21 || Dingin, tapi Romantis

59 1 0
                                    

"Ar, kita mau ke mana?" tanya seorang gadis dengan sedikit berteriak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ar, kita mau ke mana?" tanya seorang gadis dengan sedikit berteriak.

Tidak ada jawaban.

"Ar, lo mau kasih kejutan lagi?" Dengan percaya diri gadis itu sangat yakin, bahwa suaminya akan mengasih kejutan.

"Geer!" seru Arkan membuat senyum Anara luntur sudah. Namun, sedetik kemudian dia tersenyum tipis.

"Ngarep sama suami sendiri gak papa dong," sahut Anara menempelkan dagunya di bahu Arkan tengah mengendarai kuda besi.

"Oh, udah anggap suami toh."

"Ih, Arkan sendiri yang bilang mulai dari awal. Apa omongan waktu itu cuma bohong." Anara memicingkan matanya tidak suka.

"Mungkin," balas Arkan.

"Mungkin? Kok, Arkan jahat sih." Pukulan di punggung begitu keras membuat sang empu meringis kesakitan.

"Terus apa maksudnya tadi pagi kasih banyak cokelat sama bunga. Terus itu juga sarapan pagi sama habisin waktu pagi sampe siang bareng. Mana romantis banget lagi." Akhir kalimatnya di ucapakan lirih.

"Apa itu semua bohongan?" Anara menggebu-gebu menanyakan itu.

"Apa, Arkan cuma mau mainin perasaan Anara?"

"Tega!" jeritnya membuat pasang mata yang tengah berkendara melirik ke arah keduanya.

Lihat, sang pengemudi justru malah terkekeh geli mendengar semua ocehan istrinya. Sedikit kemudian dia membawa sepeda motor itu dengan kecepatan tinggi membuat Anara memeluknya begitu erat.

"Arkan jahat gue hampir terbang!" teriakan itu melengking menusuk telinga Arkan yang dibalut helem.

"Hampir 'kan? Bukan beneran terbang," balasnya.

"Sama aja," ujar Anara pelan, karena saat ini Arkan mengendarai dengan kecepatan pelan.

"Beda. Apa yang sama?"

"Sama-sama terbang."

"Enggak dong. Beda opsi itu, Ra." Kali ini Arkan tidak mau mengalah. Senang rasanya melihat raut kesal di wajah sang istri.

"Bodo amat gue marah." Anara memalingkan wajahnya dengan bibir mengerucut.

"Marah kok ngomong sih." Arkan mengulum senyumannya.

"Suka-suka lah. Siapa gue ngatur-ngatur."

"Suami." Arkan mengelus punggung tangan Anara yang melingkar di pinggangnya.

Sontak Anara menarik paksa tangannya, "Modus mulu!"

"Halal, Ra. Gak modus gue." Arkan mencoba menarik pergelangan tangan Anara agar memeluknya lagi.

"Hilil ri gi midis gie," cibir Anara.

~~~

Di sini Arkan dan Anara berada. Tempat wahana permainan daerah Jakarta. Mata hazel Anara berbinar seketika menyusur semua area yang ada di depannya.

ARKANARA {Sahabat Tapi Menikah} Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang