Kusuma telah melihat barang terakhir yang ia inginkan, tepat di depannya. Kusuma mengambil sebungkus es krim vanila. Kusuma berada di kombini yang sama seperti ia beli tepung terigu sebelumnya. Kombini yang paling dekat dengan rumahnya ini merupakan kombini yang termasuk besar dan cukup lengkap. Bahkan di depan kombini ini terdapat beberapa pasang tempat duduk dan meja.
"Ini mah kalo di Indo jadi Indomaret fresh.. Jepmaret fresh awokawok," Kusuma tertawa karena jokes recehnya sendiri.
Kusuma melihat tangannya yang tengah membawa jajanan kombini. Kusuma tersenyum lebar. "Geus cukup ieu mah..!" (Udah cukup ini mah!)
Bersama dengan beberapa jajanan di pelukan tangannya yang dapat membuat moodnya sangat senang, Kusuma berjalan menuju kasir.
"Miya Kusuma-san?"
Tiba-tiba ada suara familiar yang memanggil. Suara itu terdengar sangat lembut namun sedikit serak. Kusuma pun membalikkan badannya ingin menatap mata pelaku suara tersebut. Dan ternyata, mata coklatnya pun indah. Kusuma enggan mengalihkan pandangannya kembali.
"Oh? Kita-san?"
Sangat tidak disangka, Kusuma bertemu Kita Shinsuke di kombini itu.
"Kau sendiri di sini?"
"Iya, Kita-san juga?"
Dari awal bertemu Kusuma sudah memanggil Kita Shinsuke dengan akhiran -san, bukan senpai karena ikut-ikut kakaknya.
"Iya. Aku ingin beli zoukin dan beberapa benda lainnya," Kita Shinsuke menunjukan keranjangnya yang telah dipenuhi setengah.
"Zoukin?"
"Iya, Zoukin. Kain pembersih lantai khusus untuk tatami*."
"Ooh! So your house is traditional Japanese style right?!"
"You're right."
"Eeh~ kakkoi! Aku belum pernah menginjakkan kaki di rumah yang seperti itu! Aku lihat rumah yang seperti itu terlihat sangat nyaman."
Kita-san tersenyum dan mengangguk. Kita Shinsuke menjulurkan tangan kirinya ke depan mempersilakan Kusuma berjalan terlebih dahulu. "Ayo ke kasir lalu kita lanjut berbicara dengan nyaman di kursi luar."
'What a gentleman bro.'
Tak ramai kombini malam itu. Yang mengantre bayar hanya tersisa mereka berdua. Di luar kombini yang diselimuti hawa dingin pun hanya terlihat sedikit orang yang berlalu lalang. Beruntung bagi mereka yang bisa memilih bebas tempat duduk. Mereka pun dapat duduk bersama dengan nyaman dan memulai kembali perbincangan.
"Kusuma-san. Kamu mau bergabung dengan club bola voli-ku sebagai manajer?" Pertanyaan itu sangat membuat kaget Kusuma. Sebelum-sebelumnya Kusuma tak pernah diajak masuk sebuah club langsung oleh ketuanya. Terlebih lagi langsung diberi posisi dengan tanggung jawab besar.
".. hm? pardon me?"
"Sorry for the sudden invitation. Aku ingin kamu membantu Atsumu dalam menjalankan tugasnya menjadi ketua, dengan cara menjadi manajer club."
"Hold on, kak Tsumu will be the new leader for vbc?"
"Yap."
"Oh, aku baru tau tentang itu. Tapi maaf sebelumnya Kita-san, aku sudah masuk ke club podcast."
"Club podcast? Baru?"
"Iya, Kita-san. Baru hari ini dibentuk, dan guru pembimbingnya adalah Mam Ko."
"Tidak ada larangan untuk mengikuti dua club, Kusuma-san," Kita Shin meyakinkan kembali Kusuma.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumu, Samu, & Suma [BEING MIYA'S LITTLE SISTER]
FanfictionKeluarganya merupakan keluarga harmonis yang selalu membuat orang lain merasa iri, tapi itu terjadi sebelum kejadian orang tua Kusuma Praharahisa yang bercerai saat ia menduduki kelas 1 SMP. Kusuma adalah anak tunggal yang setelah kejadian tersebut...
![Sumu, Samu, & Suma [BEING MIYA'S LITTLE SISTER]](https://img.wattpad.com/cover/303719346-64-k476781.jpg)