Mereka menatap Kita Shinsuke berbarengan. Merasa ada yang janggal, di tengah percakapannya dengan Kusuma dia menatap tajam apa yang menatapnya.
Sedetik kemudian, tatapan matanya kembali ramah pada Kusuma. Pada saat yang sama pun mereka kembali kembali berdiskusi.
"Njir beda banget ya tatapan dia ke kita sama ke Kusuma."
"Ini kan mereka yang dateng ke kita ya.. tapi sebenernya mereka yang ganggu kita atau kita yang ganggu mereka sih?!"
"Padahal kita dan Kusuma kan sama-sama manusia ya, kok tatapannya bisa beda gitu???"
"Iya, berbeda dan gak menyatu! Padahal kita bahkan lebih dulu mengenalnya."
"Bener.. eh- aku jadi keinget ada lautan tapi gak menyatu yaang salah satu alasannya itu karena perbedaan kandungan garamnya yang tinggi.."
"Eh kau jadi kayak Kusuma!"
"Oh selat gibraltar itu ya? Eh kan arus laut yang diomongin kusuma itu ada kaitannya dengan lautan yang kau sebutkan tadi. Seingatku itu salah satu terjadinya arus laut selain adanya angin ya karena perbedaan kadar garam itu.."
Murid Inarizaki tetaplah murid Inarizaki.
Atsumu makin menunduk dan berbisik ke Suna, "Gin jadi Kusuma 2, Osamu jadi Kita-san 2."
Suna mengangguk lalu membalas berbisik, "Tebak.. istri istri apa yang kecil?"
Atsumu terlihat berpikir, "Istri kecil? Istri tanpa capslock!"
"Salah! Jawabannya microwife!"
"Sumpah, lebih lucu jawabanku!-"
"-Jokesmu ini pasti terinspirasi dari kata-kata Osamu tadi kan!"
Mereka terus berkicau. Bertangkai di satu pohon yang sama, tapi tangkai-tangkai itu sempat hidup di tiga batang yang berbeda. Diiringi lagu-lagu natal, suhu malam yang dingin, serta di tengah keramaian orang-orang, tak terasa 2 jam lebih lamanya mereka berenam duduk bersama, menambahkan rasa keintiman mereka masing-masing. Itu menjadi pengalaman yang sederhana tetapi tak mudah untuk dihilangkan dari ingatan.
Hingga saat menaiki bus di tengah perjalanan pulang, setelah cukup lama akhirnya salju kembali menampakan diri. Suna dan Gin berpamitan untuk turun dan kembali pulang ke rumah masing-masing. Empat orang lainnya masih menantikan halte selanjutnya.
Setelah menginjakkan kaki di halte yang paling dekat dengan rumahnya, Kusuma langsung berlari keluar untuk beberapa langkah. Dia meregangkan tangan dan kemudian memutar badannya semangat. Ketiga lelaki rupawan yang ditinggalkannya itu tak bergerak, hanya bisa terdiam ikut senang untuknya.
"Salju, kak!"
Seraut wajah yang muda dan segar itu menampilkan senyum hangat di tengah salju dingin yang turun ringan dari langit. Dia terlihat murni, seakan sudah disucikan oleh air salju yang tumpah di pipinya.
Sudah lama ia tak merasakan langsung dinginnya butiran putih itu.
Pucuk beanie itu akhirnya berhenti memantul. Setelah puas berputar bak guanyin yang menari itu ia menunduk untuk beberapa saat, tiba-tiba matanya meneteskan setitik air mata haru. Hanya dia yang menyadari itu. Salju malam itu membuat Kusuma merasa emosional. Lalu, dia mendongak menatap satu persatu mereka berurutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumu, Samu, & Suma [BEING MIYA'S LITTLE SISTER]
FanfictionKeluarganya merupakan keluarga harmonis yang selalu membuat orang lain merasa iri, tapi itu terjadi sebelum kejadian orang tua Kusuma Praharahisa yang bercerai saat ia menduduki kelas 1 SMP. Kusuma adalah anak tunggal yang setelah kejadian tersebut...
![Sumu, Samu, & Suma [BEING MIYA'S LITTLE SISTER]](https://img.wattpad.com/cover/303719346-64-k476781.jpg)