"O-oh.."
Gin tersadar lalu berniat ingin mengenalkan dirinya secara langsung. Berhubung orang yang bersangkutan merupakan orang asing, Gin ikut juga menjulurkan tangan kanannya mengajak salam tangan.
Dengan ramah ia mengenalkan diri, "Ginjima Hitoshi, teman kedua kakakmu juga. Salam kenal ya, Kusuma-san!"
Dia terlihat yang paling normal diantara yang lain, batin Kusuma. Kusuma pun membalas senyuman dan perkenalan dirinya. "Salam kenal, Ginjima..san? Should I call you guys name ends with san or senpai?" Kusuma bertanya pada 2 orang yang ditatapnya secara bergantian, yaitu Gin dan Suna.
Tanpa berpikir panjang mereka menyuruh Kusuma untuk memanggil nama mereka dengan akhiran san saja daripada senpai, dengan alasan mereka berdua adalah teman dekat dari kedua kakak Kusuma. "Oke!" Jawabnya.
"Kamu tadi langsung aja tuh panggil aku dengan sebutan kak Shin? Kenapa kamu sebelumnya gak tanya aku mau dipanggil dengan san atau senpai juga?" Pertanyaan asal Kita Shinsuke yang tiba-tiba itu tertuju pada Kusuma. Dapat terlihat jelas keempat siswa kelas 11 di sana kembali terkejut dalam diam.
Selain dari hal bobot pertanyaannya, perilaku Kita Shinsuke yang mendudukkan rahang tajamnya pada telapak tangan kanannya sendiri itu sangat menarik perhatian. Matanya lurus menatap orang yang didepannya.
Tatapannya tidaklah kosong, namun juga tidak berlarian. Hanya bibirnya yang bergerak untuk menanyakan pertanyaan sepele yang tak penting itu. Dan itu merupakan masalah besar menurut keempat orang tersebut karena yang melakukannya adalah orang nomor satu di club mereka, pemimpin club bola voli mereka, one of the top of senior high school volleyball club.. he is the one and only Inarizaki VBC's leader!
Selagi Atsumu, Osamu, Suna, dan Gin yang diam seribu bahasa, Kusuma menyeruput seluruh minuman coklatnya yang tersisa. Cup yang hanya berdiameter 8 centimeter itu sudah habis tiada isinya.
Setelah menaruh cupnya di atas meja, alis Kusuma menyergit dan menatap sinis Kita Shinsuke. "Yaudah aku panggil kamu jadi Kita-senpai aja!!"
Tangan kanan Kita Shinsuke yang membantu mengangkat wajahnya itu kini telah kembali di atas meja seperti semula, sembari tertawa kecil. "Jangan ngambek gitu dong, aku cuma bercanda."
"Kalau aku masih menunggu pesanan, kamu bisa minum coklat panasku ini dulu." Kita Shinsuke menyerahkan minuman coklatnya yang sudah setengah diminumnya. Setelahnya ia langsung berdiri berniat membelikan Kusuma coklat panas yang sama kembali.
"Loh? Yaudah deh ahaha! Makasih ya kak Shin!"
"Cupnya yang large ya!" Setelah mendengar Kusuma yang kini sudah sedikit menjauh darinya itu, Kita Shinsuke menoleh kebelakang dan mengangguk.
Sudah menatap puas kepergian Kita Shinsuke hingga sampai kedai, Kusuma menjadi sedikit canggung. Pasalnya, keempat orang lain yang duduk bersamanya itu masih belum juga bersuara.
Setelah mengamati wajah diam yang menatapnya itu, Kusuma akhirnya bertanya, "e.. kalian.. gapapa? Mau kentang, iya?" Kusuma mengambil 2 potong kentang miliknya untuk sekadar menunjukkannya pada mereka. Mereka masih belum tau akan seperti apa.
Atsumu yang berada disebelah Kusuma persis itu melahap habis kentang yang berada di tangan Kusuma. Namun setelah itu, masih tidak ada respon apa pun, otaknya masih berusaha berputar untuk mencerna, sambil mulutnya mengunyah lambat.
Gin menatap jauh Kita Shinsuke yang tengah sendirian berada di depan salah satu kedai itu lalu menatap lagi Kusuma. Gin beraut wajah penasraan, lalu memajukan badannya sedikit. "Kusuma-san, gimana caranya kamu bisa langsung sedeket itu sama dia?"
Kusuma menoleh belakang untuk melihat kondisi, lalu kembali pada Gin, "sama kak Shin? Oh itu mah.."
Kusuma menggantungkan kalimatnya sebentar karena ia ingin memajukan tubuhnya mendekat pada mereka. Alhasil mereka berempat reflek ikut mendekat serius.
".. aku juga sebenarnya gatau persis sih."
"Lah kok bisa gitu??" Osamu kecewa.
"Ih ntah ya.. tadi tuh ya berjalan begitu aja."
"Maksudnya?" Suna mengangkat suara.
"Ya begitu, ceritanya berjalan mulus aja, soalnya baru dicor."
"Dek, jangan bercanda dulu dek," ucap Osamu malas.
