Ceklek..
"Bunda disini, sayang."
Nevaniel menatap lekat seorang wanita yang baru saja memasuki kamarnya. "Bunda?"
Lia mengangguk senang, tak lupa mematri senyum manis di bibirnya. "Ayo ke meja makan, bunda sudah memasakkan sesuatu untukmu."
Lia menarik lengan pendek Nevaniel.
Namun, Gerald tak tinggal diam, pria itu lebih dulu menahan agar sang putra tetap di pangkuannya. "Kau tak di izinkan masuk ke kamar ini tanpa izin."
"Aku bebas masuk ke kamar anakku sendiri. Bukan begitu 'kan, nak?" Lia menyentuh dagu Nevaniel menggunakan telunjuk dan ibu jarinya agar sedikit mendongak.
Nevaniel tidak berniat menjawab, bocah itu menatap sang ayah dan ibunya bergantian. Di dalam pikirannya, kenapa Gerald dan Lia seolah tidak akur. Sedangkan kedua orang tua teman-temannya tinggal satu rumah dan saling menyayangi.
"Kenapa papa membohongi Nevan?"
"Maksudmu?"
"Papa mengatakan kalau bunda sudah meninggal."
Gerald bungkam, otaknya tidak bisa berpikir jernih sekarang akibat pusing yang mendera. Sementara Lia sudah tersenyum licik mendapati sang mantan suami tidak mengeluarkan suara apapun.
"Nevaniel, ayo ganti plester demam mu dulu." Ryan berujar untuk memecah keheningan.
"Ugh, TIDAK MAU!" Nevan meninggikan suara ketika Ryan mencoba menarik tangannya.
Hal itu membuat ketiga orang dewasa di sana lumayan terkejut atas tindakan tak terduga si kecil.
"Nevaniel!!" Bentak Gerald. "Siapa yang mengajarimu berkata lebih tinggi dari pada orang lain, huh?!"
Kedua bahu Nevan merosot takut, bocah itu mundur dari jangkauan Gerald. Bibirnya sudah melengkung kebawah dan sedikit bergetar. Mata coklat keabu-abuan anak itu ikut berkaca-kaca.
"Ada apa ini?"
Tiba-tiba pintu yang awalnya terbuka sedikit, kini terbuka lebih lebar. Sosok kevin datang dengan keadaan yang terlihat sudah fresh, sepertinya pemuda itu baru selesai mandi.
"Kevin, gendong adikmu," suruh Ryan. Karena tidak mungkin ia yang menggendong, yang ada tubuhnya di tendang-tendang.
Tanpa banyak tanya, Kevin segera mendekati Nevaniel. Kemudian menggendong tubuh adik bungsunya yang menerima dengan baik. Nevan memeluk erat leher Kevin sambil menyembunyikan wajahnya.
Ryan mendorong pelan punggung Gerald agar bersuara atau sekedar meminta maaf karena telah membentak. Hal itu agar Nevaniel tidak salah paham. Namun, detik-detik berlalu, Gerald tidak mau menurunkan egonya.
Ryan menghela nafas pelan, ia menatap Nevan yang sudah menempel erat seperti monyet. "Bawa ke kamarmu saja, Kevin."
"Tidak perlu."
Tiba-tiba Gerald beranjak dari kasur, dan pergi keluar dengan langkah cepat. Ryan terperangah melihat pria yang terkenal berprofesi sebagai presiden direktur, kini seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Sekarang ia yakin jika sifat cerewet Nevan saat sedang sakit juga menurun dari sifat ayahnya. Sialan sekali, pasiennya di rumah ini menjadi dua orang. Kata libur sepertinya tidak ada dalam kamus hidup dokter itu.
Lia mengikuti keluar karena ada yang ingin ia bicarakan dengan mantan suaminya itu. Sedangkan di kamar hanya tersisa dua kaka beradik dan dirinya saja.
Kevin duduk di sudut kasur sambil tetap memeluk Nevaniel yang tidak bosan menempel pada tubuhnya. "Paman Ryan."
"Ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
NEOTEROS [END]
General Fiction[PRIVATE ACAK! SILAHKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "NENEN HIKS.." "Wtf?!!" Tentang kehidupan Nevaniel yang biasa di panggil nevan. Seorang laki-laki yang berumur 14 tahun dengan tubuh pendek di tambah wajah nya yang baby face membuat banyak orang berpi...
![NEOTEROS [END]](https://img.wattpad.com/cover/310116154-64-k71724.jpg)