Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Gimana kabar kalian? Sehat dong, harus sehat yaaa ....
Part kali ini cukup panjang, semoga kalian suka.
Warning!!
Vote dan komen kalau kalian suka sama cerita ini dan tambahin ke perpustakaan kalian buat gak ketinggalan update terbarunya. And terakhir aku mohon jangan bawa-bawa nama tokoh lain atau cerita lain di lapak aku, hargai author ya, xixixi
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sepeninggal Dewa dari rumah kediaman Alexander. Kini ruang tv menjadi hening. Anara sibuk menonton kartun upin-ipin, sedangkan Arkan hanya ikut-ikutan saja. Sesekali dirinya mencuri pandang istirnya.
Hari semakin sore tidak terasa suara azan berkumandang begitu merdu. Atensi kedua pasangan yang baru menikah itu teralihkan. Mereka bangkit menuju kamar untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Satu Minggu sudah mereka menikah. Selama itu pula keduanya sudah terbiasa shalat bersama.
"Ar, buruan keburu abis waktunya!" Anara sedikit berteriak kala suaminya tak kunjung keluar dari kamar mandi.
'Semedi kali ya. Lama amat di kamar mandi' Bibirnya mengerucut tanda dia sudah sangat sebal. Namun, tiba-tiba sebuah pukulan lembut mendarat di pipinya.
"Ck, ngelamun." Arkan sudah siap di saf depan membenarkan letak pecinya.
"Tega lo KDRT, Ar." Anara menekat kata 'KDRT' mengelus pipi yang terkena lemparan peci milik suaminya.
Arkan menghiraukan saja. Jika dia menyahuti maka tidak akan selesai sampe subuh nanti. Anara keras kepala dan tidak mau ngalah, Arkan tau itu dan memilih diam agar aman.
Lima menit. Mereka sudah selesai dengan ibadahnya. Arkan memimpin doa juga yang di aminkan oleh Anara dari belakang. Gadis itu diam-diam mencuri pandangan suaminya, tampan kata hati Anara.
'Masya Allah. Apa iya ini suami gue? Kok, cakep amat' Anara tersenyum tipis. 'Tunggu, otak gue kayanya gila bisa bilang Arkan cakep. 5 tahun sahabatan baru kali ini gue bilang gitu' Anara menggeleng kecil menyingkirkan pikirannya fokus kembali berdoa.
Usai berdoa, Arkan mengulurkan tangan dan di balas oleh Anara menyalami takzim serta mencium singkat. Arkan pun mencium kening istrinya cukup lama. Rutinitas baru selepas shalat katanya. Walaupun awalnya Anara menolak, tetapi mendengar kata 'durhaka' dia pasrah saja.
"Ar, makan yuk. Gue laper." Anara sudah melepas mukena menaruh di atas sajadah.
"Jelasin lo kemarin malam ngapain aja?" tanya Arkan masih duduk di sajadahnya menarik lengan Anara agar duduk kembali.