Sisi lain
Osamu dan Kusuma menuju kamar mereka sekarang. Sebelum ini, mereka membantu ibu mereka di dapur untuk mempersiapkan breakfast + lunch itu.
Sehabis melewati ruang keluarga, Kusuma sedikit mengangkat rahangnya dan menatap mata Osamu yang berada di sebelah kirinya lalu bertanya,"kak Osamu ingin mandi di kamar mandi kamar atau luar?"
Laki-laki yang lebih tinggi dari Kusuma itu menatap balik Kusuma sembari menjawab,"kakak yang mana saja .."
Kusuma tiba-tiba teringat akan pouch miliknya yang berisi skincare dan make up yang masih berada di samping wastafel yang berada sangat dekat dengan kamar mandi luar. Lalu ia berkata,"kalau begitu adek mandi di kamar mandi luar."
"Okee."
Setelah masuk kamar, mereka berpisah jalan. Kusuma menuju kopernya, Osamu menuju tas back-pack nya. Selesai mengambil pakaian yang akan mereka kenakan nanti, mereka menuju kamar mandi masing-masing.
15 menit selesai mandi, Kusuma berencana menaruh pakaian kotornya itu ke dalam kopernya kembali. Tentunya dengan keadaan terpisah.
Sebenarnya bisa saja ia mencuci pakaian di mesin cuci yang disediakan. Iya, kamar hotel ini memyediakan mesin tersebut. Memang benar-benar lengkap.
Namun pengeringnya? Masa iya Kusuma harus menjemur pakaiannya di balkon atau di dalam kamar mandi? Kusuma tak mau itu.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Kusuma melihat Osamu yang sedang duduk di tepi kasurnya menutupi Atsumu yang sedang tidur dibelakangnya. Dan ternyata, Osamu juga turut menatapnya karena ada suara pintu terbuka yang diakibatkan olehnya.
Tak bergeming apapun, mereka memutuskan kaitan tatapan mata mereka dan melanjutkan aktivitas masing-masing.
Beberapa waktu kemudian, Osamu melihat Kusuma yang baru saja menutup salah satu kopernya. Ia jadi teringat akan sesuatu.
Osamu berdiri dan mendekat ke arah Kusuma dengan perasaan yang tidak sabar.
"Dek, boleh buka tas oleh-olehnya?"
Kusuma yang baru saja berdiri itu menatap Osamu, lanjut menatap tas hitam miliknya, kemudian menatap Osamu kembali.
"Tentu."
Kusuma kemudian langsung membuka tas hitam yang berada di samping kopernya. Osamu pun turut menatap apa yang ditatap Kusuma.
Bola mata Kusuma dengan lihai melihat kanan-kiri. Ia bingung mengambil cemilan yang mana yang akan mereka makan. Apakah biskuit roma kelapa dan makaroni pedas yang mana cemilan tersebut adalah cemilan yang kemarin sudah sempat mereka buka?
'Kalo makaroni pedas pasti kak Osamu tidak mau, biskuitnya juga kan kak Osamu sudah makan banyak kemarin ..'
Kebingungan Kusuma terpecahkan saat Osamu peka dan tiba-tiba bilang,"yang itu saja," sembari menunjuk ke sebuah cemilan.
Kusuma mengikuti arah tunjukkan Osamu. Lalu mengambil cemilan tersebut.
"EH JANGAN DEH-!" sela Osamu.
"Cemilan itu berwarna kuning," lanjutnya.
Kusuma menyergit sebentar. Tapi karena tak ingin ambil pusing, Kusuma langsung mengembalikan wafer keju ber-merek Nabati itu.
Kusuma menatap manusia di sebelahnya itu. Manusia tersebut terlihat kebingungan.
"Eum .. yang disebelahnya saja deh."
🌸
Dengan posisi yang enakeun, Osamu duduk dengan tangan yang menggenggam smartphone. Tangan yang lain sibuk mendistribusikan cemilan ber-merek sama seperti cemilan yang ia tolak sebelumnya (hanya berbeda rasa) ke mulutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumu, Samu, & Suma [BEING MIYA'S LITTLE SISTER]
FanfictionKeluarganya merupakan keluarga harmonis yang selalu membuat orang lain merasa iri, tapi itu terjadi sebelum kejadian orang tua Kusuma Praharahisa yang bercerai saat ia menduduki kelas 1 SMP. Kusuma adalah anak tunggal yang setelah kejadian tersebut...
![Sumu, Samu, & Suma [BEING MIYA'S LITTLE SISTER]](https://img.wattpad.com/cover/303719346-64-k476781.jpg)