Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Arkan, lo kenapa bisa babak belur gini?" Anara menghampirinya, lalu dia membantu lelaki itu bangun perlahan.
Sebelum berhasil memegang tangannya Arkan lebih dulu mundur. Dia tidak kuat melihat wajah gadis begitu dia sayangi, tetapi dia menyakitinya.
Anara menatap prihatin melihat wajah tampan suaminya dipenuhi lebam. Eh, apa dia masih menyebut lelaki ini suaminya? Bukankah lelaki itu sudah mempunyai gadis lain.
Sudahlah, Anara pusing memikirkan itu.
"Gak papa, Ar." Anara menatap dalam sambil mengangguk. Dari itu baru Arkan menerima pertolongan Anara.
'Bahkan saat gue nyakitin lo berkali-kali sikap lo masih tetep sama'
Anara menatap ke arah lelaki yang membuang wajah ke tempat lain dengan pandangan marah. Ah, Anara tau pasti ini ulah dirinya.
"Kalian ngapain masih di sini. Bubar ini bukan tontonan!" usirnya dengan nada penuh ketegasan.
"Kalian beneran udah nikah?" Seorang lelaki tak lain adalah Derell menatap Anara penuh intimidasi.
Masih inget dengan Derell? Lelaki yang suka dengan Anara sejak pertemuan tak sengaja di koridor sekolah tempo waktu ketika Anara akan diterjang oleh bola basket.
'Darimana mereka tau? Apa Arkan bocorin hal ini?' Anara terdiam dengan pikirannya. Dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin kan, dia menjawab jujur. Bisa-bisa masalah baru akan datang lagi.
"Itu semua gak bener kan, Ra?" Derell berucap lagi membuyarkan lamunan gadis yang masih setia memegang lengan kekar Arkan gara tidak jatuh.
"Gak lah, mana mau gue nikah sama dia." Anara berucap begitu lantang dengan sengaja agar semua anak-anak tau, sambil melirik Arkan sekilas.
Deg
Sungguh sesak rasanya mendengar pengakuan itu, walaupun Arkan tau ini terbaik untuk keduanya. Menutupi pernikahan terpaksa ini. Namun, mau bagaimanapun juga dia punya hati bukan? Dia sayang dan cinta dengan istrinya, wajar dia merasa sesak.
Arkan dan ketiga sahabatnya menatap tak percaya. Lagi, Anara berbohong hanya untuk membela suami jahatnya itu.
"Ini juga yang mukul Arkan pasti lo kan, Wa?" Anara menaikan satu alisnya dan dibalas anggukan kecil dari lelaki itu.
"Ngapain coba, buang-buang tenaga buat mukulin cowok kaya Arkan. Cuma ngotorin tangan lo aja tau gak," sambung Anara dengan tenangnya, padahal jauh didalam lubuk hatinya dia merasakan sakit juga.
"Ini juga kalian ngapain di sini? Nontonin orang berantem buat di sebar ke sosial media. Biar viral gitu, iya? Gak guna tau!" cecar Anara menekan setiap katanya.
"Buat kalian jangan bikin gosip kalau gue sama Arkan udah nikah, karena itu gak akan mungkin terjadi."
"Gue sama dia cuma sebatas sahabat gak lebih." Anara mengeja setiap katanya, lalu pergi dari sana membawa Arkan ke arah gadis di kerumunan itu juga.
Arkan hanya pasrah mau dibawa kemanapun, karena dia tidak punya tenaga lagi.
Dan apa yang Anara lakukan membuat ketiga sahabatnya ikut tercengang kembali.
Lihat, Anara memberi Arkan ke pelukan adik kelas yang katanya pacar baru lelaki itu.
Dengan senyum manisnya Anara menarik tangan gadis di hadapannya begitu lembut,"Bawa pacar lo ke UKS. Kasian babak belur gitu."
"Lain kali kalau liat pacar sendiri di hajar bantuin jangan cuma jadi penonton." Anara berbisik tepat ditelinga Rere. Kemudian meninggalkan tempat itu berjalan ke arah kelasnya.
Anara tidak mau siapapun melihatnya saat sedang menangis.
Iya, dia menangis. Bagi ditusuk ribuan pisau sesak rasanya tidak mengakui Arkan sebagai suaminya dan lagi dia tidak bisa mengobati lelaki itu.
Anara sangat ingin berada di dekat Arkan, tetapi untuk sekarang rupanya tidak mungkin. Seseorang sedari tadi mengintai dirinya dan juga Arkan terus.
Para murid di parkiran pun sudah di bubarkan oleh anggota OSIS. Untungnya kawasan parkiran dan ruang guru sangat jauh. Jadi, kejadian tadi tidak di dengar oleh mereka.
Ratu, Dewa, juga Rafly sudah meminta kepada mereka untuk tutup mulut dengan uang cuci mulut, yaitu traktiran makan gratis di kantin sepuasnya.
Mau bagaimana lagi, barang yang gratis rasanya sangat menggiurkan. Maka, mereka menyetujui hal itu.
(Jangan di tiru guys)
Anara sangat muak dengan hari ini. Pertama dia harus bangun dalam keadaan badan sakit semua, kedua dia tidak mandi saat tiba di rumah langsung buru-buru memakai kaos olahraga dan pergi ke sekolah, terakhir melihat suaminya terluka parah dan dia tidak bisa apa-apa.
Sungguh Anara benci dengan semua ini. Setelah semua hal itu, apalagi yang akan terjadi?
Kini Anara berada di kelasnya. Duduk sendiri seperti biasa. Dia menyumpal kedua telinga dengan earphone. Pandangnya lurus ke handphone yang dia pegang. Di sana dia melihat beberapa foto dirinya serta suaminya.
Raut bahagia terlihat di keduanya. Seakan masalah serta penderita Anara hilang di sana. Namun, hal itu hanya sebentar Anara rasakan.
Terkadang Anara berpikir. Kenapa bahagia itu singgah sesaat. Kenapa tidak selamanya saja bahagia? Akan tetapi, dia juga kadang sadar. Adanya kesedihan itu akan membuat dirinya selalu bisa lebih kuat lagi dan lagi.
"Ar, Anara kecewa sama kamu. Cuma hati Anara gak bisa benci, apalagi muka kamu mirip sama dia." Anara mengelus foto dirinya saat waktu pertama kali menikah.
~~~
Gimana sama part ini?
Kalian suka enggak?
Jadi, mau Arkan kecewa dulu baru baikan apa gak usah baikan? Hehehe
Kalian ngapain aja hari ini? Kalau aku sih, belajar SNBT full dari pagi dan waktu luang aku gunain buat nulis, hehehe.