Kevan menyusuri basement sambil menepuk-nepuk pelan pantat sang adik agar terlelap seraya mencari mobil Ryan dari mobil-mobil yang berjejer rapi. "Kau mengantuk?"
Kevan terus mencoba mengajak bocah di gendongannya untuk berbincang ringan supaya tidak terus berlarut dalam kesedihan. Ia tahu perasaan Nevan, apalagi anak ini terbiasa di manja Gerald sedari kecil.
"Nevan.." Panggilnya sekali lagi sebab tidak ada jawaban. Hanya saja ia merasakan bahunya hangat dan teraliri sesuatu yang menjadi tempat sandaran kepala Nevaniel.
"Pulang."
Kevan menghela nafas lega kala sang adik menjawab meskipun dengan suara serak khas orang yang sedang menangis. "Tentu, kita akan pulang. Kamu tidur saja, nanti abang bangunkan jika sudah sampai."
Nevan menggeleng pelan sekaligus mengeluarkan lendir yang mengganggu pernafasannya pada baju sang kaka. Untungnya Kevan tidak marah, lelaki itu malah terkekeh pelan lalu mengecup sekilas kepala adiknya.
"Kevan!"
Merasa namanya di panggil seseorang, lantas ia mencari si pelaku. Tak berselang lama matanya menemukan Ryan yang melambaikan tangan sambil membuka pintu mobil tidak jauh dari posisinya.
"Bagaimana bisa kau tidak menemukan mobilku?"
Kevan berdecak samar. "Bukan satu mobil saja yang ada disini, tapi berpuluh-puluh lebih."
Ryan mengangkat bahunya tak peduli. "Kau yang menyetir, tanganku sudah pegal bekerja seharian."
Kevan berdehem sejenak. Ia mengusap lembut surai adiknya. "Nevan dengan paman Ryan, oke?"
"Nevan duduk sendiri saja di belakang."
"Tidak."
Kevan menolak mentah-mentah permintaan adiknya. Ia tidak mungkin membiarkan Nevan duduk di kursi penumpang sendirian, apalagi dalam keadaan mengantuk. Kevan khawatir jika saat dalam perjalanan nanti ada sebuah polisi tidur yang bisa saja membuat adiknya terjungkal karena tidak ada yang menahan.
"Kamu ikut paman." ucap Ryan dan langsung mengambil alih tubuh bocah itu dari gendongan Kevan.
"Nevan berat."
"Tidak masalah."
Alhasil anak berumur 14 tahun tersebut pasrah saat tubuhnya duduk dipangkuan Ryan dengan posisi miring, sedangkan kedua kakinya berada di atas paha sang kaka. Di sampingnya terdapat Kevan yang tengah menyetir dengan satu tangan, sementara yang satunya melepas sepatu yang dipakai oleh Nevan.
"Ingin minum susu?" Tanya kevan tanpa mengalihkan tatapannya dari jalan raya yang masih lumayan padat. Meskipun ia tahu kalau Nevan sudah belajar berhenti minum di dalam botol bayi, kevan tetap menawarkannya.
"Dia tidak mau." Jawab Ryan sebab merasakan kepala yang menyelip di ketiaknya menggeleng.
"Bagaimana hasil check up Nevan?"
"Sehat, bahkan berat badannya naik. Hanya saja, adikmu terlihat murung."
Kevan diam tidak menjawab, sementara Ryan menepuk-nepuk punggung bocah di pangkuannya dengan pelan. Dokter itu tahu jika salah satu pasiennya ini sudah dilanda kantuk berat.
"Ada sesuatu yang terjadi?"
Kevan menggeleng pelan, namun satu detik kemudian ia menganggukkan kepala. Hal itu sontak membuat Ryan bingung.
"Bicara yang benar."
"Ada satu masalah, nanti akan ku ceritakan. Tapi bolehkan aku meminta bantuan lagi?"
Salah satu alis Ryan terangkat heran. "Apa itu?"
Kevan melirik Nevan dengan ekor matanya. Terlihat bocah itu mulai memejamkan mata dengan nafas teratur. "Aku titipkan adikku di rumah paman."
KAMU SEDANG MEMBACA
NEOTEROS [END]
General Fiction[PRIVATE ACAK! SILAHKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "NENEN HIKS.." "Wtf?!!" Tentang kehidupan Nevaniel yang biasa di panggil nevan. Seorang laki-laki yang berumur 14 tahun dengan tubuh pendek di tambah wajah nya yang baby face membuat banyak orang berpi...
![NEOTEROS [END]](https://img.wattpad.com/cover/310116154-64-k71724.jpg)