🍁🍁🍁🍁🍁
Sebuah mobil berhenti di basement apartment mewah di kota Los Angeles lalu keluar seorang pria paruh baya dengan mengenakan kemeja hitam dan celana dengan warna yang senada.
Dengan aura dinginnya Kevan berjalan menuju lobby apartment. Lalu ketika dia sampai di depan lift seketika dia memencet tombol yang menunjukan naik.
Ketika angka menunjukan angka 18 pintu secara otomatis terbuka.
Langkah tegasnya berjalan menyusuri lorong apartment. Lalu kakinya berhenti di unit nomor 18.
Seakan sudah tahu, tangannya dengan lancar menekan beberapa angka di pintu itu. Tanpa ragu dia masuk ke unit itu. Jika dilihat dengan lebih jelas ada sedikit senyum smirk di bibirnya.
Bersiul pelan, Kevan masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar dengan domonasi warna hitam itu masuk ke penglihatanya. Namun bukan itu yang menjadi perhatiannya.
Matanya menatap lurus seorang yang tengah terlelap di ranjang. Menyorot dingin, kakinya melangkah mendekat.
"Ck...ck...ck... sebenarnya aku masih menyayangimu. Tapi perbuatanmu sudah keteraluan. Sudah cukup selama ini aku diam untuk kebahagiaanmu
Lalu mata dinginnya menyendu.
"Aku juga mau bahagia. Bahagia dengan keluarga kecilku."
Tangan Kevan merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah suntikan yang sudah terisi. Tanpa ragu pria paruh baya itu menusukan jarum suntik itu kepada orang yang tengah terlelap itu.
"Setidaknya ini bisa menahanya" gumamnya.
Bibirnya menunjukan seringaian.
"Tunggu kejutan selanjutnya saudara kembar."
Lalu pria paruh baya itu benar-benar pergi. Sekarang langkah pria paruh baya itu menuju sebuah pintu ber cat putih.
Dengan pelan pintu itu terbuka, kamar dengan nuansa abu putih menyambutnya.
"Kevan...!!" Ucap seseorang di dalam kamar itu.
Mendengar suara itu hati Kevan menghangat. Lalu dengan pelan dia mendekati seorang yang kini tengah menatapnya berbinar.
Tanpa ragu orang itu menubruk dada bidang Kevan, memeluknya erat. Dan pria itu melakukan hal yang sama. Menyalurkan kerinduan yang selama ini telah membuncah.
"Kevan... aku-
"Aku sudah tahu semuanya Kevan. Aku....dia- dia bukan kamu.
"Dia Kevin"
Nafas Kevan tercekat mendengarnya. Dengan pelan dia melepaskan pelukannya lalu menangkup lembut wajah wanita yang selama ini menghiasi hatinya. Dikecupnya pelan kening wanita itu.
"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini Kev? Aku bahkan tidak tahu jika kamu punya kembaran"
"Lalu... bagaimana kamu tahu jika ini aku bukan Kevin?"
Sejenak Daisy terdiam mendengar pertanyaan Kevan. Matanya menatap dalam pria paruh baya di depannya.
"Maaf, selama ini aku tidak menyadarinya. Bahkan jika aku tidak mendengar pembicaraan dia dengan seseorang lewat telepon, selamanya aku tidak akan mengetahuinya."
Kevan kembali membawa Daisy ke dalam dekapanya tanpa membalas pernyataan wanita itu.
"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini? Kamu-
"Maaf. Sebentar lagi semuanya akan membaik. Aku janji."
🍁🍁🍁🍁🍁
"Tolong berhenti...ini sakit"
Malvin tidak menghiraukan rintihan orang yang sedang disiksanya.
Seakan sangat menikmati, pemuda itu bersenandu ria dengan tangan sibuk menggores inci demi inci perempuan di depannya.
"Mal....vin...tolong berhenti..."
"Sebentar lagi ya? Nanggung." Acuh pemuda itu.
Kini ia meletakan pisau kecilnya dan mengambil sebuah bor. Sontak perempuan yang kini terikat memberontak. Yahhh walaupun usahanya sia-sia.
"Ka- kamu mau apa..!?!" Panik perempuan itu.
"Ahhhh aku mau....belajar jadi seniman." Pemuda itu terkekeh
"Ehhh salah deng. Maksudnya aku mau memperdalam keterampilanku dalam menjadi seniman."
"Dan.....kamu objeknya...!!!" Tambah pemuda itu kegirangan.
Berontakan perempuan itu semakin keras namun sepertinya ikatan pada perempuan itu lebih kuat.
"Jangan..!!! Sadar Malvin!!! Aku- aku istrimu!!"
"Aishhhhhh" Malvin menepuk jidatnya dengan tangan yang berlumuran darah.
"Iyaa ya? Astagaaa, sayangnya gue gak peduli sayang"
Wajah Mira semakin pias.
"Malvin aku sedang mengandung. Aku mohon... berhenti...ini anakmu..!!" Teriak Mira seakan tak kehabisan akal.
Wajah Malvin mendingin.
"Gue gak tertarik jadi ayah"
Ngengggg.....ngeng....ngeng......
Suara bor menghiasi ruangan yang berbau amis itu.
"Malvin jangan...!!! Malvin...!!!"
"Selamat tinggal my Rose..."
Ngeng......
"Malvin..!!"
🍁🍁🍁🍁🍁
Arana terdiam menatap langit-langit kamar yang ia tempati.
Mimpi yang baru saja ia alami....apakah itu nyata?
Dirinya.... Arana yang asli..???
Ini tidak masuk akal
Jika memang dirinya adalah Arana, apa artinya kehidupan sebelumnya sebagai Rena? Dirinya ingat betul kehidupanya sebagai Rena dari kecil hingga sekolah bahkan kuliah. Apa artinya semua itu?
"Aisshhh membingungkan" gumam gadis itu.
Cklekk
Pintu terbuka, menampilkan seorang pelayan membawa nampan berisi makanan.
Entah mengapa, Arana merasa dejavu.
"Nona, waktunya makan lalu minum obat."
"Ini....dimana?" Tanya Arana pada pelayan yang kini tengah meletakan segelas susu.
"Kita berada di mansion utama. Tuan muda memindahkan anda dari rumah sakit demi keamanan anda."
"Sekarang... Hades di mana?"
Pelayan itu tersenyum.
"Sebentar lagi Tuan muda akan kembali. Sekarang makan dulu ya Nona?"
"Ya...tapi hadesnya mana?"
"Bukan ranah saya untuk menjawab"
🍁🍁🍁🍁🍁
KAMU SEDANG MEMBACA
Tunangan Antagonis
РазноеMenurut Rena terperangkap dalam tubuh seorang tokoh novel hanyalah dongeng dari sebuah cerita. lalu bagaimana jika ia mengalami kejadian yang menurutnya hanya sebuah dongeng tak nyata itu? ***** Arana Wilson, tunangan dari Hades Giovandrick, dalam n...
