Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Gimana kabar kalian hari ini? Semoga selalu baik dan jangan lupa senyum hari ini.
Langit malam ini bagus banget, kaya masa depan aku sama kamu😝
Kalian suka aku update jam berapa? Komen dong, biar aku menyesuaikan kesukaan kalian.
Warning!!
Vote dan komen kalau kalian suka sama cerita ini dan tambahin ke perpustakaan kalian buat gak ketinggalan update terbarunya. And terakhir aku mohon jangan bawa-bawa nama tokoh lain atau cerita lain di lapak aku, hargai author ya, xixixi
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gadis berpakaian acak-acakan menuruni ranjang. Matanya yang sembab setelah menangis lagi selama berjam-jam, rambutnya berantakan, menambah kesan bahwa gadis itu seperti seorang gembel.
Masih dengan pakaian tidurnya, gadis tersebut berlalu membuka pintu dengan mata mengedar ke seluruh penjuru mencari seseorang, tetapi tidak ada tanda-tanda dia ada di ruangan atas. Pikirnya mungkin ada di bawah, sialnya tidak ada juga.
“Main kali.” Acuhnya berlalu ke arah dapur.
Kriuk ... kriuk ....
Bunyi nyaring itu berasal dari perutnya, tanpa pikir panjang dia membuka kulkas dan mengambil banyak makanan.
Seakan menemukan harta karun binar bahagia tersorot dari wajahnya. Buah strawberry satu kotak dia ambil, cokelat, brownies strawberry, apel, roti, minuman soda, es krim, dan beberapa makanan ringan lainnya.
Gadis ini memang sangat maniak dengan hal berbau strawberry. Makanya tak ayal di dalam lemari pendingin ini lebih banyak makanan beraroma khas buah merah kecil itu.
“Brownies nya enak banget.” Saat satu potong telah masuk ke dalam tenggorokannya.
Seperti kesetanan, gadis itu sangat lahap menyantap semuanya. Tidak ada jeda saat memakannya, hanya terdengar ocehan kecil karena rasa nikmat yang dia dapat. Satu persatuan makanan itu masuk ke dalam perutnya. Dari brownies, buah, makanan ringan, hingga di tutup oleh air putih dingin.
Setumpuk sampah berserakan di bawah kolong meja. Iya, dia makan di sana karena sudah terlalu lapar. Apa lagi, dia malu jika lelaki berstatus suaminya itu melihat makan dia seperti gajah.
Menangis berjam-jam membuat semua tenaganya terkuras habis. “Nikmati,” lirihnya saat semuanya sudah masuk ke dalam perut.
Tanpa sadar sosok yang dia hindari menyembulkan kepalanya dari ujung pintu dapur. Seulas senyum begitu manis dia tampilkan. Rasanya benar-benar memalukan, bagaimana bisa dia tidak menyadari suaminya ada di sana. Bodoh, lagi-lagi dirinya bersikap bodoh.