Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Aloo, bagaimana dengan hari ini? Bahagia atau sedih? Kalau emang belum bahagia tenang aja, pasti itu akan datang sebentar lagi, walaupun bukan sekarang.
Eh iya, jangan lupa baca surah Yasin.
Enjoy sama ceritanya 🌻
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa ini yang di sebut most wanted SMA Sagitarius? Yang suka mainin hati perempuan, padahal itu istrinya sendiri, loh!" Ratu bertepuk tangan dengan tawa menjengkelkan dan pernyataan itu sontak membuat semuanya tercengang.
Gadis itu seakan tidak sadar dengan ucapannya.
Hampir semua warga SMA Sagitarius mendengar itu, karena suara Ratu amatlah kencang.
Mereka mulai berbisik-bisik membincangkan kalimat yang baru masuk ke gendang telinganya.
"What, masa depan gue udah nikah?"
"Ya ampunnn, Beby Arkanku udah beristri!"
"Gila ini berita hot!"
"Gagal sudah jadi menantu tunggal kaya raya!"
"Si tampan untuk si cantik memang udah hukum alam."
"Gak mungkin pacar halu gue udah nikah!"
Masih banyak lagi histeris respon kaum betina yang patah hati mendengar kabar mengejutkan ini. Ada juga sampai pingsan dan menangis.
Sedangkan orang yang di perbincangkan hanya bisa pasrah setelah ini akan terjadi apa. Mungkin di keluarkan dari sekolah kemungkinan terburuknya.
"Gimana bapak Arkan, udah puas bikin cewek sebaik Anara di hancurin berkali-kali?" Ratu menaikan satu alisnya seakan menunggu jawaban lelaki kejam yang bodohnya sahabat dia sendiri.
"Gue kira setelah lo denger amukan gue di rumah sebelum ujian bakalan berubah. Cuma gue salah, sahabat gue ini semakin menjadi cowok paling brengsek!" Ratu menekan kata terakhirnya sambil menatap tajam.
"Gue kemarin berharap banget setelah lo tau gimana Anara yang suka di bully dari SMP sampai sekarang karena sahabatan sama lo, gimana dia yang selalu di kata-katain sama anak-anak, gimana dia yang selalu pakai topeng di depan kita saat dia sedih. Gue kira setelah lo denger sedikit tentang Anara bakal jadi Arkan yang dulu!" hardik Ratu. Napasnya mulai memburu.
"Bukan Arkan yang brengsek," lirih Ratu setetes air mata menerobos keluar dari tempatnya.
"Apalagi setelah gue tau kalian resmi nikah. Gue pikir Anara bakal bahagia dan kesedihan dia bakal ilang. Nyatanya lo makin bikin hidup Anara menderita dan kesedihan hadir setiap harinya."
"Mana tanggung jawab lo sebagai suami. Mana janji lo sama Allah dan Pipi Adit. Mana bukti sebagai suami yang bakal lindungi istrinya kapanpun?!" cecar Ratu tidak dapat membendung air matanya lagi.
"Mana, Ar, Mana!" jerit Rere mengguncangkan tubuh lemas Arkan.
Rafly sigap merengkuh tubuh kekasihnya yang sudah menangis histeris. Rafly paham bagaimana sakitnya Ratu saat melihat sahabat kecilnya tersakiti dan dia saat itu cuma bisa diam.
Rafly mengelus surai hitam panjang milik Ratu. Dia memberi ketenangan agar tangis gadisnya mereda.
Tidak hanya Ratu yang menangis. Beberapa murid lainnya pun ada yang ikut meneteskan air mata.
Mereka baru mengetahui bahwa Anara korban bullying yang terus bungkam, Anara istri yang di duakan oleh suaminya di depan mata kepalanya sendiri, bahkan dia menyaksikan pengakuan hubungan gila itu di hadapan ratusan orang.
Mereka merasa salah dan menyesal sudah menuduh Anara gadis tidak benar waktu itu. Mencemooh dengan hal yang belum tahu kebenarannya, menyakit fisik serta batin selama beberapa bulan ini.
Mereka sadar itu salah.
"Suami jahat lo itu, Ar!" jerit Ratu dalam dekapan Rafly.
Suara kencang itu membuat gadis kecil dengan rambut sedikit berantakan dan baju cukup kotor menerobos kerumunan di sana.
Dia panik saat mendengar suara yang begitu di kenali menjerit histeris. Dia takut akan terjadi sesuatu dengannya.
Semua orang yang menyaksikan gadis itu berjalan seketika mematung dan menatap dengan ekspresi susah di tebak.
"Tu, Ratu kenapa nangis?" Raut wajah Anara terlihat sangat khawatir. Dia ingin menarik lengan orang di sayang setelah keluarganya, tetapi dia sadar bahwa dirinya belum berbaikan dengannya.
"Ratu, siapa yang bikin kamu nangis?" tanyanya lagi.
"Fi, lo bikin dia nangis?" Anara menatap tajam bersiap akan memukulnya, tetapi Ratu menahannya dan dia menghambur ke dalam pelukan Anara.
Untung saja Anara dapat menahan beban tubuhnya. Jika tidak, sudah dipastikan keduanya terjungkal.
"Eh." Anara tercengang melihat apa yang dilakukan Ratu.
Apa ini, Ratu memeluknya lagi. Apa dia sudah memaafkan dirinya atau kenapa, pikir Anara. Tak mau ambil pusing Anara membalas pelukan itu.
Orang yang dia rindukan selama beberapa bulan terakhir. Pelukan yang sangat ingin dia dapat. Kini, dia bisa merasakan itu.
Anara mengelus punggung Ratu sambil membisikkan kata-kata penenang.
"Tenang semuanya bakal baik-baik aja," bisik Anara tepat di telinganya.
"Semua yang kamu pikirin belum tentu bener."
"Rileks dan atur napas biar bisa mikir jernih."
Seperti itu lah, Anara menenangkan Ratu saat menangis.
Sekitar lima menit, Ratu sudah mulai tenang dan dia merelai pelukannya.
Setelah Ratu kembali berdiri dengan tegap. Barulah Anara menyadari bahwa dirinya sekarang menjadi pusat perhatian semua orang di sana.
"Astaghfirullah, ngapain kalian di sini," ucap Anara cukup keras melirik mereka satu-persatu.
'Arkan, siapa yang mukulin dia' Raut kekhawatiran terlihat dari mata dan wajah yang seketika menegang.