LIMA PULUH SATU

447 43 1
                                        

Aku tidak peduli dengan siapapun yang memanggilku, aku akan peduli jika itu kamu

.
.
.
.

Dentuman suara musik memenuhi ruangan yang hanya berisikan tiga orang. Adel, Ara dan Oniel tengah berada di ruang musik rumah Ara. Ketiganya menyibukan diri dengan bermain musik, Ara dengan gitarnya, Oniel yang sedang bermain drum dan Adel bernyanyi. Adel tengah melatih vokalnya, berkat di ajarkan Ara sekarang Adel semakin percaya diri untuk bernyanyi.

"WOY YANG BENER DONG" Semuanya menghentikan kegiatan masing masing karena teriakan Ara. "Yang fokus dong, suara kemana musik kemana" Peringat Ara pada Adel.

Adel hanya memandang Ara sekilas, minggu depan ujian nasional akan di laksanakan. Itu artinya tidak akan lama lagi bagi Adel untuk tetap tinggal di jakarta, ia belum mempunyai keberanian untuk mengatakan hal tersebut pada kedua temannya. Itu yang membuat ia tidak fokus hari ini.

"Hal apa sih yang ngebuat lo galfok?" Tanya Oniel.

"Apa tuh galfok?" Ujar Ara dengan alis yang bertaut.

"Gagal fokus! Ck, gak ngerti jaman lo"

"So banget lo jadi orang" Cibir Ara.

"Jadi apa yang ngebuat lo galfok?" Tanya Oniel kembali.

"Gue kurang gizi aja" Imbuh Adel santai

"Cih, gaya lo boss" Ucap Ara memekik heboh

"Kurang gizi apa kasih sayang tuh?" Sindir Oniel dengan sedikit terkekeh.

"Yang kurang kasih sayang itu elo bangkee" Semprot Ara.

"Kampret lo"

"Oh ya, Ashel udah ngomong sama lo belum? Kita bakal SMA bareng di garuda?" Tanya Ara memastikan. Karena mereka semua sudah fiks akan lanjut sekolah di sana, kecuali Adel, ia belum mengatakan apapun soal itu.

"Kalo gue beda SMA sama lo berdua gimana?" Cicit Adel, bertanya pelan pelan.

Oniel mengerutkan keningnya. "Lo mau SMA dimana? Sekolah garuda kan yang paling bagus di daerah ini"

"Lo mau masuk SMK?" Tambah Ara.

"Gue cuma nanya! Gak usah di perpanjang" Elak Adel, ia kembali mengambil mick yang sempat ia simpan tadi. "Lanjut lah, gabut gue"

***

Jika bukan persoalan Adel, Ashel tidak mau menemui wanita yang tengah duduk di sebelahnya. Ashel menyesal menerima ajakan tersebut karena yang sedari tadi Gita bahas bukan soal Adel melainkan cewek itu terus menerus meminta maaf padanya soal kejadian masa lalu mereka.

Ashel takut jika Adel melihat mereka, apalagi Gita membawanya ke taman kompleks sini. Ashel menatap horor orang yang tengah duduk di samping nya yang masih terus menerus merapalkan kata maaf.

"Lo bisa gak sih berhenti minta maaf?" Kesal Ashel.

"I'm sorry"

Ashel memutar bola matanya malas. "Tadi lo bilang mau ngebahas Adel! Ada apa?" Tanya Ashel to the point.

"Bisa gak kalo lagi berdua jangan bahas yang lain?" Tanya Gita malas.

"Tadi lo yang bilang mau bahas tentang Adel! Kenapa sekarang lo marah gue bahas yang lain, Adel kan pacar gue. Jadi gue berhak dong ngomong dia di depan lo" Sarkas Ashel. "Kalo gak ada yang penting mending gue cabut"

Lengan Ashel di tahan oleh Gita saat gadis itu akan beranjak pergi. Ashel kembali duduk ketika lengannya di tarik oleh Gita

"Lo bisa bujuk Adel buat tinggal bareng keluarga gue?" Tanya Gita lemas. Jujur ia benci mengatakan ini. Jika bukan mamahnya yang meminta Gita, sudah jelas ia tidak akan mau.

Pesan TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang