Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bel istirahat berbunyi lima menit yang lalu, seluruh siswa siswi maupun guru-guru tengah mengisi perut mereka. Tak alang beberapa orang memilih untuk diam di kelas, atau pergi ke taman, ada juga ke perpustakaan, atau ke kantin belakang sekolah.
Kini, lima orang baru saja tiba di kantin yang sangat ramai. Kelimanya berjalan mencari meja kosong, lalu setalah dapat dua diantara mereka memesan makanan.
"Wa, kusut amat muka lo," ujar gadis dengan bandana ungu menghias rambut yang tergerai bebas.
"Biasalah," sahut Dewa menelungkup di atas meja.
"Bunda," tebak gadis itu yang mendapat anggukan dari Dewa.
"Ngapain lagi bunda lo, Wa."
"Sebel gue, setiap hari bunda marah-marah kalau bangunin gue pagi-pagi," ujarnya kala mengingat kejadian pagi tadi yang membuat moodnya selalu anjlok.
"Masa bunda mau bangunin gue pake toa sih, dia nerima aja ide gue lagi."
"Pake sapu aja udah bikin heboh satu rumah, apa lagi toa. Lo bisa bayangin mungkin satu komplek bisa geger, Ra.
"Lo sih, kebo," ejek Anara.
"Ck, salah bunda aja bangunin gue pagi buta," timpalnya kekeh tidak mau dianggap salah.
"Pagi buta menurut lo, tapi pasti buat bunda lo itu udah siang bolong," ujar Arkan ikut menimpali obrolan mereka. Kadang Arkan sekali mengeluarkan suara memang suka nyes ke uluh hati.
"Jam enam 'kan, bunda lo bangunin pasti," lanjutnya.
"Heheh ... lo tau aja, Ar." Dewa hanya terkekeh kecil menyengir bagai kuda.
"Nyengir lagi lo," decak Arkan geleng-geleng.
"Biarin, tetep aja gue sebel sama bunda."
Hening, karena beberapa saat setelah ketiganya mengakhiri perbincangan yang tidak bermutu makanan mereka datang. Ratu dan Rafly memberikan sesuai pesanan sahabatnya.
Kelimanya makan begitu tenang tanpa obrolan. Arkan, lelaki itu sesekali melirik ke arah istirnya, karena sedari tadi banyak lelaki mencuri-curi pandang padanya. Arkan tentu tidak suka.
Anara, gadis itu acuh saja. Tidak penting baginya, sekarang terpenting perutnya terisi sebelum melanjutkan pelajaran selanjutnya yang membosankan, apa lagi kalau bukan matematika. Musuh Anara ya, angka-angka ini.
"Ck, enek gue liat mata cowok-cowok jelalatan banget!" ketus Arkan yang hanya bisa di dengar keempatnya saja, kecuali Anara.