Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebuah sepeda motor tiba di cafe dengan nuansa khas anak muda. Arkan, lelaki itu sudah membuat janji dengan seseorang. Dia datang sendiri, Anara sudah dititipkan lebih dulu kepada orang tuanya.
Lelaki itu sengaja tidak membawa Anara. Dia ingin membahas hal penting dengan seseorang dan itu tidak boleh diketahui oleh istrinya.
Arkan datang lebih dulu sebelum orang yang ingin bertemu dengannya datang. Dia hendak memesan kopi dahulu, tetapi ternya yang ditunggu sudah tiba.
"Ngapain lo suruh gue ke sini?" Sosok itu duduk di depan Arkan dengan tatapan dingin.
"To the point aja. Gue mau lo jauhin Anara." Arkan menyenderkan punggungnya di sofa yang dia duduki.
"Apa?" Sosok itu seakan terkejut dan merasa salah dengar.
"Jauhin Anara." Arkan menekan setiap kata menatap dingin juga.
"Gak mau. Lo gak ada hak buat suruh gue jauhin dia. Siapa lo!" Seorang itu menolak mentah-mentah, dia tidak mau pergi lagi untuk kedua kalinya dari gadis yang dia cintai.
"Gue suaminya." Arkan dengan wajah tanpa ekspresi. Sejujurnya malas menemuinya, tetapi apa boleh buat. Dia tidak mau istirnya direbut oleh siapapun. Apa yang dia miliki tidak bisa dimiliki orang lain juga.
Mendengar penuturan Arkan. Sosok itu menatap tajam penuh emosi. Rahangnya mengeras, urat-urat wajah dan lehernya terlihat, napas dia seakan berhenti. Tidak, dia tidak mungkin salah dengar 'kan? Gadisnya telah mempunyai suami? Dia tidak suka pernyataan itu.
"Lo bohong!" bentak Derent tersulut emosi membuat beberapa pengunjung cafe menatapnya.
Arkan menarik napas panjang, "Mau bukti?" tanyanya menaikan satu alis.
"Gak. Lo bohong!" ketusnya menarik kerah seragam sekolah Arkan.
"Lo gak akan bisa pisahin gue sama Anara." Penuh keyakinan Derent mengucapkan itu, lalu memukul wajah Arkan.
Bugh
"Itu pukulan karena lo lancang suruh gue jauhin Anara."
Bugh
"Ini pukulan karena lo ngaku-ngaku jadi suami Anara."
Bugh
Tiga pukulan mendarat di wajah Arkan hingga membuat sudut bibirnya sedikit robek sekaligus mengeluarkan darah segar. Lelaki itu tidak membalas, dia tidak mau mengotori tangannya untuk hal seperti ini.
Tujuannya ke sini untuk menghentikan aksi Derent. Iya, Derent Andrianto mantan gebetan istirnya yang terang-terangan mengejar gadis itu lagi.
"Nih, buku nikah gue dan ini foto pernikahannya." Arkan melempar bukti itu dengan kasar tepat di depan mata Derent.
"Masih kurang yakin?" tanyanya kala melihat kepala Derent menggeleng tanda tidak terima dengan hal ini.
"Dewa," panggil Arkan dan sosok itu langsung datang.
"Gue saksi pernikahan mereka." Dewa membuka suara setelah berdiri di samping sahabatnya.
"Gue mohon lo jauhin Anara karena dia istri Arkan," lanjutnya.
"Buat semua pengunjung cafe kita minta maaf sudah membuat kegaduhan." Dewa tersenyum kecil kepada semuanya dan mereka hanya mengangguk kembali melanjutkan kegiatan masing-masing.
Derent, lelaki itu memandang kosong ke arah bukti yang diberikan Arkan. Hatinya sesak seakan ditusuk seribu pisau. Harapannya pupus sudah sebelum mengatakan isi hati kepada gadis pujaannya. Gadis yang menjadi motivasi untuk bertahan hidup hilang sudah. Dia gagal, gagal untuk memilikinya.
Sekuat tenaga dirinya menahan untuk tidak menangis. Dia tidak mau terlihat lemah dihadapan siapapun. Buru-buru dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi. Arkan hendak mengejar, tetapi tangan kekar Dewa lebih dulu membawanya untuk duduk.
"Biarin aja. Dia butuh waktu buat merenungkan kenyataan ini." Dewa menepuk bahu Arkan pelan.
"Tatapan dia kosong," lirih Arkan saat mengingat kejadian beberapa menit lalu.
"Gue juga liat. Cuma mau gimana lagi Anara milik lo dan gak bisa dibagi dua," sahut Dewa. Dia merasa iba terhadap Derent. Namun, jika tidak diberitahu sekarang hal-hal menyakitkan pasti akan terjadi dan dia tidak mau itu.
Hening. Arkan sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia bingung harus seperti apa sekarang. Melihat tatapan kosong seakan kehilangan kehidupan di mata Derent membuatnya iba. Namun, dia tidak mau apa yang dimilikinya direbut orang lain.
15 menit, Dewa kembali membuka percakapan diantaranya setelah meminta p3k kepada pelayanan cafe.
"Obati luka lo. Baru abis itu balik." Dewa menyodorkan kotak itu membuat lamunan Arkan buyar.
"Gak usah." Arkan menggeleng kecil.
"Ck, jangan batu deh, Ar." Dewa berdecak kesal. Saat terluka sahabatnya ini selalu menganggap enteng.
"Obati atau gue bilang Anara lo berantem," ancam Dewa menaik turunkan alisnya.
Mendengar itu Arkan membuang napas kasar menatap sahabatnya tajam. Dia tidak bisa jika membawa nama Anara, apa lagi ini mengadu dirinya yang berkelahi, walaupun tadi dia tidak membalas. Namun, bekas luka sudut bibir dan lebam di wajahnya bisa menjadi bukti bahwa dia melakukan itu.
Berat hati lelaki itu mengambil kotak obat dan mulai membersihkan lukanya. Dewa melihat hal itu tersenyum bangga, pasalnya dia bisa membuat seorang Arkan menurut kepadanya.
Cukup lama lelaki itu mengobati dirinya. Dewa lebih dulu pamit. Dia ada urusan lain dan ini sangat penting.
Di sini Dewa sekarang. Sebuah apartemen lelaki yang baru dia temuin setelah beberapa tahun. Dewa mengetuk pintunya. Cukup lama akhirnya dibuka juga.
"Mau apa lo?" Lelaki itu menatap dingin kearahnya.
"Keadaan lo gimana? Lo baik-baik aja 'kan?" Dewa menghiraukan pertanyaan itu. Dia menatap sendu kearahnya.
"Seperti yang lo liat," jawabnya malas. Dia tidak suka lelaki dihadapannya. Sosok yang disebut sebagai kakak tirinya.
"Lo itu pembohong. Wajah lo mungkin baik-baik aja, tapi gue tau hati lo rapuh." Dewa menyelonong masuk ke dalam.
"Lo bermuka dua buat nutupin luka lo itu."
"Gak usah so tau!" ketus lelaki itu menutup kasar pintu membuat bunyi keras terdengar.
"Faktanya emang gitu," timpal Dewa.
"Ck, to the point aja mau apa lo." Dia sangat malas berbicara dengan kakaknya ini.
"Belajar dari hujan walaupun dia jauh berkali-kali masih tetap akan jatuh." Dewa melenggang pergi.
~~~ TBC!!
Selamat datang di ceritaku!!
Makasih yang udah baca part ini!! Jangan lupa masukan ke perpustakaan kalian dan vote juga komen.