Kalau ada typo, tandain dengan komen. Sama votenya ayang jangan lupa :)
•
•
•
Ryan menempelkan plester pada bekas tusukan jarum suntik di bahu si kecil. Sedangkan Nevan masih sesegukan dalam gendongan sang ayah yang setia mengelus punggungnya.
"Berapa lama?"
"Hanya 2 jam, karena aku memakai dosis rendah." Jawab Ryan atas pertanyaan temannya.
Gerald mengangguk samar berjalan ke arah kasur, lalu menidurkan putra manjanya di sana. Untunglah Nevan tidak menolak seperti beberapa waktu lalu.
Mata bocah itu juga mulai terlihat sayu dan beberapa kali mengerjab. Gerald duduk di samping kanan Nevan, lalu menepuk-nepuk pelan pinggul anaknya. "Tidurlah."
Nevan menggeleng lemah, tetapi entah kenapa matanya tidak bisa di ajak berkompromi sebab semakin berat saja. Padahal beberapa menit yang lalu masih terasa segar. "Pa, evan.. Mau susu."
"Tidak boleh! Nanti obat yang baru saja di minun tidak dapat bekerja dengan stabil." Bukan Gerald yang menjawab, tapi si cerewet Ryan.
"Hiks hiks tapi evan haus."
"Minum air putih, ya?" Bujuk Gerald.
Nevan kembali menggeleng dengan wajah kesal. Anak itu memutar tubuhnya hingga membelakangi Gerald dan Ryan.
"Biarkan saja." Kata Ryan pelan yang hanya bisa terdengar oleh temannya.
Gerald menaikan selimut untuk menutupi tubuh Nevan sampai leher. Mengusap lembut pucuk kepala sang putra agar lebih cepat terlelap ke alam mimpi. "Sleep well, baby."
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima menit, si bocah nakal itu akhirnya mendengkur halus. Ryan meregangkan otot tangannya seolah baru menyelesaikan tugas berat.
"Awal hari yang melelahkan."
Gerald terkekeh pelan. "Anggap saja ini latihan saat kau mempunyai anak nanti."
Ryan mendengus. "Jangan sampai sifatnya seperti Nevan. Kalau iya, aku mungkin akan stres di umur yang masih muda."
"Kau saja yang tidak memiliki kesabaran yang banyak."
"Bukan itu. Nevan yang terlalu nakal, kau tahu? Pasienku yang lain tidak separah anakmu saat sakit."
"Karena dia berbeda."
Tiba-tiba bunyi dering sebuah ponsel menghentikan percakapan ringan antara dua pria dewasa itu. Ryan mengambil benda pintar miliknya, lalu menekan icon hijau.
Ia berjalan kearah balkon untuk menjawab panggilan. Sedangkan Gerald ikut merebahkan tubuhnya di samping Nevan. Tangan besar itu membenarkan rambut bocah yang sedikit acak-acakan.
Pria tersebut tidak bisa marah saat kondisi Nevan memperihatinkan seperti ini tentang handphone miliknya yang sudah dipastikan tidak lagi berfungsi. Mengurus anak seperti Nevaniel kadang susah kadang juga mudah.
Yang terpenting, mood Nevan sedang dalam masa baik-baik saja.
Jari Gerald mengelus pipi chubby Nevan seraya menghapus jejak sisa air mata di sana. "Cengeng, tapi papa suka," gumamnya sedikit tersenyum.
"Duda tua."
Pandangan Gerald teralihkan pada Ryan yang baru kembali dari balkon. Cepat sekali dokter gadungan ini. Salah satu alisnya terangkat menunggu lanjutan kata dari temannya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
NEOTEROS [END]
Ficción General[PRIVATE ACAK! SILAHKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "NENEN HIKS.." "Wtf?!!" Tentang kehidupan Nevaniel yang biasa di panggil nevan. Seorang laki-laki yang berumur 14 tahun dengan tubuh pendek di tambah wajah nya yang baby face membuat banyak orang berpi...
![NEOTEROS [END]](https://img.wattpad.com/cover/310116154-64-k71724.jpg)