40🍁

41.2K 3.1K 37
                                        


🍁🍁🍁🍁🍁

Brakkkkk.

Pyarrrrrr.

Kevin membanting segala benda yang bisa dijangkaunya. Matanya memerah marah dengan nafas yang memburu.

Dia benar-benar marah

Lama terdiam, Kevin terkekeh hambar.
Kevan sialan itu, ingin rasanya Kevin mencekiknya.

"Rio..!!!!" Panggilnya dengan suara yang menggelegar. Tak lama kemudian Rio diikuti beberapa orang di belakangnya lari tegopoh-gopoh memasuki ruangan rumah sakit yang ditempati Kevin.

Betapa terkejutnya Rio ketika melihat kamar sudah berantakan. Infus Kevin juga terlepas membuat tangan pria paruh baya itu bereelimut darah.

"Tuan?!" Sapanya lalu dengan cepat menghampiri Kevin dan membantu Kevin membenarkan tempat duduknya.

"Bereskan semua ini!!" Perintah Rio kepada para bawahannya yang langsung bergerak menjalankan tugas.

"Tuan tidak apa-apa?" Ujar Rio sopan sembari memencet tombol untuk memanggil dokter.

"Kau masih bertanya!!?? Sialan Rio!!! Kevan sialan itu sudah berhasil melumpuhkan kedua kakiku!!!" Teriaknya marah.

"Tuan--

"Aku ingin kau menyerang semua aset dia. Bom sekalian!!"

"Permisi?" Tanya seorang laki-laki dengan jas putih di ujung pintu.

Melihatnya membuat Rio berdehem sejenak lalu menyuruh dokter itu untuk masuk.

Dengan cekatan dokter itu membersihkan punggung tangan Kevin yang terkena noda darah.

"Bagaimana bisa terlepas?" Tanya sang dokter menghilangkan suasana canggung.

"Lakukan saja tugasmu. Jangan banyak tanya yang bukan ranahmu." Balas Rio dengan tajam membuat dokter itu meringis takut.

"Maaf tuan."

Beberapa menit berlalu dokter itu membereskan peralatannya lalu pamit pergi. Selepas dokter itu pergi, seorang pria dengan pakaian satpam meminta ijin masuk dari ujung pintu. Satpam itu memegang kotak berwarna coklat dengan pita hitam sebagai hiasan. Dengan gerakan tangan, Rio mempersilahkan satpam itu agar masuk.

"Malam Tuan, maaf mengganggu waktunya, tadi ada yang menitipkan kotak ini untuk tuan Kevin."

Rio menatap curiga, lalu pandangannya menghunus tajam.
"Apa kau bisa dipercaya?" Ucapnya penuh intimidasi.

Satpam itu bergemetar ketakutan, apalagi ketika para bawahan Rio menodongkan pistol ke arahnya.

Kevin?

Orang itu hanya diam membisu dengan rahang yang mengeras dan tangan yang terkepal erat

Mungkin, dia masih belum menerima, bahwa keduanya sedang lumpuh. Walau hanya sementara.

"Maaf Tuan, sa-saya hanya menjalankan amanat." Tunduk satpam itu, tidak berani menoleh barang sedetik.

"Siapa pengirimnya?" Bukan Rio, tapi Kevin yang bertanya.

"Orang itu bilang dia adalah keluarga dekat Tuan Kevin."

"Ciri-ciri?"

"Saya kurang tau, dia tinggi tapi saya tidak melihat wajahnya karena memakai masker."

"Dasar tidak berguna" desis Kevin tajam. Tangannya menggapai pistol di saku salah satu bawahannya.

Dor

"Arghhhhhh!!" Teriak kesakitan memenuhi ruangan itu tatkala Kevin menembak bahu orang berseragam satpam itu.

Kotak yang satpam itu bawa terjatuh. Isi kotak itu keluar. Dan betapa terkejutnya mereka ketika mendapati beberapa lembar foto seorang wanita yang tampak penuh luka. Wajahnya penuh darah. Sayatan memenuhi beberapa bagian tubuhnya. Wanita itu adalah Yuna.

Ya, yang berada di foto itu adalah Yuna.

"Kevan sialannn" desis Kevin tajam. Matanya mengisyaratkan permusuhan yang begitu ketara.

"Rio!!"

"Ya Tuan"

"Siapkan penyerangan besar-besaran di tempat pria sialan itu tinggal sekarang..!!"

"Baik Tuan"

Gigi Kevin bergemelatuk
"Jika aku tidak berhasil membunuhmu, akan aku pastikan aku akan mati di tanganku sendiri saudara kembar." Kevin menyeringai penuh arti

🍁🍁🍁🍁🍁

"Hati-hati"  Daisy tersenyum tipis mendengarnya. Dengan lembut Kevan menuntun Daisy untuk berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit.

Bertahun-tahun mental Daisy terganggu, tentu saja dia memerlukan terapi kejiwaan yang mumpuni.

Kevan memutuskan untuk membawa Daisy ke salah satu rumah sakit jiwa terbaik di Jerman. Tidak, Daisy tidak tinggal, dia hanya melakukan konsultasi.

"Terimakasih" ucap Daisy tulus ketika Kevan membawanya agar duduk di bangku besi. Kevan tersenyum hangat lalu tangannya bergerak mengusap pipi Daisy.

"Seharusnya aku yang berterimakasih, terimakasih karena sudah bertahan sampai sejauh ini."

Daisy menggeleng ribut.
"Aku sakit Kevan, bahkan aku--"
Nafas Daisy tersendat

"Aku tidak menjaga anak kita dengan baik" sambung wanita itu dengan mata yang berbinar sedih.

Tangan Kevan bergerak menghapus air asin dari mata wanita di hadapannya itu.
"Tidak apa, dia pasti bisa mengerti."

"Kau tahu Daisy? Bahkan sekarang dia sudah memiliki seseorang yang dicintainya."

Daisy terkejut bahagia
"Benarkah?" Kevan mengangguk menanggapi.

"Jangan pernah salahkan dirimu lagi, aku benci itu"

🍁🍁🍁🍁🍁

Tunangan Antagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang