Pertandingan Sengit

29 4 15
                                        

Pagi di tempat duduk Biru. Fera dan Indah menggeram penuh kebencian. Tampak kekesalan di wajah mereka. Tak menyangka Adibrata akan senekat itu. Elka yang menceritakannya pun masih tampak murka dan mengutuk perbuatan Adi.

"Tapi Biru gak kenapa-napa kan Ka? Gak sampai tersentuh sama manusia planet itu kan?" Fera bergidik ngeri membayangkan kebuasan Adi. Keberaniannya menyentuh pinggang Biru waktu itu saja sudah bisa menjelaskan, cowok itu tak memakai akal pikirannya.

"Tenang aja. Biru tak tersentuh seujung kuku pun. Itu berkat Baraka Langit!" Elka semakin memutar badannya menghadap Fera dan Indah di bangku belakang. Dia kembali bersemangat mengingat kejadian itu. Sesekali matanya melirik Biru yang tampak tak peduli dengan cerita mereka.

"Ugh ... Langit kereeen. Emang Langit tonjok berapa kali cowok berengsek itu?" tanya Fera kembali antusias.

"Gak pake tonjok. Cukup dengan matanya yang menyilet, Adi sudah mundur," jelas Elka sambil menirukan gaya Langit saat mengacungkan jarinya pada Adi. "Jangan ganggu Biru!"

"Aa ... tu kan Song Kang gue memang keren banget," ucap Fera menatap Langit di tempat duduknya.

"Asli, kali ini gue setuju sama lo Fer. Gue bakal jadi pengagum garis keras Langit mulai hari ini." Elka mengangguk seolah sudah memantapkan pilihannya.

"Dasar cowok gendeng. Gue jadiin kambing guling baru tahu rasa lo!" Indah menggeram sambil menancapkan penanya pada meja.

"Alah, ini kan gara-gara lo minjam buku sama tu buaya. Buruan balikin, biar dia gak ada alasan ketemu Biru lagi!" sergah Elka yang tidak bisa menutupi kekesalannya pada Indah.

"Gue gak jadi pinjem Ka. Gue liat situasi juga kali. Masa demi buku itu gue korbanin teman gue!" Indah menekuk wajahnya sedikit kesal.

"Bagus kalo lo ngerti!" Elka melototkan matanya pada Indah. Memang sudah seperti itu semestinya. Persahabatan lebih penting dari sebuah ego.

Dari tempat duduknya yang menempel ke dinding, Biru tersenyum menatap Langit super hero nya kemarin siang. Cowok itu terlihat asik menggerak-gerakkan tangannya pada selembar kertas. Kali ini entah sketsa apa yang dibuatnya. Hanya memandangnya diam-diam dari sela-sela rambut yang terurai, hati Biru sudah luluh. Ibu jari dan telunjuk disatukannya hingga berbentuk hati dan diarahkannya pada Langit. "Ma kasih ya" ucap Biru dalam hati.

Elka menoleh pada gadis yang menjadi topik pembicaraan mereka pagi ini. Bibirnya sudah gatal ingin menggoda Biru yang tak henti menatap Langit dari tadi. Tapi dia bingung harus dengan kata-kata apa agar sahabatnya itu kembali sadar. Hehehe ... maaf ya Bi!

"Awas Bi ada cicak!"

**********

"Nyebelin banget!" Biru keluar dari toilet setelah membersihkan roknya yang tertumpah jus jeruk Elka di atas meja. "Cicak? Cih dasar ... dia memang tau kelemahan gue takut sama biawak kecil itu." gumam Biru. Elka berhasil membuatnya terlompat setelah bungkus coklat choki-choki di lemparkan ke bahunya tadi. "Dasar tomboi. Usilnya gak ketulungan!"

Siang itu, hujan yang mengguyur sedari pagi mulai mereda. Hanya menyisakan tetesan-tetesan kecil yang tersangkut di pohon beringin di depan sekolah. Setelah dari toilet tadi Biru langsung melangkahkan kakinya menuju basecamp Mading.

"Aku titip ini ya," ucap Biru pada salah seorang pengurus mading yang sedang mangkal di basecamp.

"Wow ... puisi lagi?" ucap gadis berambut pendek itu menerima selembar kertas dari Biru dengan antusias. "Karya kakak memang selalu kami tunggu," imbuhnya lagi. Biru tersenyum. Cuma Mading yang saat ini menjadi wadah menyalurkan hobinya. Sedangkan jurusan sastra saat kuliah nanti, akan ia pikirkan kembali demi nasihat oma.

Buruan Tembak Gue!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang