Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari menjelang siang, tetapi pasutri muda itu baru menjalankan sarapan paginya. Setelah menuruti sikap manja suaminya yang semakin bertambah setiap harinya, gadis itu menuju dapur.
Di tempat itu, dia ingin membuat sarapan untuk suaminya. Tadi pagi, bi Inem sempat menanyakan ingin makan apa, tetapi gadis itu bilang akan masak sendiri saja. Alhasil, bi Inem memilih untuk membersihkan seluruh rumah besar itu saja.
"Waktunya bertempur," girang gadis dengan memakai piyama tidur.
Rambutnya di cepol asal meninggal anak rambut di samping pelipisnya. Mata hazel gadis itu mencari bahan apa yang akan dia masak, setelah menemukan dengan cepat dia membawa ke meja dapur untuk di eksekusi.
Menu kali ini sederhana, hanya telur mata sapi setengah matang dan nasi goreng sosis. Ini salah satu kesukaan dia dan suaminya juga. Selain simpel, rasa tak kalah enak dengan restoran di luar sana.
Jari-jari mungil itu memegang pisau, lalu mengupas bawang putih dan bahan lainnya yang perlu di potong.
Jika dulu, jarinya akan tergores memakai benda taman ini, tetapi sekarang dia sudah terbiasa dan lihat gadis itu melakukan semuanya seperti koki handal di luar sana.
Lama menikah, gadis itu banyak belajar. Mulai dari memasak, mencuci pakaian kadang-kadang, mencuci piring, siapin kebutuhan suaminya, dan banyak hal baru yang dia pelajari.
Menurut gadis itu, semuanya terasa menyenangkan sekali, walaupun dulu saat awal menikah rasanya itu sungguh sulit. Namun, manusia bisa belajar 'kan? Dari yang sulit menjadi mudah. Asal yakin, pasti bisa.
Kala di bawah istrinya tengah memasak, di kamar dengan nuansa ungu putih seorang lelaki baru menyelesaikan ritual mandinya.
Memakai kaos hitam oversize di balut celana pendek selutut yang tadi di siapkan sang istri, kini dia berlalu ke bawah mencari pujaan hatinya.
Lama di kamar mandi, membuat rasa rindu itu hadir. Ada-ada saja memang kelakuan suami muda itu.
Senyum manis terpatri di wajahnya, akhir-akhir ini memang dia sering tersenyum, tetapi jangan salah, itu hanya dia lakukan saat di rumah saja dan untuk sang istri seorang.
Langkah lebarnya terhenti di depan dapur, mata hijaunya berbinar melihat sosok gadis mungil tengah mengaduk-aduk masakannya.
Perlahan dia berjalan ke arahnya, hingga saat di belakang punggung kecil istrinya dia melingkarkan tangannya ke pinggang ramping sang istri.
Detik pertama gadis itu belum menyadari adanya lelaki itu, mungkin karena terlihat sangat fokus membuat dia tak sadar.
"Sayang," lirih Arkan berbisik di kupingnya.
Refleks Anara mengangkat sendok alumunium yang tengah dia gunakan untuk mencicipi rasa makanan itu ke wajah sang empu.
"Astaghfirullah, kamu ngagetin aja," sewot Anara menatap tajam sang empu dan dia hanya menyengir tanpa dosa.