Mereka yang berdiri setelah di hantam badai, tidak akan terusik oleh gerimis
"ARGHHH" Adel meluapkan kekesalannya. Ia memukul dadanya berharap rasa nyeri di hatinya melunak. Adel duduk sendirian di tepi danau dekat komplek perumahan nya. Ia memeluk lututnya, mengacak ngacak rambut nya frustasi.
Adel melihat pantulan dirinya dari air, wajahnya benar benar kacau. Bagaimana pun ia harus kuat, ia harus ikhlas melepas Ashel. Mungkin Tuhan telah mengatur takdirnya. Ia tidak boleh lemah seperti ini. Adel beranjak dari duduknya, ia berusaha menguatkan hatinya dengan senyum yang tercetak jelas di sudut bibirnya.
Saat Adel berbalik badan senyum itu langsung luntur, sakit hatinya kembali seperti semula. Tapi ini lebih sakit dari sebelumnya, Adel kaku! Ia tidak sama sekali tidak bisa menggerakkan badannya sendiri, rasanya sangat berat.
Ia melihat pemandangan yang kembali menguras emosinya. Terlihat di warung dekat danau, Ashel tengah bersandar di bahu Zee. Dengan Zee yang mengelus puncak kepala gadis itu. Adel mengepalkan tangannya, rasa cemburu menguasai hatinya. Tapi ia sadar, Adel tidak memiliki hak atas itu, ia baru saja putuskan? Tapi kenapa rasanya tak rela melihat gadis itu begitu nyaman bersandar dibahu seseorang.
Tiba tiba ponsel Adel berdering, ia merongoh saku celana jeans nya. Adel menghembus nafasnya sebelum ia mengangkat telpon.
"Lo dimana?" Tanya seseorang di sebrang sana to the point.
"Woy bego dimana lo?" Adel menjauhkan benda pipih dari telinganya itu ketika mendengar suara teriakan di sana.
"Di jalan"
"Dimana? Biar gue susul"
"Gue aja yang ke sana"
Tut.
Adel memutuskan panggilan secara sepihak. Sebelum ia melangkah untuk pergi, matanya menyempatkan untuk melirik ke arah warung tadi. Tapi tunggu, kemana mereka berdua?
Adel bersikap masa bodo, biar saja. Mungkin mereka di telan bumi! Tidak, jangan mereka. Hanya Zee, biarkan gadisnya berada di bumi. Setidaknya ia masih bisa melihat Ashel meski tidak bisa memilikinya.
Adel berjalan menuju mobilnya, saat ia akan menjalankan mobilnya. Ada seseorang yang menghalangi jalannya. Apa cewek itu ingin mati di tabrak nya? Adel memutar bola matanya malas.
Adel membuka kaca mobil. "Minggir! Mau mati bunuh diri gak bakal bikin lo masuk surga"
"Keluar dulu! Gue mau ngomong sama lo"
Tidak ada jawaban dari Adel, gadis itu berjalan masuk ke dalam mobil Adel.
"Gak sopan" Gumam Adel.
Gadis itu menghembuskan nafasnya berusaha sabar. "Jangan tinggalin gue" Lirih nya.
"Lo sendiri yang minta gue pergi" Ucap Adel tanpa menoleh sedikit pun.
"Gue salah Dell sorry. Tadi gue kelewat emosi sama lo! Please jangan tinggalin gue" Tutur Ashel memohon.
Yap, orang itu adalah Ashel. Gadis yang bodohnya membiarkan Adel pergi, ia bodoh tidak sempat mendengar penjelasan Adel terlebih dahulu. Ia menyesal sekarang.
Flasback on
Ashel sedang mencari udara segar di luar. Pikirannya tak henti memikirkan keadaan Adel sekarang. Ia sangat ceroboh bertindak gegabah seperti tadi. Kakinya membawa gadis itu untuk menuju ke danau, tempat yang pernah menjadi saksi akan cintanya dan Adel. Dan sekarang ia akan pergi ke sana, hanya sekedar ingin menenangkan saja.
