"Sialan, Lo berani mempermainkan gue? Lihat aja nanti"
Dengan wajah yang sudah memerah, Marga hanya mampu memendam amarahnya dengan kedua tangan yang mengepal.
Saat ini seluruh anak buah Marga dan Marga juga tentunya dengan sahabatnya sama Nendra, menuju ke pabrik listrik. Jujur, dalam hati Marga takut jika gadisnya akan di...... Ah sudahlah, Marga segera menepis pikiran buruknya. Ia bersumpah, jika sampai gadisnya kenapa napa, ia tak segan segan membunuh pelakunya. Mereka menuju pabrik listrik menggunakan mobil dua dan anak buah yang lain menggunakan mobil inti.
Marga menambahkan kecepatan mobilnya. Tentu saja yang di dalam mobil sangat kaget karena nyawanya hampir melayang. Dengan kecepatan diatas rata rata, bukannya takut, Marga justru merasa lambat atas laju mobilnya. Seakan perjalanan ini sangat jauh untuk ia tempuh.
******
Hari sudah semakin terik, orang orang lebih memilih untuk berdiam dirumah dengan menikmati segelas coffe dingin. Tapi tidak dengan Marga, dengan panas matahari yang menyengat tak memupuskan harapan Marga untuk menemukan gadisnya.
Nara yang malang, ia harus ikut terjebak dalam permainan. Menyesal? Ya, seharusnya malam itu ia berjaga untuk menemani gadisnya. Tapi sudahlah, ini memang sudah terjadi. Tak mungkin kan Marga mengulang waktu kembali? Itu mustahil.
Saat tahu gadisnya diculik, amarah Marga memuncak. Tak sedikit pengawal Marga yang terkena cacian maki dari Marga. Salahkan mereka yang tak becus mencari keberadaan gadisnya.
Seperti saat ini, marga dan yang lainnya telah sampai di pabrik listrik. Pabrik disini sangat sepi dan kosong. Pabrik yang tak layak dipakai, karena tutup tiga tahun yang lalu. Namun, mesin mesin disini masih layak digunakan. Walaupun terlihat usang, mesin disini masih terlihat bagus.
Kembali ke topik, Marga berjalan menyusuri pabrik listrik berharap menemukan keberadaan Nara. Marga, sahabatnya, Nendra, anak buah di markas, dan bodyguard nya berpencar untuk mengelilingi pabrik listrik yang tak bisa dibilang kecil. Nendra, Vraka,Ezra, dan Justin ikut dengannya. Sedangkan Edgar, Nathan, Alex, wisnu dan Ervin dan anak buah dengan bodyguard nya berpencar. Mereka semua lengkap dengan senjata yang Marga fasilitasi untuk Black Moon dan bodyguard nya.
Senjata memang bukan fasilitas yang wow tapi itu cukup untuk menjaga diri mereka dari serangan tak terduga.
Oke, kembali ke topik. Marga berjalan mendekati pintu tua dikuti dengan sesuai yang Marga bagi kelompok tadi. Dengan gerakan perlahan, Marga membuka pintu tua bercat coklat itu. Mereka telah bersiap siaga, siapa tahu ada seseorang di dalam sana yang langsung menembak.
Tangannya telah memegang handle pintu, dengan gerakan sepelan mungkin, Marga mulai membuka pintunya. Kosong, satu kata itulah yang mendeskripsikan didalam sana.
"Sialan!" Umpatnya dengan geraman.
Marga menyuruh Justin untuk kembali dan menutup pintu itu kembali. Marga menjauh dari ruangan itu, diikuti oleh keempatnya. Saat melewati tangga, Marga berpapasan dengan kelompok Edgar yang baru saja turun dari lantai atas.
"Gimana?" Tanyanya pada Edgar.
Edgar menggeleng. "Kita gak nemuin nara disini. Semua ruangan udah kita masuki dan..... Hasilnya nihil."
"Sialan!"
Jawaban dari Edgar adalah jawaban yang tidak mau ia dengar.
"Tuan!" Marga menoleh kearah seseorang yang memanggilnya. Dan itu semua tidak luput dari pandangan semua orang.
"Ada apa?" Tanyanya dengan dingin.
"Saya menemukan ini dimesin listrik tuan. Di amplop ini bertuliskan nama tuan. Mungkin, surat ini untuk tuan." Ujar bodyguard nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARGA DIRGANTARA
ActionDILARANG PLAGIAT DI LAPAK INI‼️ ⚠️⚠️WARNING ⚠️⚠️ ADA ADEGAN KEKERASAN‼️YANG BOCIL MINGGIR DULU🚫🚫🚫🚫 "Lo milik gue." "Hah?" "Lo milik gue sayang. Gaada yang milikkin Lo selain gue!" .................. "Ternyata gini ya, di posesif in sama ketua ge...
