Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lo mending pergi dari sini, Re!" ketus Arkan dengan tatapan datarnya.
"Gak. Gue mau jagain lo di sini sampe tante Rani datang." Rere menggeleng keras, sambil mencebikan bibirnya kesal.
Mendengar itu Arkan semakin kesal. Dia jengah menatap wajah Rere, karena bayangan kejadian kemarin selalu muncul.
Sorot mata kekecewaan Anara dan kesedihan mendalam di sana membuat Arkan terus merasa bersalah, apalagi tadi saat dirinya diberikan kepada Rere untuk dibawa ke UKS Arkan bisa merasakan tangan Anara bergetar menahan tangisan.
"Ck, gue bilang pergi!" hardik Arkan mendorong kasar tubuh Rere.
Gadis itu tersungkur ke lantai dengan sangat mengenaskan. Jidat yang terbentur cukup kerasa dan bibir mencium lantai.
"Enyah dari sini, Rere!" teriak Arkan melempar bantal yang ada di ruangan itu.
Air mata gadis itu keluar sudah dari tempatnya. Rasanya begitu sakit di usir oleh orang sangat dia sayangi.
Apa salahnya, dia hanya ingin menemani sebentar. Namun, mengapa Arkan sangat marah.
Rere menghapus sisa air matanya, lalu dia bangkit dan pergi dengan cepat dari sana. Sudah cukup dia terkena amukan Arkan kemarin malam. Cukup hati dan tubuhnya sakit atas perlakuan Arkan.
Berbeda dengan Arkan yang terbaring di ruang kesehatan seorang diri. Keempat sahabatnya sedang bersenang-senang di taman sekolah.
"Pulang sekolah nonton yuk, ada film baru," ajak Ratu antusias sambil memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.
"Film apa?" Rafly mengambil tangan Ratu untuk menyuapi dirinya. Tak lupa setelah makanan masuk dia menggigit jari tengah kekasihnya itu cukup keras.
"Anjir, sakit gila!" teriak Ratu memukul bahu Rafly kencang.
Teriakan itu refleks membuat Anara dan Dewa terperanjat dan menatap khawatir.
"Kenapa, Tu?" Anara dan Dewa berbarengan.
"Kanibal ini gigit gue," adu Ratu menunjukkan jari bekas gigitan Rafly.
"Rafly, lo jangan gitu dong. Kasian Ratu tangannya sampe merah gitu," tegur Anara mendelik tajam.
Sang empu membalas dengan cengiran bagai kuda, "Gemesin soalnya gak tahan pengen gigit," ujarnya.
"Sama. Gak tau tempat emang dua bocah ini," sahut Dewa.
"Uwwu phobia gak akan kuat melihat ini!"
"Mana depan kaum jomblo!" Nada bicara Dewa naik sedikit, tetapi tidak membuat Rafly atau Ratu tersadar.
Kedua kekasih itu masih dengan keromantisan. Rafly yang mengelus-elus jari-jari hingga kemerahan itu menghilang sempurna.
"Udah sembuh, Sayang," ujar Rafly mengambil kesempatan mengecup pipi Ratu.
"Kang nyosor dasar!" ketus Ratu kembali merajuk.
Perbuatan itu membuat Dewa refleks menutup mata Anara dan dirinya, "Jangan nodai mata kami kakak-kakak!" Dewa berucap keras.
Anara yang ditutup matanya tiba-tiba menegang saat tubuhnya menempel begitu dekat dengan Dewa bahkan bisa disebut berpelukan sedikit.
'Ar, maafin Anara gak sengaja dipeluk Dewa'
Posisi yang begitu dekat menyebabkan Dewa dapat menatap lebih dalam mata hazel begitu indah kala ditatap lebih dekat. Pipi chubby, lesung pipi dan hidung mancung sungguh luar biasa ciptaan-nya.
"Wa, jangan tatap gue kaya gitu. Serem tau," cicit Anara menjauh dari lelaki itu.
"Indah," lirih Dewa sangat pelan.
UKS SMA Sagitarius
"Anara di mana, Ar, kenapa dia gak ada di sini?" Rani melihat ke seluruh penjuru tempat ini.
"Anara lagi ada kegiatan, Ma, biar Arkan telepon dulu." Bohongnya untuk kesekian kalinya lagi.
'Maaf, Ma, Arkan sama Anara belum bisa cerita'
Arkan mengambil benda pipih disaku celananya, lalu dia mendelai nomor istrinya. Entah akan diangkat atau tidak, tetapi semoga saja iya.
Rani mengamati pergerakan anak semata wayangnya itu yang aneh dan terlihat gelisah, padahal dirinya cuma menanyakan keberadaan mantu kesayangannya saja.
'Ada yang gak beres pasti ini' filing Rani mengangguk yakin.