Nama pria itu Reizan Giedeon (34), seorang dokter yang bekerja keras demi mendapatkan kariernya. Sejak istrinya meninggal bersama anak yang sedang dikandungnya, ia menjadi terpuruk hingga kehilangan jati dirinya. Keserakahan dan dendam mengubahnya m...
Apa yang lebih menyakitkan daripada mengucapkan selamat tinggal?
—Reizan Giedeon—
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari dimana Reizan harus meninggalkan istrinya di rumah selama 2 minggu sementara dirinya harus bertugas di Jawa Timur, saat itulah ia mati-matian menahan rasa cemas dan rindunya bahkan sebelum ia berangkat. Sejujurnya pria itu begitu berat harus meninggalkannya, apalagi sejak Selia mengatakan kebenaran pada Alia kemarin, kondisi Alia kian memburuk karena terus kalut dalam perasaan dan pikirannya.
Karena tidak mau istrinya sendirian di rumah, Reizan meminta bantuan seorang perawat untuk menemani Alia begitu dia pergi.
Pria ituterlihat tampan dengan setelan kemeja putih serta celana panjang berwarna hitam, pria itu akan segera berangkat. Reizan mengambil tas besar berisi pakaian yang ada di atas kasur sebelum keluar dari kamarnya. Setelah keluar, ia mendapati Alia yang sedang membaca majalah di kursi rodanya. Pria itu pun mendekat untuk meminta izin dari istrinya.
"Sayang, aku berangkat, ya." kata Reizan yang berjongkok di depan istrinya.
"Nanti kasih kabar, ya." pesan Alia.
Reizan mengangguk sembari mengusap rambut Alia. "Iya, pasti aku kabarin. Nanti ada suster yang akan merawat kamu selama aku pergi nanti. Kamu jangan nakal, ya." imbuh Reizan.
Alia mengangguk memberi tanggapan. Reizan lantas mendekatkan wajahnya untuk menciumi seluruh wajah istrinya yang tidak akan bertemu lagi selama dua minggu ke depan. Setelah puas mencumbui istrinya, pria itu lantas pergi meninggalkan rumah.
Dari kursi rodanya, senyuman Alia kembali memudar setelah Reizan lenyap dari pengelihatannya. Belum lima menit pria itu pergi, Alia sudah merindukan suaminya. Memilikinya adalah anugerah terindah baginya, dia masih beruntung memiliki sosok penyayang seperti Reizan.
***
Dua pekan itu terasa sangat lamban dari biasanya, waktu seakan tidak berjalan. Reizan kira selama ia bertugas di luar kota, ia akan sering saling teleponan dengan Alia. Namun selama hampir dua minggu, ia tidak mendapat satu panggilan pun dari Alia di ponselnya. Ia hanya bisa menelefon Gita—suster yang merawat Alia— untuk menyakan kabar istrinya, dan Gita selalu menjawab jika Alia baik-baik saja. Namun Alia selalu menolak jika Reizan hendak mengajak berbincang melalui ponsel Gita. Perasaan buruk terus berkelana dipikirannya, ia bingung mengapa Alia tidak mau diajak berbincang dengannya?. Reizan ingin cepat-cepat pulang menemui Alia, hanya saja ia tidak diperolehkan pulang sebelum tugasnya selesai.
Ia mati-matian menahan rasa cemas dan rindunya, jika nanti pekerjaannya sudah selesai, ia ingin segera pulang dan berlari pada Alia. Ia akan memeluk dengan erat, menciumnya sampai puas, bahkan berteriak bahwa ia benar-benar merindukan istrinya. Ia sangat tidak sabar menunggu lima hari lagi sampai waktu itu datang.