Kusuma menghela nafas. "Serius! Dari awal ketemu ntah kenapa aku seneng aja ngobrol sama kak Shin, kayak gak kosong aja gitu loh. Padahal aku itu bukan tipe yang suka effort cari bahan pembicaraan kalo lagi gaada tujuan. Pokoknya selalu ada bahan obrolan deh, mungkin karena sama-sama tertarik kali ya??"
Penjelasan Kusuma itu tak sengaja diakhiri pertanyaan yang sebetulnya tidak perlu dipertanyakan.
Tubuh Gin menjauh sedikit karena merasa lebih lega. "Hayoloh.. ngaku juga kan akhirnya?" Ia menggoda Kusuma.
Sebaliknya, Osamu lebih mendekatkan dirinya ke Kusuna dan langsung menambahkan, "Kusuma kamu beneran???????" Ia terheran-heran.
Kusuma juga terkejut atas apa yang barusan ia ucapkan, dengan panik ia mencoba membela diri. "Eh- GAK GITU! Maksudku.."
Selagi Kusuma kembali menjelaskan, Kita Shinsuke sudah berjalan menuju mereka dengan segelas cup yang dipegang jari-jari tangan kanannya.
Kita Shinsuke merasa deja vu. Kelima orang yang dikenalnya itu sedikit memajukan badan mereka seperti untuk membicarakan suatu hal yang penting dan bersifat rahasia. Adegan seperti ini telah ia lihat sebelumya, tapi kali ini ketabambahan satu orang.
Setelah Kita Shinsuke berdiri tepat di samping kiri Kusuma, ia kembali menyapa dengan cara, "ini sudah ku belikan untukmu-"
Kedatangan Kita Shinsuke membuat percakapan mereka berhenti. Ia menaruh cup yang dipegangnya di atas meja tepat di depan Kusuma. Mereka melegakan badan mereka.
"-Hati-hati, masih panas.."
"Oh? Kau perhatian sekali ya?" Setelah Kita Shinsuke duduk, Atsumu baru bisa merespon. Otaknya kini sudah bisa berkerja kembali. Namun lagi-lagi, responnya secara harfiah itu elok tapi dikemas dengan nada suara yang tidak nyaman untuk didengar.
Kusuma tak merespon apa pun terhadap Atsumu. Kali ini juga Kusuma jadi tidak bisa menatap Kita Shinsuke lama-lama, ia cukup malu namun tak memperlihatkannya dengan begitu jelas. Kusuma menatap baik-baik sebuah cup berdiameter 10 centimeter yang baru saja diletakkan itu.
Kusuma dengan perlahan mengambil cup tersebut lalu meniup-niup kecil isinya. Tanpa orang lain sadari, nyatanya ia sedang berusaha menenangkan dirinya.
Kusuma mencoba meminum coklat panas itu setelah dirasa denyut jantungnya kembali normal. Baru sedikit air yang menyentuh ujung lidahnya, bibir Kusuma reflek tertutup menolak meminumnya lagi. Matanya berkedip menyeru.
Kita Shinsuke pun mengabaikan Atsumu. Juga tanpa Kusuma sadari, Kita Shinsuke menatapnya lekat, namun setelahnya tertawa sedikit.
"Kamu minum punyaku dulu aja, yang itu masih panas."
"Sebenernya kak Shin itu punya niat baik atau buruk sih??"
Kita Shinsuke dan Kusuma terus menerus mengobrol berdua yang membuat hati Atsumu panas seperti minuman coklat di cup besar itu.
Ujung kanan bibir atas Atsumu terangkat, ia membatin, 'aku nyesel menyuruh Kusuma dateng ke gymnasium waktu itu! Sekarang Kita-san jadi lebih akrab ke Kusuma daripada aku.. YANG BENERAN KAKAKNYA??"
Atsumu hari ini tidak tau sudah berapa kali mencibir. Selagi kedua insan yang dicibir itu asik berbicara satu sama lain, Atsumu mendekatkan tubuhnya pada Osamu, Suna, dan Gin. Mereka memulai percakapan kecil dan membicarakan Kita-Suma.
🌸
Notes:
* Terima kasih yang sudah baca & vote <3!
* SEE YOU IN 67TH CHAPTER!
🌸
.
.
.
Penjual: iyadeh terserah..
Penjual: ikan hiu gak pernah malu, karena ia tidak punya palu.
Author: cakep!
Penjual: bukan puntun itu thor
Author: puntun apaan bjir? Pantun ege!
Penjual: ikan hiu berendem di Kenya, lah iya itu maksudnya.
Author: yeu kocak!
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumu, Samu, & Suma [BEING MIYA'S LITTLE SISTER]
FanfictionKeluarganya merupakan keluarga harmonis yang selalu membuat orang lain merasa iri, tapi itu terjadi sebelum kejadian orang tua Kusuma Praharahisa yang bercerai saat ia menduduki kelas 1 SMP. Kusuma adalah anak tunggal yang setelah kejadian tersebut...
![Sumu, Samu, & Suma [BEING MIYA'S LITTLE SISTER]](https://img.wattpad.com/cover/303719346-64-k476781.jpg)