Barang kali kepergianmu adalah cara Tuhan untuk menilai kesungguhan ku dalam mencintaimu
.
.
.
Taxi yang akan mengantarkan Adel dan oma ke bandara di kawal oleh dua motor dan satu mobil. Dua motor itu di kendarai oleh Ara dan Oniel sedangkan di dalam mobil berwarna hitam terdapat Ashel Kathrin dan Chika yang ikut hadir mengantar Adel ke bandara.
Sebelum masuk, Adel berpamitan terlebih dahulu pada teman temannya.
"Kabarin gue kalo udah sampe" Oniel memeluk Adel erat. Biarkan saja teman temannya mengejeknya cengeng, Oniel tidak peduli. Ia sudah menganggap Adel seperti keluarganya sendiri.
"Gue bakal langsung kabarin kalian semua kok" Adel menepuk punggung Oniel menenangkan.
"Cengeng lo Niel! Gak malu di liatin pacar" Ledek Ara.
Oniel melepas pelukannya, melirik tajam ke arah Ara. "Kayak lo engga aja! Liat tuh muka lo merah gitu nahan nangis"
Mereka semua tertawa mendengar ledekan Oniel Untuk Ara.
Ara maju dengan tersenyum kecut. Saat dirinya sudah sampai di depan Adel, Ara langsung memeluk Adel dengan tersedu sedu. Semuanya menatap jengah termasuk Chika, tadi ia meledek Oniel sekarang dia sendiri menangis.
"Dell jangan tinggalin gue! Gue belum siap buat jauh dari lo"
Semua tercengang ucapan Ara. Adel jadi geli sendiri.
Ashel dengan sigap memisahkan mereka berdua.
"Giliran gue dong! Adel kan pacar gue" Ashel memeluk Adel erat setelah semua temannya menyingkir.
Adel membalas pelukan Ashel mencium puncak kepala Ashel lama.
Adel menangkup pipi Ashel. Menatap matanya dengan sorot cinta. "Jaga diri lo baik baik! Untuk sementara waktu ini gue gak bakal terus ada di samping lo. Gue udah nyuruh Ara sama Oniel buat jagain lo, jadi jangan sungkan buat minta bantuan sama mereka"
Ashel mengangguk dengan tersenyum. "Jaga mata lo! Awas kalo kepincut cewek lain" Pesan Ashel yang membuat Adel terkekeh.
"Tenang aja! Lo udah cukup kok buat gue"
"Jangan lupa buat selalu hubungin gue! Vidio call gue tiap malam. Gue bakal nunggu lo sampe pulang" Tutur Ashel tulus.
"Gue bakal balik demi lo! Tunggu gue Shel" Adel mendaratkan kecupan di kening Ashel.
Oma nadya sudah tau hubungan mereka berdua, oma nadya mengijinkan saja karena bahagia Adel berada pada Ashel biarlah mereka berbahagia dengan pilihan dan caranya masing masing.
Ashel beralih memeluk oma yang sedari tadi hanya melihat interaksi mereka.
"Maafin oma ya sayang! Gara gara oma kamu harus berpisah sa-"
"Enggak oma! Ini bukan salah oma, ini semua demi kebaikan Adel, kebaikan semua orang" Sangkal Ashel.
"Oma bakal jagain Reva buat kamu"
Ashel tersipu mendengar ucapan oma barusan.
"Hati hati Dell"
Ashel menoleh seketika matanya membulat saat melihat Chika merentangkan tangannya ingin memeluk Adel.
Dengan gesit Ashel menarik rambut Chika.
"Enak aja. Main nyosor nyosor pacar orang"
Chika membenarkan rambut nya yang sedikit berantakan. "Posesif banget sih lo"
"Bodo! Kalo mau peluk, peluk aja sana pacar lo. Kasihan tuh badannya debuan jarang lo peluk sih" Ucap Ashel menatap nanar ke arah Ara.
"Enak aja lo ngomong gue berdebu, gini gini gue suka mandi kali. Walau tiga hari sekali" Bela Ara sembari terkekeh.
"Iwuh.. Jorok banget sih lo! Kenapa temen gue betah banget ya sama lo?" Ucap Kathrin melirik Chika.
"Betah dong, Chika kan cinta sama gue" Angkuh Ara sembari merangkul pundak Chika.
"Reva!" Panggil oma. "Kita masuk sekarang ya? Sebentar lagi pesawat nya berangkat" Lanjut oma.
Adel mengangguk lantas tersenyum.
"Guys, gue pergi dulu ya" Pamit Adel dengan tersenyum tipis.
"Kita pamit dulu ya? Jaga diri kalian baik baik" Pesan oma
"Siap oma! Nanti bawa Adel balik lagi ke sini ya oma jangan lupa" Ucap Ara bergurau.
Ashel melirik Adel. "Gue pergi sekarang" Pamit Adel pada Ashel.
Ashel mengangguk. Ada rasa tidak rela saat melihat Adel menjauh darinya, tapi ini juga demi kebaikan Adel. Ia akan bertahan semalam tiga tahun ini. Berjanji akan menjaga hatinya untuk Adel.
Adel melambaikan tangan pada teman temannya sebelum masuk untuk menunggu penerbangan.
***
Ashel menghela nafas beberapa kali, dari tadi perasaannya tidak enak. Sudah satu jam dari pemberangkatan pesawat, Adel masih belum menghubungi nya. Ashel sudah menelpon nya beberapa kali, namun ponselnya tidak aktif. Ada apa dengan cewek itu? Apa Adel sengaja mematikan ponselnya untuk menguji seberapa setia dirinya? Tapi itu hal bodoh, tidak mungkin Adel bersikap kekanak kanakan.
Ashel tidak boleh hanya berdiam saja di kamar, ia harus melakukan aktivitas yang biasanya ia lakukan.
Ashel menyimpan ponselnya, setelah itu ia turun menghampiri dava dan papahnya yang sedang menonton di ruang keluarga.
"Dava" Ucap Ashel sembari mencubit pipi adiknya gemas.
"Kenapa muka kamu kusut gitu?" Tanya papahnya heran. "Kepikiran Adel? Udah lah, sebentar lagi dia bakal sampai di surabaya. Gak usah di Tekuk gitu mukanya" Ledek pak Wijaya di iringan dengan kekehan
"Ih papah" Rengek Ashel.
"Kenapa lagi? Adel gak ngabarin kamu? Di langit lagi gak ada sinyal kayaknya. Jadi susah buat Adel ngabarin kamu. Senyum dong! Masa muka anak papah kusam gitu"
Ashel menunjukan deretan giginya ke arah papah. Menunjukan bahwa ia tak sejelek yang papahnya bilang.
"Nah gitu kan cantik" Pak Wijaya mengelus rambut Ashel.
"Emang dari dulu anak papah udah cantik kali" Sombong Ashel dengan pandangan yang fokus mengajak dava bermain.
Berita terkini, pesawat lion air rute jakarta-surabaya di kabarkan hilang kontak pukul 10.45 wib. Pesawat itu di perkirakan jatuh di pulau Cipunagara. Menurut berita yang berhasil kami dapatkan, terdapat 50 orang dewasa dan 10 anak kecil. Hingga saat ini tim SAR masih mencari para korban. Pihak kepolisian pun sudah memulai penyelidikan untuk mengetahui penyebab terjadinya pesawat hilang kontak.
waduh 👀
detik-detik menuju ending....
VOTE KUYY!!
