05. [ Spoiled ]

70.1K 5K 151
                                        

Gerald tidak tau setan apa yang merasuki tubuh putra bungsu nya. Dari sepulang kerja sampai tiba di rumah, nevan tidak mau jauh dari nya. Seolah bocah itu anak ayam yang selalu membuntuti sang induk kemanapun ia pergi.

Jujur, gerald senang bercampur bingung. Senang karena nevan yang benar-benar seperti bayi sedangkan bingung harus melakukan apa yang bisa membuat nya sedikit saja bebas dari nevan. Karena gerald juga butuh privasi, bukan?

Sudah pukul 4 sore dan sialnya gerald belum mandi. Ia bahkan menahan buang air kecil karena nevan menolak saat dekapan nya dilepaskan. Yup, saat pulang gerald menyuapi nevan makan sampai kenyang, lalu memandikan nya sampai anak itu bersih dan wangi.

Tapi saat giliran gerald mandi, nevan melarang. Anak bertubuh pendek tersebut ingin di gendong dan gerald menurutinya. Di otak pria itu mungkin hanya sementara karena efek dari kejadian di mobil membuat nevan takut. Namun apalah daya, dekapan itu tidak lepas selama 3 jam lebih.

Tangan nya kebas, meskipun nevan pendek dan kurus tetap saja jika di gendong selama satu jam lebih berat nya akan terasa. Oleh karena itu, gerald memilih duduk di sofa sembari memangku tubuh nevan yang menonton animasi kartun di televisi.

"Nevan ikut abang saja, ya?"

Zefran yang sudah pulang dari beberapa jam yang lalu itu menawari adik nya, karena kasihan melihat orang tua nya kesusahan. Ia tidak tahu pasti, apa yang membuat nevan seperti ini.

Kepala nevan menggeleng pelan tanpa menatap zefran sedikit pun, sebab fokus pada layar 57 inch di depan nya.

"Hanya sebentar, kalau papa sudah selesai bisa bersama papa lagi."

"Tidak mau." Kali ini nevan menjawab namun dengan nada kesal.

"Tapi papa belum makan, karena kam--"

"TIDAK MAU Hiks.. Hiks.. Papa, abang nakal."

Gerald mengembuskan nafas lelah karena nevan kembali memeluk leher nya hampir mencekik. Ditambah tangisan melengking tepat di samping telinga membuat nya tuli sementara. "Yasudah, zef. Biarkan saja, jangan di paksa."

Bukan zefran namanya jika membuat nevan tenang. Remaja lelaki itu berdiri dan berjalan ke arah steker. Melepas aluran listrik hingga televisi itu mati dalam sekejab.

Nevan menoleh ke arah barang elektronik itu sekarang berwarna hitam legam. "Ugh, mana tayo nya?"

Zefran tidak menjawab, tetapi menggendong nevan dan dengan lekas membawa nya menjauh dari gerald. Diam? Oh tentu tidak. Nevan menangis sambil memukul tubuh nya, kaki pendek itu menendang-nendang angin.

"Papa.. Papa hiks.. Papa." Tangan nevan berusaha menggapai gerald yang masih duduk tenang di sofa, sedangkan dirinya semakin menjauh.

Zefran berdecak samar. "Dasar drama prince."

"Hiks turunkan! Nevan mau papa huaaaa.."

"Hei, biarkan papa makan dulu. Apa kamu tidak kasihan dengan papa? Pakaian nya saja belum di ganti."

Bukan nya berhenti, adik nya itu semakin keras dan memberontak tak terkendali. "Diam lah, nevan. Nanti kau akan terjatuh," Peringat zefran mulai ikut kesal. "Mau ice cream, hm?"

Nevan mengangguk tanda setuju. Kapan lagi jadwal diperbolehkan memakan makanan dingin itu dipercepat seperti ini. Zefran terkekeh, kaki nya berbelok ke arah dapur. "Syarat nya berhenti menangis sekarang."

"Oke, tapi yang banyak mamam ice cream nya, ya?"

"Tidak, ice nya tinggal sedikit."

"Beli, bang zef 'kan punya banyak uang."

NEOTEROS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang