#71 Selamat Hari Natal

176 20 1
                                        

.
.
.

BUKANNYA menjawab permintaan Kusuma, Atsumu malah meresponnya dengan pertanyaan yang terdengar ada nada kehati-hatian di dalamnya.

"Kamu nggak panggil Kita-san jadi kak Shin lagi?"

Atsumu sebenarnya sangat ingin bertanya itu dengan nada mengejek. Namun kejadian perubahan nama panggilan terlalu mendadak, ia terlalu penasaran.

Kusuma berkedip tepat setelah itu. Ia menatap kebawah di mana nasi gorengnya berada, lalu menyuapi diri sendiri satu sendok.

Diantara waktu melihat nasi goreng secara ragu-memakannya satu suapan-menelan-masih setia melihat nasi gorengnya, ketiga orang yang duduk bersama itu tak mengeluarkan suara.

Kedua kakaknya sangat menunggu apa yang akan dijawab Kusuma. Ekspresi wajahnya begitu datar, seperti tak ada niatan untuk menjawab.

Dan benar saja, sedetik kemudian Kusuma hanya menggelengkan kepala sambil memainkan nasi gorengnya dengan sendok yang dipegang oleh jari-jari tangan kanannya.

Mendapati hasil yang tak memuaskan, Osamu bertanya, "Kenapa..?"

Masih tak berani menatap kedua kakaknya, Kusuma akhirnya membuka mulutnya dan berujar pelan, ".. Gamau lagi."

Dua kata sederhana itu terdengar biasa jika di dengar oleh orang lain. Namun entah mengapa bagi Atsumu dan Osamu suara itu terdengar sedikit lebih parau dari suara Kusuma sebelumnya.

Tak ada ekspektasi dari mereka berdua, Kusuma tiba-tiba berdiri dari duduknya dan membungkuk.

"Maafin Kusuma."

Atsumu dan Osamu reflek berdiri panik.

Mereka berdiri menghadap Kusuma, diberi jarak oleh meja makan yang cukup besar. Osamu yang tepat di depannya itu menaikkan bahu Kusuma lembut. "Kamu kenapa? Kamu gaada salah apa-apa kok!"

"Iya! Kamu kenapa tiba-tiba minta maaf gitu?"

Akhirnya Kusuma berani menatap Atsumu san Osamu bergantian. Setelah tarikan nafas panjang Kusuma kembali menggeleng dan berujar dengan nada menyesal, namun masih ekspresi biasanya.

"Maaf. Kusuma kemarin malam gak sopan sama kak Tsumu dan kak Samu. Seharusnya Kusuma beneran dengerin saran dari kalian. Tapi aku malah bersikap kasar karena mengabaikan kata-kata kalian. Maaf Kusuma belum berhasil jadi adik yang baik."

Tanpa kedua kakaknya ketahui, Kusuma mengepal kuat tangan-tangannya. "Aku gak seharusnya bersikap seperti itu ke orang baru. Aku salah karena terlalu banyak berbicara sama leader kalian padahal baru beberapa kali bertemu. Aku sadar aku gak perlu membuat nama panggilan itu. Walaupun Kita-san bersikap menerimanya tapi seharusnya dari awal aku sudah tau itu gak sopan dan pasti dalam hatinya merasa risih. Dia berperilaku baik, jadi dia terlihat santai denganku. Aku seharusnya sadar kalau itu hanya dasar sikap baiknya aja ke orang baru.."

"Kak Tsumu dan kak Samu tenang aja.. aku gak akan panggil dia jadi kak Shin lagi..."

Tepat setelah mencurahkan isi hati yang disimpulkan hasil pemikirannya tadi malam, matanya mulai berkaca-kaca. Kusuma gagal menahan air matanya. Buliran air jernih itu jatuh menyusuri pipinya. Dengan cepat ia menghapus jejak air mata yang baru pertama kali dilihat kedua kakaknya itu dengan punggung tangannya.

Belum sempat berkata apa-apa, Kusuma menarik kursi di sebelahnya. Di atas kursi kayu tersebut sudah terdapat 2 balok hias khas kado natal.

Dengan 2 balok bertumpukan yang dipegang, Kusuma meluruskan tangannya niat ingin memberikan hadiah natal. Kusuma memberi mereka senyum simpul. Terasa di mata ada yang tertahan.

Sumu, Samu, & Suma [BEING MIYA'S LITTLE SISTER]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang