Lampu rumah tampak masih banyak menyala. Biru tahu persis, oma pasti akan menunggunya di ruang keluarga sambil menyulam taplak meja yang tidak pernah selesai. Apalagi sekarang baru jam sembilan malam. Oma pasti setia dengan minyak gosok penghangat kakinya yang selalu kumat ngilu saat malam beranjak.
"Gue pamit ya," ucap Langit untuk kesekian kalinya.
"Buruan ah. Dari tadi gak jadi-jadi. Ntar oma marah nih kelamaan di luar," Biru merengek sambil mendorong pelan tubuh Langit ke arah motor.
"Tenang aja. Oma gak bakal marah. Tadi kan gue udah ketemu oma. Oma baik-baik aja kok sama gue," ucap Langit masih berdiri di sisi motornya.
"Buruan!" Kali ini Biru sedikit memaksa dengan memasangkan helm pada Langit.
"Ya udah deh. Gue pulang. Besok-besok jalan yuk. Kan oma gak marah kalo lo jalannya sama gue." Seakan tak ingin menyia-nyiakan sedetikpun kebersamaannya bersama Biru, Langit terus saja memperpanjang percakapannya.
"Gue gak janji." Wajah merah jambu itu sudah sulit disembunyikan Biru. Cowok ini benar-benar berjuang keras. Sikap ramah oma menyambutnya tadi dianggap sebagai lampu hijau untuk maju terus pantang mundur.
Langit menaiki motornya lalu menoleh pada Biru yang sudah berdiri di ambang pintu rumah. "Selamat malam calon istri," kali ini cowok itu mengakhirinya dengan manis. Meninggalkan jejak kedipan matanya pada Biru yang sudah terdiam tak mampu merespon apa pun lagi. Biru terlalu terkejut. Hari ini Langit hadir dalam versi yang berbeda.
Buuukkk ... suara pintu mobil yang sudah terparkir sempurna di depan pintu rumah. "Hei anak Lestari Pramana! Ngapain senyum-senyum sendiri di luar? Dan itu motor siapa?" Lisa turun dari mobilnya. Menyapa keponakannya dengan deretan pertanyaan. Dia yakin pemilik motor yang baru saja meninggalkan rumahnya itu adalah penyebab senyum Biru berhamburan di tengah malam ini.
"Teman Biru Tante," jawab Biru lalu berbalik badan berjalan mendahului langkah Lisa.
"Teman atau teman?" Lisa mulai mencurigai sesuatu saat menelisik penampilan Biru yang belum memakai pakaian rumahan hingga jam segini.
"Temaaaaan ... Tante sayang," Biru menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Tapi buru-buru Lisa menarik tangan Biru yang menempel pada pegangan tangga. "Ingat pesan Papa Agung!" kalimat itu menghentikan detak jantung Biru yang sedari tadi berkejar-kejaran saat bersama Langit. Wajahnya tertunduk lesu. Kakinya pun melangkah dengan lemah. Tak ada yang bisa merubah semua keputusan papanya. Perasaan jatuh cinta yang baru saja Biru rasakan harus tersimpan kembali tanpa berani ia tampakkan lagi.
"Aaahh ..." Biru berlari menuju kamarnya membanting pintu dengan keras lalu menghempaskan tubuhnya pada kasur. Wajahnya sudah bersembunyi di balik bantal. Berteriak sekeras-kerasnya dengan suara yang tertahan oleh bantal. Hatinya serasa dipermainkan.
Setelah merasa puas berteriak dibalik bantal, Biru duduk di tepi ranjangnya dengan linangan air mata. "Kenapa sih Ma, Biru gak boleh mencintai Langit? Kenapa bukan Langit aja yang dijodohkan buat Biru?" lirihnya menatap bayangannya sendiri pada cermin yang berdiri di sebelah lemari.
"Dia cinta pertama Biru Ma. Dia yang bikin hidup Biru semangat lagi," gumam Biru seolah sedang bercerita kepada mamanya. Gadis itu akhirnya meluapkan segala isi hatinya selama ini. Benar, dia sudah jatuh cinta pada Langit yang berwajah datar. Benar, dia mengagumi Langit yang tidak sembarangan menyentuhnya. Cuma senyum Langit yang merajai setiap lamunannya menjelang tidur.
Nafas Biru semakin memburu. Matanya melirik hulahop benda bundar yang bersembunyi di balik lemari pakaiannya. Ia meraih mainan itu yang sudah lama tak tersentuh. Tak butuh waktu lama, Biru memutar pinggangnya seirama dengan gerakan hulahop. Semakin ia mengingat wajah Langit, semakin kencang ia memutar hulahop itu pada pinggangnya. Tak peduli nafasnya yang sudah sesak dan keringat yang bercucuran, Biru hanya ingin menumpahkan segala emosinya pada putaran hulahop itu. Dan akhirnya......
KAMU SEDANG MEMBACA
Buruan Tembak Gue!
RomansaCinta itu tak pernah bergeser sedikit pun sejak ia menatap mata sayu gadis itu. Baraka Langit, berjanji akan menaklukkan calon tunangannya sendiri tanpa membawa label di jodohkan. Dan gadis bermata indah itu adalah Biru Pramana. Penakluk sang kapten...
