Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Makan dulu yuk, gue udah ambil tadi," ajak Arkan, setelah beberapa menit yang lalu Bi Nemi membawakan makanan untuk keduanya, karena malas untuk ke bawah katanya.
Anara menggerakkan kepalanya setuju, perutnya juga sudah memanggil ingin segera diisi sesuatu. Arkan menggandeng tangannya menuju sofa, lalu dia menyuruhnya duduk dengan tenang.
Anara menuruti ucapan Arkan. Kala suaminya menyiapkan makanan, Anara memainkan ponselnya seraya mengetik pesan untuk seseorang.
"Matiin hp nya kita makan dulu!" perintah Arkan duduk di sampingnya, lalu mendapatkan anggukan kecil dari Anara.
Penuh semangat Anara melahap makanan di atas piringnya, tetapi beda dengan Arkan yang menopang dagunya menatap wajah Anara tidak berkedip.
Melirik sekilas ke arah suaminya, Anara merasa malu dipandang seperti itu, "Ngedip woy!" sindirnya.
"Makan jangan ngomong!" Arkan memerintah dengan masih dalam posisi yang sama.
"Lo jangan liatin kaya gitu dong," tutur Anara mengunyah rendang dan juga nasi, sambil menyingkirkan wajah Arkan dari pandangannya.
Arkan mengusap wajahnya, "Asem tangan lo."
"Tadi gue abis ngupil jadi rada asem." Anara tertawa melihat ekspresi wajah Arkan yang tiba-tiba berubah.