37🍁

54.3K 4.6K 220
                                        


🍁🍁🍁🍁🍁

Seorang gadis terjebak dalam sebuah tempat yang di selimuti oleh sekumpulan kabut. Dengan memindai sekelilingnya, gadis itu mengenakan dress selutut berwarna putih.

Dimana? Batin gadis itu bertanya tanya, lalu tiba-tiba gadis itu seperti tertarik oleh angin hingga sekarang dirinya berada di sebuah taman.

Dirinya seperti tak asing dengan taman ini. Tapi...di mana dia pernah melihatnya?

Di sebuah kursi besi, terdapat seorang gadis belia dengan perempuan dewasa.
Di sebelah gadis belia itu duduk, terdapat sebuah kotak kecil dengan pita bewarna pink

"Nona, sebaiknya kita pulang. Hari sudah mulai sore."

Gadis itu dapat melihat bahwa gadis belia itu menggeleng ribut. Tangan gadis belia itu senantiasa memegang tongkat untuk orang tuna netra.

"Gak mbak, pasti bentar lagi Leon dateng. Dia udah janji sama aku mbak"

"Tapi kita sudah menunggu dari tadi siang. Nona juga butuh istirahat"

"Pokoknya aku tetep mau nunggu!! Gimana kalo Leon dateng kitanya udah pergi?" Kekeh gadis belia itu

Dalam jarak jauh gadis ber dress putih itu termangu

Leon?

Atau jangan-jangan gadis belia itu adalah dirinya?

"Nona Arana sekali aja turuti kata mbak Ana. Besok nona mau operasi. Jadi sekarang nona butuh istirahat."

Ahhh gotcha. Jadi gadis itu benar-benar Arana kecil.

Jangan-jangan ini adalah kilasan masa lalu milik Arana?

Terlihat gadis belia itu termangu sedih, matanya berkaca-kaca dengan wajah yang memerah.

"Tapi gimana kalo Leon dateng mbak?"

"Dan bagaimana jika Leon tidak datang" sela pengasuh Arana sewaktu kecil.

"Leon selalu nepatin janji nya dia!"

"Nona Arana saya mohon" sepertinya pengasuh itu hampir putus asa. Namun tetap, pengasuh itu tidak kehabisan akal.

"Bagaimana jika kita temuin Leon kalo Nona Arana sudah bisa lihat? Kita bikin kejutan buat Leon?" Tawar pengasuh itu

Mendengarnya sontak Arana membulatkan mata dengan berbinar-binar setelah itu mengangguk ribut.

"Kita pulang ya nona?"

"Iya mbak"

Lalu, gadis ber dress putih itu tertarik kembali, kali ini ia seperti berada di sebuah rumah mewah.

Sepi

Itulah kesan pertama yang di rasakan gadis itu kala memindai sekelilingnya.

Prangg

"Pa, ijinin aku nemuin Ara sekali saja!" Teriak seorang anak laki-laki yang sedang di cekal oleh orang paruh baya berpakaian formal.

Tunangan Antagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang