Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sesuatu yang dipaksakan dan tidak kita sukai, pasti akan membuat kita kesal menjalankannya. Mula-mula mungkin seperti itu, tetapi tidak menutup bahwa sewaktu-waktu hal tersebut malah membuat kita bersyukur menjalaninya.
Kini, sudah terhitung lima bulan 17 hari pernikahan yang dua insan muda jalanin. Perjodohan konyol membuat keduanya harus terjebak pada situasi sulit. Namun, lambat laun semuanya berubah.
Bukankah perasaan seseorang memang bisa berubah-ubah? Bukan hal yang tidak mungkin kan? Sama seperti keduanya, tinggal berdua membuat hubungan itu semakin lengket.
Perhatian kecil dari sang suami membuat istrinya menghangat seiring berjalannya waktu. Kini, keduanya mulai terang-terangan membagi kasih sayang. Tidak ada rasa gengsi, atau hal yang membuat perasaan keduanya tertutupi.
Setelah kejadian dua Minggu lalu, memang membuat hubungan itu kian merekat. Hubungan yang bermula keterpaksaan, kini berubah menjadi kesenangan.
Hari libur, siapa yang tidak senang dengan hari itu. Sekarang tanggal merah dan dua insan muda masih terlelap begitu tenang di balik selimut tebal.
Badan keduanya saling berhimpitan, lengan kekar itu melingkar di pinggang rampingnya. Memeluk begitu erat seakan tidak mau kehilangan. Namun, seseorang lainnya pun melakukan hal sama.
Sinar mentari kian menyengat tidak bisa membuat mata keduanya terbuka. Terpejam begitu lelap, siapa yang tidak nyenyak tidur bersama pasangan halal dan diperlakukan semanis mungkin.
Lain halnya dengan tempat lain, masih dua insan muda. Namun, keduanya sedang berada di sebuah taman. Pagi-pagi seperti ini memang lebih enak untuk berolahraga, apa lagi bersama orang kesayangan.
Keduanya telah berlari beberapa putaran dan kini mereka beristirahat sejenak di pinggir taman beralasan rumput.
"Fiks, besok kita harus bongkar semuanya," ujar lelaki itu memecahkan keheningan yang ada.
"Boleh, udah lama mereka umpetin semuanya dari kita. Capek juga pura-pura bego liat mereka berdua itu," sahut gadis tengah mengipas-ngipas agar angin masuk ke dalam tubuhnya yang penuh dengan peluh keringat.
"Oke, semua bukti udah ada dan aku simpan dengan baik," timpalnya tersenyum tipis.
"Good job, Boy," balas gadis itu mengelus lembut surai hitam kekasihnya.
Balik kembali ke kediaman Alexander, pasang suami istri itu baru saja terbangun. Namun, bukannya beranjak dari kasur, keduanya malah bermesraan.
"Ar, laper. Lepas dong, sesek di peluk gini." Anara berusaha melepaskan tangan kekar itu dari pinggangnya.
"Bentar, Ra," lirih Arkan mengeratkan pelukan itu.
"Udah 25 kali lo ngomong gitu!" ketus Anara mencebikan bibirnya.
"Kok, lo gue lagi sih, 'kan aku kamu, Ra." Arkan menatap mata hazel itu yang selalu membuatnya tenang.
"Udah kebiasaan mah, susah, Ar."
"Justru itu, biar jadi kebiasaan juga, Ra."
"Iya-iya, sekarang lepas." Pasrah Anara, dia tidak mau berdebat dengan suaminya.
Tiga hari lalu mereka bertengkar kecil, karena Anara menggunakan kata 'Lo atau Gue' dan tau apa yang terjadi? Arkan merajuk tidak mau makan, bahkan lelaki itu mogok sekolah.
Sosok Arkan yang maniak sekolah bisa-bisanya bolos, karena panggilan Anara saja.
Terpaksa, gadis itu harus mengganti panggilnya, walaupun susah setengah mampus. Namun, buat Arkan dia akan mencobanya.
"Ra, elus," rengek Arkan mengarahkan tangan mungil Anara ke kepalanya.
"Kok, makin manja sih, Ar." Anara memicingkan matanya ingin menolak permintaan Arkan, tetapi tak urung melakukannya.
"Manja sama istri gak papa dong, malah dapat pahala, 'kan?"
"Pahala terus yang kamu bahas, kalau lagi gini," cibir Anara komat-kamit.
"Emang bener loh, Ra. Apapun yang dilakuin suami istri itu dapat pahala, beda sama yang bukan pasangan halal malah dosa."
"Iya, gimana kamu aja, Ar."
Arkan, lelaki yang selalu menunjukkan sikap manja pada mamanya saja, kini lebih terang-terangan memperlihatkan terhadap istrinya.
Lelaki yang dijuluki manusia kulkas di sekolah SMA Sagitarius, menjadi sosok seperti bayi saat di rumahnya. Ini suatu hal baru bagi Anara, tetapi dia juga suka dengan semua yang ada pada diri Arkan.
Cueknya, dingin, emosional, ketampanan, kepintaran, sabarnya, perhatian, semua ada pada diri suaminya dia suka. Entah sejak kapan perasaan ini begitu nyata dia rasakan, tetapi dia sangat senang.
Alih-alih menyingkirkan pikiran tentang harus membuat benteng pertahanan yang tinggi agar tidak terbawa perasaan oleh pernikahan terpaksa ini. Namun, Anara malah terjebak oleh semua tentang Arkan.
Cinta, sepertinya perasaan itu sudah tumbuh dengan besar dan dia bersyukur Arkan pun merasakan hal sama sepertinya. Dulu dia pernah berpikir, bahwa Arkan hanya pura-pura dengan semua sikapnya itu.
Arkan memang baik sebelum status mereka berubah sahabat menjadi suami istri, tetapi kali ini jauh lebih baik lagi dan lagi.
Arkan selalu mengutamakan Anara di atas semuanya. Dia tidak banyak main lagi seperti dulu, balapan liar pun sudah tidak pernah setelah kejadian waktu itu, dan mungkin untuk sesekali dia masih kumpul dengan geng motornya.
Geng Bruise, perkumpulan anak-anak suka memakai motor gede atau sport. Kegiatannya tidak buruk, malah sangat baik. Seperti berbagi setiap satu bulan sekali, membeli buku untuk anak-anak di jalanan, berkunjung ke panti asuhan daerah Jakarta, dan banyak kebaikan mereka lakukan.
Balapan liar, hanya itu sisi buru dari geng motor yang di ketuai oleh Arkan. Namun, hasil dari permainan itu hadiahnya di gunakan untuk memenuhi kas dari geng motor mereka, dan uangnya dipergunakan untuk kegiatan amal.
"Tidur." Anara berujar kala mendengar dengkuran halus dari suaminya. Sudah biasa ujung-ujungnya di usap rambutnya pasti tidur.
Melihat itu senyum lebar terpatri di wajahnya, hingga bulatan kecil terlihat di pipi chubby itu.
"Makasih, Ar, udah sayang sama aku, udah bikin aku yakin sama pernikahan ini, udah lindungi aku, udah mentingin aku di atas segalanya," ujarnya tulus.
"Cowok kaya kamu begitu beruntung buat aku yang banyak kurangnya ini, walaupun orang bilang aku sempurna, tapi mereka gak tau tentang kehidupan asli aku."
"Kamu, alasan aku sekarang bertahan sampe detik ini. Semoga perasaan ini gak salah, walaupun gak menutup kemungkinan ada rasa takut di dalam sana yang gak jelas aku rasakan."
"Love you, Arkan." Anara mengecup kening Arkan begitu lama.
~~~
Gimana-gimana part ini?
Anara udah terang-terangan nunjukin rasa sayangnya yeyey.
Seneng mereka saling sayang gitu, kaya ikut bahagia juga. Ngerasa kalau aku jadi Anara 🤣🤣🤣
Cuma aku gak suka tokoh aku bahagia, kayanya gak seruuu.