Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sepeda motor sport berwarna hitam terparkir rapi berderetan dengan yang lainnya. Anara turun perlahan membuka helem usai Arkan menyuruhnya turun.
"Tunggu." Arkan mencegah tangan Anara saat ingin berjalan lebih dulu.
Anara berbalik badan menghadap Arkan mengangkat satu alisnya seakan berkata ada apa.
"Bareng." Arkan menggenggam pergelangan mungil Anara, lalu mensejajarkan jalannya.
"Kirain kenapa." Anara menghela napas panjang menganggukkan kecil.
Sorot mata siswa-siswi berlalu lalang di luar kelas menatap ke arah Anara dan Arkan. Sudah hal biasa tentunya, tetapi Anara selalu risih. Beda dengan Arkan tidak memperdulikan hal itu.
Keduanya terkenal pintar dan suka mengikuti berbagai olimpiade di sekolah. Tidak heran mereka dikenal banyak orang kalangan SMA Sagitarius. Ketampanan dan kecantikan mereka menambah poin plus untuk menyukainya. Jangan lupakan Arkan ketua basket dan Anara ketua ekskul teater.
"Ar, lo pegang tangan gue kenceng banget, deh," bisik Anara menatap genggaman Arkan.
"Sengaja," singkat Arkan tatapan matanya lurus dengan wajah datar tanpa ekspresi. Namun, terlihat tampan bagi kaum hawa.
"Sakit," cicit Anara mengerutkan keningnya.
Anara kesal tidak mendapatkan respon apapun oleh suaminya. Tangannya begitu sakit serasa diremas. Muak juga tatapan para gadis seakan lapar melihat wajah tampan Arkan. Semakin kesal kala sosok centil menghampiri dirinya. Larat hanya Arkan.
"Ka Arkan, selamat pagi," sapa gadis dengan rambut diikat satu menampilkan leher jenjangnya yang putih. Seperti ingin menggoda bukan.
"Pagi, Rere." Anara membalas sapaannya dan tersenyum lebar serta manis membuat kaum adam menjerit.
Rere melirik tidak suka ke arahnya. Bukan suara dia yang ingin di dengar oleh Rere. Akan tetapi, suara lelaki tampan pujaan banyak orang.
"Ka Arkan, bisa ajarin aku gak?" Rere menatapnya genit, walaupun lelaki itu sama sekali tidak meliriknya.
"Gak bisa. Arkan sibuk," jawab Anara ketus menatap suaminya meminta agar mengangguk.
Arkan yang mengerti maksudnya langsung mengangguk kecil menarik tangan istrinya pergi dari sana. Dia tidak suka mengobrol dengan orang asing modelan seperti Rere.
Rere yang ditinggal begitu saja sontak terkejut. Kedua bola matanya membulat sempurna. Hal itu masih dilihat oleh anak-anak lainnya dan membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
"Makanya gak usah caper!" teriak teman sekelasnya berdiri tidak jauh dari dia.
"Tau, caper mulu udah tau gak di respon," sahut teman lainnya.