EMPAT PULUH SEMBILAN

1.6K 103 6
                                        

Siapa yang sadar, bahwa setidakadil apapun semesta, keputusannya adalah hal paling mutlak. Sekalipun hasilnya adalah hati mu yang menjadi berkeping.

.
.
.

Adel menghempaskan tubuhnya di atas kasur king size miliknya. Setelah berdebat cukup kuat dengan sepupunya, ia kelelahan. Bagaimana tidak, Naura menghabiskan cemilan kesukaannya hingga tidak tersisa. Dan yang lebih menjengkelkan nya lagi oma menyuruhnya untuk meminta maaf karena Adel tidak sengaja menyikut dahi gadis itu saat hendak merebutnya. Padahal sudah jelas di sini yang salah dia, kenapa ia harus meminta maaf. Tapi Adel tidak bisa apa apa jika oma sudah berbicara sedemikian rupa, tidak tahu kenapa ia sulit membantah ucapannya.

Baru saja Adel akan memasuki alam mimpinya namun pintu kamarnya terbuka sehingga ia membuka matanya malas.

"Oma nyuruh lo kebawah tuh ada yang pengen di omongin katanya" Ucap Naura menyampaikan amanat dari omanya.

"Hm, nanti gue turun" Sahut Adel kembali memejamkan matanya.

"Jangan tidur bego" Naura meraih guling yang berada di atas kasur Adel lalu menimpuk wajah cewek itu. "Oma nyuruh nya sekarang"

"Ck ganggu lo" Adel membenarkan posisinya menjadi duduk. Matanya benar benar berat untuk terbuka. Jika bukan karena omanya ia tidak mau di suruh suruh seperti ini.

"Gue ganti baju dulu! Cepet sana keluar" Usir Adel dengan mendorong tubuh Naura keluar kamar.

"Jangan dorong dorong gue revaa gue bilangin oma juga lo" Dengus Naura sebal lalu ia berlalu pergi dari kamar Adel.

Hanya dengan menggunakan kaos oblong putih dengan celana pendek hitam, kekerenan Adel masih sangat terlihat bahkan ini lebih keren.

Dengan sangat pede Adel berjalan menuruni anak tangga berjalan mendekati omanya yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Naura yang di samping omanya.

"Ada apa oma?" Tanya Adel lalu ia menempatkan bokongnya di sofa.

"Reva, sebentar lagi kamu bakal lulus kan? Gimana kalau kamu lanjut sekolah di surabaya ikut oma di sana" Ujar oma dengan senyum meyakinkan.

"Lo jangan khawatir kalo gak ada yang mau temenan sama lo di sana. Masih ada gue" Sombong Naura dengan angkuh.

Adel masih bergeming di tempat, ia bingung harus menjawab apa. Memang benar sebentar lagi ujian nasional akan di laksanakan, itu artinya ia akan segera lulus. Tapi apa Adel sanggup meninggalkan semuanya? Meninggalkan sahabat sahabatnya, dan apa sanggup juga jika ia meninggalkan Ashel?

"Gimana Reva?" Tanya oma membuat lamunan Adel buyar.

"Hah? Aku gak tahu oma! Aku udah nyaman di sini. Rasanya berat banget kalau harus ninggalin semuanya" Kata Adel

"Sekolah SMA di sana juga gak kalah seru kali! Ayolah ada gue ini, tenang aja" Bujuk Naura

"Oma ngerti sayang! Tapi oma nya juga harus ngawasin pergaulan kamu, gak mungkin oma selamanya tetap tinggal di sini, asal oma itu di surabaya. Oma harap kamu ngerti Reva" Sarkas oma. Sebenarnya ia tidak tega berbicara sedemikian pada Adel, tapi takdir memang harus seperti ini. Ia harus membawa Adel kembali ke kampung halamannya, ini bukanlah tempatnya.

Adel hanya mengangguk lemah. Ia sama sekali tidak bisa menolak permintaan omanya, bagaimana pun juga oma yang selalu mengerti perasaannya, oma yang selalu ada untuk Adel ketika orang tuanya berpisah. Menyakiti hati omanya adalah kesalahan terbesar untuk Adel.

"Nanti malam jam 7 lo anterin gue ke bandara ya" Ujar Naura berusaha mencairkan suasana.

"Mau ngapain? Males gue"

Pesan TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang