3 || Kepergok

201 10 39
                                        

Aloo semuanya 👋

Gimana kabar kalian hari ini?

Hujan gak di sana? Kalau di sini hujan petir dari sore.

Warning!!

Vote dan komen kalau kalian suka sama cerita ini dan tambahin ke perpustakaan kalian buat gak ketinggalan update terbarunya. And terakhir aku mohon jangan bawa-bawa nama tokoh lain atau cerita lain di lapak aku, hargai author ya, xixixi.

 And terakhir aku mohon jangan bawa-bawa nama tokoh lain atau cerita lain di lapak aku, hargai author ya, xixixi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Di ujung tangga terdapat seorang gadis dengan bola mata hazel. Arah pandangnya terus menatap lelaki menaiki papan bersusun itu.

Tepat saat injakan kaki lelaki di tangga terakhir. Gadis tersebut memberhentikan langkahnya secara tiba-tiba. Sang empu pun terperanjat.

“Tunggu!” teriak gadis dengan membentangkan kedua tangan tepat di hadapan sang lelaki.

“Astagfirullah.” Lelaki tersebut menjerit serta memegang tangga agar tak terhuyung ke belakang.

Gadis dengan rambut di cepol asal menutup telinga dan memejamkan mata, saat mendengar jeritan.

'Gila, kuping gue pengeng. Arkan suaranya kenceng banget ternyata'  Anara tidak percaya hal ini.

Gadis menghadang lelaki itu adalah Anara dan Arkan yang di hentikan langkahnya. Sedari tadi Anara menunggu dia.

Sekitar setengah jam, Anara menunggu Arkan selesai dengan obrolan bersama Adi, Mary, Santo, dan Rani.

Niatnya hari ini mereka berdua akan fiting baju pengantin. Sebelum besok acara akan dilangsungkan.

Usai obrolan itu selesai, Arkan berniat menjemput calon istrinya.

Setelah penolakan perjodohan kemarin. Dengan rayuan serta bujukan begitu banyak dari keluarga Alexander. Pagi hari ini, Anara menyetujui pernikahannya.

Ada syarat tentunya, apalagi kalau bukan berhubungan dengan lollipop. Anara meminta 10 kotak setiap minggunya, selama pernikahan itu berlangsung.

Keluarga keduanya sempat bungkam. Antara ingin tertawa atau miris. Mereka sempat berpikir, bahwa Anara akan meminta apartemen, mansion, pulau, atau hotel, bisa juga seluruh hak waris Arkan berubah atas namanya. Namun, merek salah.

Anara tetap Anara, gadis dengan isi kepala tak bisa di tebak, beda dari yang lain, dan pintar bermain peran.

*Balik ke topik*

Arkan menetralkan degup jantungnya. Hampir saja nyawa dia melayang jika tak menahan beban tubuhnya.

Merasa sudah lebih tenang, netra hijau itu mendelik tajam. Kemudian menyentil jidat Anara, “Mau bikin gue mati ya, lo.”

Anara menggeleng kuat, “Enggak.”

“Maaf, Arkan,” cicit Anara, wajahnya ditekuk. Dia pun sama terkejut, apalagi melihat Arkan hampir jatuh. Niatnya hanya ingin sedikit menjahili dan memberi pelajaran telah membuatnya menunggu terlalu lama.

“Maaf.” Arkan menirukan suara Anara. Wajahnya pun dibuat semirip mungkin dengan ekspresinya.

“Kok, lo minta maaf juga, sih.” Heran Anara meliriknya.

“Kok, lo minta maaf juga, sih.” Lagi, Arkan mengikuti perkataan Anara.

“Ah, bodo amat. Gue mau ngomong, Arkan,” ujar Anara, terdapat nada kesal di sana.

“Gue mau ngomong,” ujar Arkan santai.

Anara geram melihat tingkah Arkan terus mengikuti ucapannya. Dia menarik napas kasar, menatap jengah ke arahnya.

‘Muka kesel lo itu gemesin. Pantes Dewa suka banget bikin lo kesel' batin Arkan tersenyum dalam hatinya.

“Serius ih, gue mau ngomong!” Nada suara Anara sedikit naik serta menekan setiap katanya.

“Serius ih, gue mau ngomong.” Lagi, perkataan Arkan mengikuti Anara.

Arkan tak peduli gadisnya merajuk kesal. Lihat, Anara begitu lucu saat ini, apalagi pipi chubby mengembang dengan bibir mengerucut. Ah, rasanya Arkan ingin mengarungi Anara.

“Gue gak mau nikah sama lo!” ketus Anara berniat pergi karena sangat sebal, tetapi lengannya di cekal lebih dulu.

“Siapa yang izin in lo nolak? Tadi pagi baru aja setuju, udah beda lagi ucapannya.” Arkan menatap lekat, sambil satu alis hitam pekat dan tebal sedikit terangkat.

“Plinplan amat jadi orang,” sambungnya.

