34 || Terjadi Juga

65 1 0
                                        

Sama seperti hari-hari sebelumnya, Anara berangkat bersama Arkan. Kali ini keduanya datang sedikit siang, karena Anara berulah lagi di dapur, apalagi kalau bukan jari jempolnya ke iris pisau. Sudah biasa, batin Arkan.

Jika hanya satu kejadian itu saja, mungkin keduanya tidak akan datang 15 menit sebelum bel. Namun, Anara terjatuh di dekat tangga saat buru-buru ingin berangkat.

Iya, lagi-lagi Arkan berkutat dengan obat merah serta alkohol. Dua kali untuk hari ini, entah kejadian seperti apa yang akan terjadi lagi. Sudah banyak goresan luka di tubuh mulus Anara, karena apa? Sudah pasti kecerobohannya.

Saat kejadian tadi pagi pula, Arkan menasehati Anara sepanjang perjalanan. Hal biasa bagi Anara, karena omelan Arkan artinya dia sayang dengannya bukan? Makanya, Anara justru tersenyum senang, bukannya kesal.

"Aku lagi marah loh, ini. Bisa-bisanya kamu senyum seakan-akan gak terjadi apa-apa." Arkan menggeleng kecil menjawil hidung mancung Anara.

"Gak papa. Kamu ngomel itu artinya sayang sama aku dan khawatir kalau aku kenapa-kenapa. Right?" Anara melebarkan senyumannya.

"Iya-iya, gimana kamu aja. Udah ayo, keburu bel." Arkan membuka pintu kemudi dan berjalan ke arah Anara membukakan pintunya.

"Makasih, Mas Suami," bisik Anara tepat di telinganya dan itu membuat raut merah terlihat di telinga Arkan.

"Nakal." Arkan menyentil kening Anara, bisa-bisanya kulkas berjalan dibuat salah tingkah.

"Cie, blushing." Anara terkekeh geli menatap Arkan.

Senyum dan raut gembira Anara seketika hilang, saat mendengar teriakkan seorang gadis di depannya. Gadis dengan rambut tergerai bebas itu berlari ke arahnya.

"Lo harus ikut gue." Tangan mungil Anara di tarik paksa dan dibawa lari oleh gadis itu.

Arkan, lelaki itu pun mengikutinya dengan sedikit berlari.

Ricuh, banyak murid-murid di koridor yang menatap terang-terangan jijik ke arah ketiganya yang berlari.

Tiba di mading yang terdapat banyaknya orang, seorang gadis mengintruksikan agar mereka meminggir. Saking kencangnya suara gadis itu, semua orang menepi.

Anara dibawa ke depan mading dan gadis itu menunjuk sebuah foto di sana. Tatapan bingung Anara yang sedari tadi terlihat, kini berubah datar.

Badan Anara menegang, napas seakan tercekik di tenggorokan dan kakinya bagai jeli. Kalau saja Arkan tak memegang pundaknya, Anara sudah pasti luruh lantak ke lantai.

"Maksudnya apa, Ra?" tanya gadis yang membawa Anara ke sini. Terlihat jelas raut kecewa dimatanya.

"Ini bukan lo, 'kan?"

"Foto ini editan, 'kan?"

"Berita ini cuma hoax, 'kan?"

"Lo gak ke hotel sama om-om, 'kan?"

"Jawab, Ra. Kasih tau yang lain kalau ini bukan lo!" jerit Ratu histeris mengguncangkan pundak badan Anara yang hanya diam mematung.

"Bukan Anara sahabat gue."

'Bener terjadi ternyata' Anara menangis dalam diam.

Guncangan dari Ratu dan ujaran pertanyaan terus-terusan dari mulut mungil sahabatnya itu membuat dirinya tak bisa membendung air mata di balik pelupuknya.

Lolos, kristal itu mengalir di pipi chubby Anara. Namun, tangisan itu membuat beberapa siswa dan siswi mencemooh dirinya.

"Udahlah, pasti itu emang dia. Buktinya dia diem aja gak ngelak apapun!" seru gadis dengan senyum penuh kesenangan.

ARKANARA {Sahabat Tapi Menikah} Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang