HAI SEMUANYA...BAGAIMANA KISAH LANGIT DAN BIRU YANG UWU-UWU BIKIN HATI KAMU IKUT UWU-UWU GAK? SEMOGA SAJA YA TEMAN-TEMAN...
JANGAN LUPA TETAP DUKUNG CERITA INI DENGAN VOTE, KOMEN DAN SHARE SEBANYAK-BANYAKNYA. MARI KITA SALING MENDUKUNG...
KUNJUNGI JUGA INSTAGRAM AKU @dia.purnama.9 TERIMA KASIH...
Biru menghempaskan tubuh lelahnya di kasur empuk itu. Seolah tak ingin bangun untuk menghadapi malam ini. Ia berputar-putar hingga tubuhnya tergulung selimut tebal lalu berteriak melepaskan ketegangan di dalam otaknya. Sesekali juga ia menyembulkan kepalanya dari dalam selimut. Hatinya gusar. Papa Agung tiba-tiba datang. Ditambah lagi suasana rumah yang sudah bertaburan bunga dan lampu-lampu hias membuat jantungnya berdenyut tidak sehat.
"Apa benar malam ini aku akan bertemu orang itu?" lirih Biru. Agung sudah mengatakannya saat pertama bertemu di ruang keluarga tadi. Tak ingin berdebat, Agung seolah tuli dengan keinginan Biru yang juga ingin memperkenalkan Langit pada papanya.
"Aku harus menelepon Langit." Tangan gemetarnya mencoba menghubungi Langit beberapa kali. Tapi gagal. Mungkin Langit benar-benar sibuk saat ini. Biru menarik nafasnya sedalam mungkin. Apa lagi yang harus ia lakukan.
"Oh ya Geng Komik." Jari-jarinya membuka ponsel itu kembali dan mencoba menghubungi Elka.
"Halo Bi," sahut Elka dari seberang sana,"
"Ka, gue mau lamaran malam ini!"
Tok...Tok... Tok...
"Bi," panggil Lisa dari balik pintu kamar.
Biru membiarkan Lisa masuk ke kamarnya dengan dua orang perempuan yang tidak dikenalnya. Satu di antaranya menenteng tas besar yang Biru yakin isinya adalah kosmetik. Dan satu orang lainnya menenteng kebaya berwarna hijau muda lembut yang lengkap dengan kain batiknya.
"Kamu dandan dulu. Ini sudah magrib. Acaranya setelah salat isya nanti. Jangan pikirkan yang lain lagi." Lisa mengusap punggung Biru yang terdiam. Adakah yang bisa ia lakukan untuk menolak semua ini?
"Tante bilang jangan pikirkan yang lain lagi? Lalu bagaimana Langit? Apa Biru tidak boleh memikirkan Langit?" lirih Biru sambil menangis.
Lisa tersenyum. "Pikirkan dia hanya di kepala kamu aja. Karena kamu akan terkejut saat melihat orang yang akan melamar kamu malam ini? Dia lebih tampan dari Langit." Biru menutup matanya rapat. Seolah tak ingin mendengar apa pun lagi. Mengapa begitu mudah Lisa mengatakan seperti itu. Bukankah Sikap oma dan tantenya selama ini tampak begitu mendukung hubungannya dengan Langit. Biru terisak.
Azan Isya sudah berkumandang. Ini waktunya acara lamaran itu akan dimulai. Biru duduk termenung dengan tatapan kosongnya. Tak peduli Elka, Fera dan Indah yang sudah menemaninya usai berdandan tadi.
"Sudahlah Bi, senyum dong. Ini hari bahagia kamu. Mukanya jangan ditekuk seperti itu," ucap Indah sesekali meremas jemari Biru yang terasa dingin.
"Kalian tidak di posisi aku. Kalian tidak akan tahu rasanya," balas Biru dengan tatapannya masih lurus ke depan.
"Kalo gue jadi lo bi, gue udah loncat-loncat bahagia di kasur. Karena apa? Karena gue bakal dilamar sama ..." Elka sudah mencubit pinggang Fera yang hampir lepas kendali.
"Jangan berisik. Acara akan dimulai," ucap Indah membungkam mulut Fera.
"Andai aja lo tahu nama siapa yang gandengan sama nama lo di rangkaian bunga besar itu Bi." batin Fera mengingat keterkejutannya saat memasuki halaman depan rumah oma. Dua nama itu tertulis sangat besar. Jelas mata rabunnya sekali pun masih bisa melihat itu nama siapa.
Suara panggilan Lisa dari balik pintu semakin mendebarkan jantung Biru. Akhirnya saat ini tiba. Ia akan bertemu dengan laki-laki yang diamanatkan oleh sang mama. "Biru akan berbakti sama Mama!" Kalimat yang saat ini menguatkan Biru dalam kepasrahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Buruan Tembak Gue!
RomanceCinta itu tak pernah bergeser sedikit pun sejak ia menatap mata sayu gadis itu. Baraka Langit, berjanji akan menaklukkan calon tunangannya sendiri tanpa membawa label di jodohkan. Dan gadis bermata indah itu adalah Biru Pramana. Penakluk sang kapten...
