Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Alloooo, apa kabar kalian? Semoga baik dan sehat, aamiin.
Pengumuman sedikit!!!
Aku gak janji buat update tiap hari, tapi aku usahakan buat terus update minimal dua part kalau hari sebelumnya gak update.
Dan bulan depan aku usahakan buat end juga cerita ini, hehehe.
Aku mau nanya dong, kalian lebih suka sad ending atau happy? Kalau aku sendiri sih, lebih suka sad, hehehe.
Eh iya, kalian dari kota mana aja? Dan kalian tau cerita ini dari mana?
Oke-oke, segitu aja ocehan aku kali ini, hehehe.
Enjoy sama ceritanya 🌻
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ini yang lo bilang bakal baik-baik aja?"
"Ini yang lo bilang semua anak-anak gak akan percaya sama foto itu dan bersikap seperti biasanya?"
"Mana, Ra? Mana omongan lo itu? Semua omongan lo salah."
"Bilang bakal baik-baik aja, tapi lo nangis tiap hari, tatapan lo penuh kesedihan, lo di bully habis-habisan, bahkan lo dipandang hina sama satu sekolahan. Apa ini gak menyakitkan buat lo? Sangat menyakitkan 'kan, Ra."
"Gue gak bisa, gak bisa lanjutin ini semua. Terlalu sulit dan rumit buat dijalanin, apalagi liat lo nangis kaya tadi."
"Rasanya gue cowok paling bodoh di dunia ini. Bodoh biarin orang yang gue cintai di sakiti di depan mata gue sendiri."
Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepala Anara, gadis itu tengah duduk di sebuah cafe. Tadi, setelah pulang sekolah dia berniat jalan-jalan sebentar, menghempas lelah dan penat.
Dan di sinilah dia, menikmati jus strawberry dan kentang goreng. Hanya makanan kecil, karena nanti akan masak di rumah.
Jari-jarinya terus mengaduk-aduk sedotan di dalam minumannya, tanpa niat untuk meneguknya. Tatapannya kosong ke depan, melihat betapa indahnya dua insan muda tengah memadu kasih di hadapannya.
Ah, rasanya dia rindu seperti itu dengan Arkan. Namun, mau bagaimana lagi. Arkan bukan untuknya lagi, dia milik Rere sekarang.
"Huh, biasanya kalau pulang sekolah gini Arkan ajak gue makan es krim dulu, terus beli lollipop," lirih Anara tersenyum kecut.