernah datang lagi!" Dihempasnya wajah anak itu dengan kasar. Kembali menangis. Anak itu meraba dagunya yang tergores kuku panjang milik wanita yang dipanggilnya mama itu.
"Mama ... jangan benci aku Ma ..." Dia merangkak mengejar langkah wanita di hadapannya. Terseret-seret ... karena tak dihiraukan.
"Lepaskan aku anak bodoh. Lepaskan!" Bruuuk ... tubuh kecil itu terpental hingga keningnya terbentur sudut meja.
"Tuan Muda ..." seorang asisten pribadi datang dari balik pintu. Ia berjongkok meraih tubuh yang terhempas itu. "Anda baik-baik saja tuan?" matanya menelisik setiap bagian tubuh tuan mudanya. "Mama ... aku rindu Mama. Jangan benci aku Mama." Kedua bahunya bergetar hebat. Tangisnya pun semakin menjadi.
Aku ingin kita berteman. Berlari-lari di taman. Dan bermain puzzle bersama. Sayangi aku Mama..
Di hadapannya, wanita itu hanya diam kembali pada tempat semulanya. Duduk di bibir ranjang dengan pandangan kosong. Dan sesekali bernyanyi seolah tak ada kejadian apa pun. Dia lupa sudah menghempas anak laki-laki tampan yang pernah dikandungnya.
"Ayo Tuan Muda. Kita harus ke pesta ulang tahun Tuan Muda Langit. Eyang Putri sudah menunggu di sana." Anak itu bangkit dibantu asisten pribadinya.
"Siapa nama anak itu?" tiba-tiba wanita itu bertanya tanpa menoleh sedikit pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Buruan Tembak Gue!
RomanceCinta itu tak pernah bergeser sedikit pun sejak ia menatap mata sayu gadis itu. Baraka Langit, berjanji akan menaklukkan calon tunangannya sendiri tanpa membawa label di jodohkan. Dan gadis bermata indah itu adalah Biru Pramana. Penakluk sang kapten...
