Follow sebelum baca!!
°
°
°
"Astaghfirullah, lo ngapain di sini, Ar!" teriak Anara menarik paksa selimut yang dipakai semalaman olah nya dan juga laki-laki itu.
Kakinya perlahan mundur ketakutan dengan apa yang sudah diperbuat oleh laki-laki terse...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
17+ Skip aja kalau yang belum cukup umur. Jangan coba buat baca ya. Aku udah ingetin lohhh.
____
"Ya ampun, muka lo kenapa ini?" Anara panik kala melihat suaminya pulang dengan terluka.
Baru saja, gadis itu keluar dari dapur setelah menyiapkan makan malam dibantu oleh mama mertuanya, Merina. Namun, dia langsung disuguhkan wajah tampan lebam suaminya itu.
Anara menggeret Arkan seperti kucing. Dia mendudukkan suaminya di sofa dan berlalu begitu saja. Buru-buru tangan mungilnya mengambil kotak obat, baskom, serta handuk kecil untuk memgompres.
"Gue gak papa, Ra." Tangannya menghentikan aksi Anara yang tengah mengambil kapas.
"Gak papa? Lo gak liat itu muka lebam dan bibir robek? Itu yang lo bilang gak papa?" Anara menatap tajam suaminya tidak habis pikir selalu seperti ini saat terluka.
"Jangan bandel deh, Ar."
"Lo selalu kaya gini kalau luka. Bilangnya gak papa terusss. Padahal lo itu luka, Ar, luka." Anara memarahi suaminya layaknya anak kecil. Lelaki itu hanya bisa pasrah, dia sudah tahu Anara akan mengomel kala melihat Arkan terluka.
"Bisa 'kan, sekali aja gak usah bilang gak papa kalau terluka?" Anara menyorot tajam penuh amarah dan sang empu mengangguk saja.
"Gak percaya gue." Anara mengambil handuk yang sudah di peras, lalu mengompres lebam di wajahnya.
Netra hijau Arkan tidak lepas memandang gadisnya seakan terpana dengan kecantikan itu. Hidung mancung, lesung pipi, mata hazel, dagu runcing, dan bulu mata lentik. Sempurna, itu yang bisa dikatakan Arkan.
Selama lima tahun bersahabat. Baru kali ini dia bisa melihat Anara sangat amat cantik dipandangnya.
Anara seakan tersadar, bahwa Arkan terus menatapnya tanpa mengedipkan mata. Jantungnya berdetak dua kali lipat lebih kencang. Mata mereka bertemu dan saling mengunci. Jarak yang cukup dekat membuat Anara bisa mendengar deru napas Arkan. Wangi maskulin mengudara di penciumannya.
Keduanya hanyut dengan tatapan satu sama lain. Arkan mengikis jarak mereka. Dia semakin maju merapatkan duduknya. Anara hanya bisa mematung, pikirannya melayang ke adegan drama cina yang tadi dia tonton.
'Ini gak kaya di film tadi 'kan?'
Cup
Baru saja gadis itu membantin. Sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya. Manis, Anara merasa itu seperti lollipop yang dia sering makan. Pelan dan pasti Arkan menjelajah rongga mulut istirnya setelah berhasil membuat Anara membukanya.