28. Gone

293 8 0
                                        


Bangga sekali menjadi dirimu yang menghancurkan duniaku hanya untuk bersenang-senang.
Nezia Niatama

Di lorong bangunan yang berada di lantai dua rumah sakit Amerta, sore itu Reizan dan Laudy sedang berdiri secara berhadapan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di lorong bangunan yang berada di lantai dua rumah sakit Amerta, sore itu Reizan dan Laudy sedang berdiri secara berhadapan. Pria itu sedang meminta maaf karena kemarin Nezia melukai tangannya.  Reizan hanya khawatir apakah tangannya melepuh atau tidak lantaran kemarin ia terlihat sangat marah.

"It's ok. It's just a small wound, it will heal eventually." balas Laudy memaafkan, meski kemarin ia sempat marah-marah.

"Thanks, Laudy."

"Oh, did you'll go tonight?" tanya Laudy yang dibalas anggukan oleh Reizan. "You must get ready now"." imbuh Laudy.

Keduanya lantas memisahkan diri ke arah yang berbeda, begitu juga Reizan yang berjalan di koridor hendak pulang mengambil barang-barangnya sebelum berangkat. Namun belum saja pria itu melewati pintu keluar, ia mendapati Felix sedang berdiri di tengah lobi sambil tangannya melambai ke arahnya. Di sana pria itu sedang memegang sekotak kardus penuh berisi bunga aconitum berwarna ungu, bunga yang akan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan aconitine. Pria berambut pirang itu kemudian mendekat dan berdiri di hadapan Reizan.

"Rei! Mau pulang, ya?" tanya Felix.

"Iya. Mau ambil barang-barang." balas Reizan.

"Can I follow you?" pinta Felix.

Mulanya Reizan menatap pria di hadapannya dengan tatapan kosong lantaran bingung dengan alasan tiba-tiba ingin ikut pulang bersamanya. Namun akhirnya Reizan mengangguk mengizinkannya ikut.

Melihat seorang suster yang kebetulan melintas, Felix menyerahkan sekotak kardus bunga aconitum pada suster tadi. Tidak lupa ia juga melepaskan dan memberikan sarung tangan yang ditangannya sebagai alat keamanan. Meskipun belum diolah, bunga itu masih saja beracun, terlebih jika tidak sengaja menyentuh getah daunnya tanpa menggunakan sarung tangan, efeknya bisa fatal.

Felix menyarankan untuk menggunakan mobil miliknya sedangkan mobil Reizan ditinggal saja di rumah sakit. Mereka berdua duduk di kursi belakang sementara sopir pribadi Felix yang menyetir. Rumah sakit itu jaraknya lumayan jauh dari kediaman Reizan hingga 20 menit di perjalanan mereka belum juga tiba, bahkan langit jingga sudah berubah menjadi gelap.

"Kabar Nezia baik?" tanya Felix.

"Baik... Mungkin. Dia lagi hamil." balas Reizan yang saat itu sedang menatap I-padnya.

"Are you serious?!" pekik Felix. Sebagai teman baik Reizan, tentu ia sangat senang mendengar kabar itu, ia berpikir mereka sudah saling mencintai, juga ia tidak sabar ingin dipanggil paman. "Apa Nezia dan Alia itu sama?" lanjut Felix, dan Reizan membalasnya hanya dengan dua gelengan kepala.

ILEGAL ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang