Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Apa kabar kalian? Semoga kalian semua baik dan sehat terus ya.
Btw, setuju aku update berapa kali sehari? Mau seminggu sekali atau berapa kali?
Gimana ceritanya menurut kalian? Aku ngerasanya ada yang kurang tapi gak tau apa, mungkin kurang dapet feel nya kali ya? Menurut kalian gimana?
Kalau misalkan candaannya rada garing maaf ya, aku masih banyak belajar buat cerita kaya gini. Kebiasaan bikin cerita sedih, agak kagok kalau bikin ini👉👈☺️
Warning!!
Vote dan komen kalau kalian suka sama cerita ini dan tambahin ke perpustakaan kalian buat gak ketinggalan update terbarunya. And terakhir aku mohon jangan bawa-bawa nama tokoh lain atau cerita lain di lapak aku, hargai author ya, xixixi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Acara pernikahan dan resepsi kecil-kecilan telah selesai beberapa jam yang lalu. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan sesuai kemauan mereka. Semua tamu sudah kembali ke rumah masing-masing.
Kini, di kediaman Alexander hanya tersisa keluarga inti saja. Kedua orang tua Arkan dan Anara serta Kevin, kakaknya Anara.
Aditya dan Maryam mempunyai dua anak. Raffael Kevin Dwi Alexander dan Anara Rayanza Alexander.
Kevin, lelaki yang siap siaga menjaga adiknya dalam keadaan apa pun, lelaki yang bisa melakukan apa saja demi sang adik, lelaki romantis dengan adiknya, tetapi jangan salah dia juga orang yang jahilnya tidak tertolong.
Setiap hari dia bisa membuat Anara menangis lima kali paling sedikit. Namun, di luar dari sikap usilnya dia begitu menyayangi Anara.
Kevin tak masalah jika Anara menangis karenanya, tetapi dia akan sangat marah saat Anara sedih karena orang lain.
Katanya sih, hanya Kevin seorang yang boleh membuat Anara menangis.
“Kita berdua pamit pulang, udah mau Maghrib.” Santoso memecahkan keheningan di sela-sela mereka mengistirahatkan tubuh yang lelah.
“Loh, kita makan malam dulu baru pulang,” sahut Maryam dapat anggukan juga dari suaminya, Aditya.
“Lain kali aja, kasihan Rani keliatan capek banget,” tolak Santoso dengan nada pelan, sambil menatap wajah sang istri tengah mengatur napasnya yang berat.
Semua mata tertuju pada keduanya, Santoso dan Rina. Namun, tidak dengan Anara masih setia menyenderkan tubuhnya di pinggiran sofa. Hari ini begitu melelahkan baginya, apa lagi menjamu tamu-tamu tadi.
Belum lagi tante dan om-om Anara meledek tidak ada habis-habisnya sepanjang acara berlangsung. Jika membayangkan hal tadi Anara serasa ingin bersembunyi di ketiak Kevin seperti biasa saat dirinya merasa takut atau malu.
“Gak papa deh, kita semua istirahat dulu aja besok baru makan-makan.” Maryam mengulas senyuman manis mengangguk setuju dengan ucapan Santoso.
Arkan memancarkan sorot mata sendu melihat napas memburu sang mama, tetapi seulas senyum ditampilkan Rina yang tahu kekhawatiran putranya.
“Mama pulang dulu, kamu jagain mantu kesayangan mama.” Rina mengelus-elus tangan Anara tidak lepas dari genggamannya.
“Menantu kesayangannya ayah juga itu,” sahut Santoso tidak terima dengan ucapan Rina meng-klaim hanya kesayangannya saja.
Anara hanya tersenyum lebar membalas genggaman erat Rina. Anara begitu bahagia mendapat banyak kasih sayang dari orang-orang, apalagi melihat raut bahagia dari setiap orang di hadapannya.
Baginya menjadi istri Arkan tidak terlalu buruk, apa lagi mempunyai mertua sebaik Rina dan Santoso.
“Iya kesayangan kalian, tapi tetep istri Arkan,” celetukan itu keluar begitu saja dari mulut Arkan.
Arkan memukul mulut sialan yang tidak bisa di kontrol sekarang. Entah mengapa mulutnya selalu keceplosan, padahal selama mereka bersahabat Arkan selalu bisa menahan ucapan, walaupun ingin memuji Anara.
“Wih, mas bro tenang aja gak akan di ambil istrinya, kok.” Kevin merangkul pundak Arkan, sambil tertawa dengan Arkan berusaha menjauhkan tubuh Kevin darinya.
Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Anara saat ini, karena di dalam hatinya dia sudah bersorak-sorai bahagia mendengar itu.
Bahagia karena Arkan akhir-akhir ini sering memuji dirinya bukan lagi kata-kata mutiara yang menusuk relung hati.
“Na, kalau Arkan macem-macem telepon ayah atau mama langsung ya!” peringkat Santoso dapat acungan jempol saja dari Anara, gadis itu gugup.
“Telepon kita juga ya, Sayang,” timpal Aditya dan Maryam bersamaan.
“Jangan lupai–“ Ucapan Kevin dipotong oleh Arkan begitu saja.
“Mau macem-macem juga udah halal sah-sah aja kali, kenapa kalian yang repot.” Arkan lagi-lagi mulut laknat itu seenaknya berbicara.
“Wih, langsung gas malam ini ya, Ar,” ledek Kevin dan semua orang di sana menertawakan dirinya, tetapi tidak dengan Anara yang merasa takut.
“MAIN GAS AJA DIKATA GUE APAAN” “LO MACEM-MACEM GUE TENDANG KE PLANET JUPITER, AR.” Tatapan sengit tertuju pada sosok yang baru beberapa jam menjadi suaminya.
Pamitan kedua orang tua Arkan sudah selesai, kini Arkan juga Anara berada di kamar Anara bertepatan di lantai dua paling pojok kanan.
“Akhirnya kelar juga ini acara.” Anara menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Namun, belum sampai tempat ternyamannya Arkan sudah mencekal tangan dia.
“Ganti baju dulu baru tidur,” ujar Arkan menatapnya.
“Capek banget lima jam berdiri salaman gak berhenti-henti, belum lagi tadi foto-foto.” Anara mengeluh dengan nada manja.
“Iya, tapi bersih-bersih dulu minimal kalau gak mau mandi,” tutur Arkan, sambil melepaskan jas dan aksesori yang menempel di badannya.
“Gak sempet, ngantuk.” Anara langsung menidurkan tubuhnya dengan masih memakai gaun dan make up yang sama.
Arkan yang melihat itu hanya bisa menghela napasnya saja, karena melarang pun tidak akan didengar olehnya.
Bagi Arkan, Anara adalah gadis keras kepala, manja, aneh, bawel, dewasa saat tertentu, dan sangat menggemaskan. Senyumnya manis hingga membuat siapa saja akan ikut tersenyum kala melihatnya.
Anara perempuan satu-satunya yang bisa membuat sikap dingin nan cuek Arkan hilang. Catat hanya pada Anara dirinya mencari, sekalipun ada Ratu sahabat perempuan lainnya.
“Dasar pelor emang!” sindir Arkan ketika melihat istrinya sudah tertidur pulas.
23 menit berlalu, Arkan selesai membersihkan tubuh dan juga Shalat Maghrib. Melihat Anara masih tertidur lelap, dia berinisiatif menghapus make up di wajahnya. Namun, sebelum itu Arkan membuka ponsel mencari tutorialnya terlebih dahulu.
Menemukan benda apa saja yang harus dia gunakan, Arkan mendekat ke arah istrinya, Anara.
Di awali dengan membersihkan are mata, lalu ke seluruh wajahnya secara perlahan agar tidak membuat Anara terbangun. Namun, saat tersisa di bagian lipstik Anara membuka kedua matanya, lalu buru-buru lari ke kamar mandi.
Arkan terperanjat dan mematung melihat istrinya berlari sangat cepat, kapas digenggamnya terjatuh begitu saja. Namun, dia tidak peduli, pikirannya Anara pasti kebelet.
Arkan memutuskan untuk memainkan ponselnya saja, sambil menunggu Anara keluar kamar mandi.
Cukup lama Arkan menunggu, tetapi tak ada tanda bahwa Anara akan keluar. Beberapa kali dia melirik ke arah pintu berharap Anara membukanya. Dia mencoba berpikir mungkin Anara sedang mandi.
25 menit berlalu, gadis itu tidak menampakkan batang hidungnya juga. Arkan mulai cemas, lalu melempar ponselnya asal.
“Anara, lo gak papa!” teriak Arkan mengetuk pintunya.
“Ra!” teriknya memanggil nama itu berulang kali.
“Anara Rayanza Alexander!”
“Ra, lo jangan bercanda dong!” seru Arkan panik.
“Anara, nyaut kalau lo emang baik-baik aja!” bentak Arkan cemas dengan keringat mengucur di pelipisnya.
Teriakkan tidak ada jawaban, Arkan terus memutar otak agar pintu itu terbuka. Ya, ide gila muncul. Dia mendobrak benda itu.
Bruk!
Suara kencang itu menggema di seluruh kamar Anara. Pintu terbuka dan menampilkan sosok Anara berdiri tidak jauh dari sana.
Anara mengerutkan keningnya, “Lo ngapain, Ar?”
“Pintunya rusak, lo, harus ganti rugi pokonya!” Anara memegang perutnya.
“Iya, gue bisa ganti pintu ini ke yang jauh lebih bagus. Bahkan lebih dari satu.” Saat seperti ini Arkan pun selalu narsis jika bersama Anara.
“Jawab pertanyaan gue, kenapa lo diem aja pas gue teriak?” Arkan menatapnya penuh intimidasi.
“Bagus deh. Tadi gak kedengaran,” akunya berjalan meninggalkan Arkan, sambil berjalan tertatih menahan rasa sakitnya.
“Perut lo sakit?” tanya Arkan mengikuti langkahnya.
Anara mendengar itu berbalik badan dengan memicingkan matanya, “Menurut lo gue pegang perut karena apa? Ya, sakit lah!”
“Ke dokter ayo,” ajak Arkan berusaha menyembunyikan kecemasannya.
“Gak, gue mau tidur aja!” Anara menolak membaringkan tubuhnya di atas kasur yang di susul oleh Arkan.
Lelaki itu menyelimuti seluruh tubuh istrinya, saat Anara mulai terlelap kembali. Dia mengelus menyingkirkan anak rambut menghalangi wajahnya untuk dia tatap.
Tidur satu ranjang pun menjadi salah satu peraturan yang dibolehkan oleh kedua pengantin baru ini. Namun, dengan syarat tidak ada kontak fisik yang berlebih.
Arkan masuk ke dalam selimut yang Anara pakai juga. Tak tahu mendapatkan keberanian dari mana dia mulai terlelap di samping nya dan memeluk erat.
“Perut tolong kerja samanya, ya, kasihan istri gue mau tidur capek.”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan berisik, pasutri muda baru aja tidur, xixix.
~~~ TBC!!
Selamat datang di ceritaku!!
Makasih yang udah baca part ini!! Jangan lupa masukan ke perpustakaan kalian dan vote juga komen.