“Gue sendiri. Lagian gak ada yang bisa larang gue buat nerima atau nolak perjodohan ini,” balas Anara melirik sekilas tangan digenggam Arkan. Ada getaran aneh dihati Anara dengan perlakuan Arkan, padahal biasanya pun tak seperti ini.

Bukan penolakan lagi yang ingin dia bicarakan. Anara mau memberitahu tentang surat perjanjian telah dia buat tadi. Namun, pendengarnya tak sengaja tertarik dengan ucapan Arkan bersama ayahnya.

Pembicaraan itu, membuat Anara berubah pikiran dan ingin memastikan apakah pernikahan ini layak dilanjutkan atau tidak.

“Gue gak suka penolakan, jadi lo gak bisa nolak pernikahan ini tanpa persetujuan gue!” tegas Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari keindahan di hadapannya.

“Oh, tadi perasaan ada yang bilang loh, kalau gak mau nikah sama sahabat yang cerewet, bawel, ngeselin, suka opa-opa, apa lagi tukang halu.” Anara menaik turunkan alisnya.  Dengan tangan bebas dari genggaman menutup mulut, serta ekspresi dibuat-buat seperti terkejut.

“Satu lagi, cerobohnya minta ampun,” sambungnya.

“Bukannya itu semua ciri-ciri gue ya? Artinya lo gak mau nikah sama gue dong,” Anara menunjuk seluruh tubuh dari atas sampai bawah. Kemudian menunjuk wajah Arkan.

'Dia denger semuanya? Semoga aja enggak'  Arkan.

‘Itu hanya omong kosong, biar gue gak terlihat begitu ingin nikah sama lo’

“Lo denger semua omongan gue sama ayah?” Arkan ingin memastikan, bahwa tidak semuanya Anara tahu. Anara mengangguk sebagai jawaban.
“Gak sangka, lo suka nguping.” Arkan menggeleng dramatis.

“Enak aja. Gue gak nguping, cuma kebetulan aja mau turun terus denger lo lagi bahas soal gue!” Anara dengan tega menyangkal tuduhan itu.

“Siapa yang gak akan penasaran sih, kalau denger orang lagi ngomong in diri kita. Pasti semuanya juga akan lakuin hal kaya gue dan jiwa kepo gue meronta-ronta.” Anara mengibaskan rambut masih sedikit bahas, karena sebelumnya dia mandi dulu.

'Dia tau soal itu dong. Semoga aja bagian awal omongan gue sama ayah dia gak denger' Arkan geleng-geleng kepala.

Arkan memakai kaus pendek hitam dan celana selutut, diam menatap datar ke arahnya. Sedikit ide jahil muncul di kepalanya.

Arkan menyeringai lebar, mata hijau itu berubah tajam. Aura kemarahan seketika membuat Anara bergidik ngeri. 

Anara mundur perlahan. Tunggu, apa dirinya salah bicara? Apa karena dia tau semua pembicaraan itu, Arkan jadi marah? Cuma apa salahnya, toh dia tak sengaja dengar, bukan niat untuk mendengarkan.

Bola mata hijau itu seakan ingin keluar dari tempatnya. Anara tahu, netra itu menyiratkan kemarahan. Makanya, dia mundur untuk menghindar.

Baru saja Anara akan berbalik arah, cekalan tangannya lebih erat lagi. Anara menutup netra hazel nya, dia siap jika Arkan akan mengamuk.

“Punya telinga gak usah di guna in buat nguping pembicaraan orang lain, sekarang lo masuk ke kamar siap-siap kita pergi fiting baju pernikahan kita,” bisik Arkan dengan nada menyeramkan menekan setiap katanya dan hal itu membuat bulu kuduk Anara merinding mendengarnya. Namun, gadis itu tidak pergi dan malah mendorong tubuhnya.

“Gak usah bisik-bisik kaya gitu, modus mulu lo!” bentak Anara, lalu pergi dari tempat itu dengan tatapan tajam.

“Demen banget dorong-dorongan orang, buruan gue tunggu 10 menit kalau gak datang liat aja malam pertama kita!” teriak Arkan tidak terima.

Mendengar itu, Anara bergidik ngeri, lalu buru-buru masuk ke kamarnya lagi.

Anara memang salah sudah menguping pembicaraan orang lain, tetapi dia lakukan itu semua karena orang yang sedang dibicarakan adalah dirinya sendiri. Hal itu membuat Anara penasaran, apa lagi darah keponya suka tidak bisa dikontrol.

Arkan kembali ke bawah sambil memegang dada yang detak jantungnya tidak beraturan setelah bertemu calon istrinya. Entah kenapa, setelah mengetahui dirinya dijodohkan oleh kedua orang tua mereka, Arkan selalu deg degan kala dekat dengan Anara.

“Jantung gue deg degan lama-lama deket sama lo.” Arkan menarik bibirnya tersenyum.

~~~
TBC!!

Selamat datang di ceritaku!!

Makasih yang udah baca part ini!!
Jangan lupa masukan ke perpustakaan kalian dan vote juga komen.

See you next part.

Salam manis dari aku ☺️

uculmarkucul_

ARKANARA {Sahabat Tapi Menikah} Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang