Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
"Angkat teleponnya dering terus itu," balas Ratu menunjuk ke arah benda tersebut.
"Siapa emangnya?" Rafly mengambil handphone Anara dan melihat si penelepon itu siapa.
"My Husband," ujarnya.
"Arkan dong," timpal Ratu menatap wajah Anara dan gadis itu mengangguk kecil.
"Angkat buruan siapa tau aja penting," sambung Rafyl memberikan benda itu kepada pemiliknya.
"Gak usah!" Tegas Dewa melarangnya.
"Gak penting angkat telepon dari dia. Mending lanjut makan aja kita." Dewa merampas benda pipih itu dan mematikan dayanya.
Aksi Dewa tak luput dari kedua sahabatnya dan Anara yang hanya diam. Entahlah, Anara bingung sekarang dan bertanya-tanya.
Apa tujuan suaminya menelpon dirinya. Bukannya lelaki itu tengah berduaan dengan kekasihnya. Lantas untuk apa menghubunginya. Apa lelaki itu ingin pamer kemesraan. Ah, sungguh banyak pertanyaan dibenaknya.
Di sisi lain Arkan kembali mencoba menghubungi istirnya, walaupun dia tahu akan mustahil untuk diangkat setelah apa yang dia lakukan.
Apa boleh buat Arkan harus berusaha mendatangkan Anara karena sang mama terus menunggu menantu kesayangannya.
"Kenapa, gak diangkat?" Rani menaikan satu alisnya setelah dia kembali dari ruang kepala sekolah untuk meminta izin Arkan dan Anara pulang lebih awal.
"Anara lagi sibuk kayanya, Ma," balas Arkan bangun dari tidurnya.
"Mama tanya ke kepala sekolah katanya semua murid lagi istirahat," sahut Rani berdiri tepat didepan putra satu-satunya.
"Kamu gak lagi bohong sama mama, kan?" Rani menatap penuh intimidasi.
Mendapat tatapan dan pertanyaan itu membuat Arkan panas dingin. Dia takut jika harus jujur tentang semuanya dan sang mama serangan jantung mendadak.
"Engg-enggak, Ma." Arkan terbata-bata.
"Oke, kamu lagi bohong dan mama mau kalian jujur," tegas Rani terus menatap penuh intimidasi.
***
"Nelepon lagi," ujar Anara melihatkan ponselnya kepada ketiga sahabatnya.
"Angkat."
"Jangan di angkat."
Dua perkataan itu terucap di mulut Ratu dan Dewa secara bersamaan. Ratu dan Dewa saling melirik satu sama lain.
"Angkat, Ra, siapa tau aja ada hal penting." Ratu beralih menatap Anara dan mengangguk meyakinkan bahwa gadis itu harus mengangkatnya.
Anara membalas tatapan Ratu, lalu dia menekan tombol hijau pertanda panggilan tersambung. Anara diam saja setelah itu dan dia menunggu sang penelepon bersuara.
"Ra, mama ada di UKS dan minta kamu ke sini sekarang," ujar Arkan di seberang sana.
"Oke." Anara langsung mengakhiri sambungan telepon, lalu dia buru-buru mengemas tas dan berlari dari sana.
***
"Kalian gak lagi sembunyiin apa-apa dari mama, kan?" Rani menatap dua kesayangannya yang duduk di jok belakang.
Iya, setelah Anara berlari dari ketiga sahabatnya tanpa pamit. Kini gadis itu sedang bersama Rani dan juga Arkan menuju rumah keluarga Prasetya.
"Enggak kok, Ma," jawab Anara santai tanpa ada beban.
"Mama nanya itu terus. Padahal Arkan udah jawab kita baik-baik aja," sahut Arkan mencebikan bibirnya sebal.
"Sama kamu gak meyakinkan," timpal Rani.
Setelah itu tidak ada obrolan apapun lagi dan mereka fokus dengan perjalanan yang lumayan jauh.
17 menit, kini mobil berwarna putih tulang itu sampai dikediaman Prasetya. Kata Mama Rani nanti malam akan mengadakan acara makan malam atas ujian Arkan juga Anara yang sudah selesai.
Ketiga orang di dalam mobil tersebut keluar dan memasuki pintu utama rumah mewah nan megah.
"Kalian istirahat aja dulu. Kasin Arkan juga masih babak belur itu," ujar Rani sesaat setelah berada di dalam.
"Anara ganti perban dan obatin luka Arkan juga ya, Sayang." Rani mengelus rambut hitam panjang Anara serta tersenyum lebar.
"Siap, Ma," Anara membalas senyuman itu tak kalah manis.
Rani pergi ke atas kamarnya karena dia akan menyiapkan acara makan malam nanti bersama ART di rumah ini.
Di bawah hanya tersisa Arkan juga Anara. Hawa canggung terlihat di antara keduanya. Anara diam di tempat begitu juga dengan Arkan.
'Gue harus ngapain sekarang. Apa turutin ucapan mama tadi?'
'Iya mending turutin daripada ketauan' Anara ingin beranjak dari sana, tetapi tangan kekar Arkan menahannya.
"Aku mau ngomong." Arkan menarik gadis itu ke arah kolam renang samping rumah.