🍁🍁🍁🍁🍁
"kamu yakin, mau nempatin dia disini?"
Tanya seorang laki-laki dengan kacamata bertengger manis di kedua telinganya.
"Ya" jawab Hades datar.
"Tapi kenapa? Dia tidak tau apa-apa."
Mendengarnya membuat Hades terkekeh sinis. Matanya menatap tajam pimpinan panti jompo itu.
"Ibu gue juga gak tau apa-apa, tapi mereka juga tega menyakiti ibu gue"
"Tapi, ayahnya Malvin, dia punya penyakit gagal ginjal kronis. Dari informasi yang aku dapat, penyakitnya sudah parah dan dia membutuhkan donor ginjal secepatnya."
Hades mendengus sinis. Apa orang itu pikir Hades akan peduli?
"Akan lebih baik jika dia mati secara perlahan. Supaya anaknya tau bagaimana sakitnya melihat orang yang kita sayangi menderita."
Pimpinan panti jompo itu berdecak kagum. Baru kali ini dia mendengar Hades berbicara panjang.
Hades memasukan kedua tangannya pada sakunya.
"Gue pergi, Arana sudah menunggu." Kemudian Hades berlalu meninggalkan pimpinan panti jompo itu yang menggeleng samar.
"Kadang heran, psikopat seperti dia bisa bucin setengah mampus." Gumamnya lalu pergi memasuki kamar tempat ayahnya Malvin tertidur.
🍁🍁🍁🍁🍁
Cklekk
Perhatian Arana dari buku teralihkan ketika mendengar suara decitan pintu.
Lalu mata Arana berbinar ketika seorang pemuda datang dengan senyum menawannya.
"Hades!!" Seru Arana senang.
"Gimana? Apa yang sakit?" Tanya Hades sembari merapikan rambut gadis itu.
Bibir Arana mengerucut sebal.
"Hati gue yang sakit, pas sadar wajah yang gue liat pertama bukan elo." Hades terkekeh mendengarnya.
"Dasar." Ujar Hades lalu mengecup pipi Arana gemas.
Sejenak hening sebelum Arana kembali membuka pembicaraan
"Hades?"
"Hem?"
"Sini!!" Arana menepuk sisi ranjangnya yang kosong. Meminta Hades agar duduk di sampingnya. Hades menurut dengan sekali gerakan dia bergabung bersama Arana.
Arana menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Hades yang diterima dengan senang hati oleh sang empu.
"Hades habis darimana?"
Hades mengusap lembut surai legam Arana. "Urusan dikit."
"Urusan apa?"
Hades menjawel hidung pesek Arana gemas. "Rahasia" mendengarnya membuat Arana mendengus samar.
Kemudian mata Arana melebar seakan mengingat sesuatu.
"Hades!"
"Iya?"
"Mama sama Papa..!! Mereka tau semua yang udah terjadi?"
"Tenang Ara, mereka belum pulang dari Canada jadi aman." Mendengar penuturan Hades membuat Arana bernafas lega.
"Menurut lo, gue kasih tau semua yang terjadi gak ya?"
Hades mengecup rambut Arana.
"Senyaman lo aja." Mendengarnya membuat Arana mengangguk lugu sebagai jawaban.
"Hades?" Panggil gadis itu lagi
"Apa lagi?"
"Malvin, gimana keadaanya?"
Sampai lima detik tidak ada jawaban dari Hades, malah Arana merasakan cengkraman erat di pinggangnya.
Bodoh Arana
"Had--dess..." Cicit Arana takut.
"Ara, jangan pernah sebut nama dia lagi, gue benci."
"Paham Ara?"
"Tapi Hades--
"Mau ngelawan?"
Arana menggeleng ribut, terlanjur takut Arana berbalik lalu memeluk erat Hades.
"Maaf" ucap gadis itu.
"Yang perlu lo tau, gue cuma milik lo, baik dulu sekarang ataupun di masa depan, Leon." Lirih Arana di dalam dekapan sang tunangan.
Leon
Mendengar Arana menyebut nama Itu membuat tubuh Hades menegang.
Dengan cepat Hades sedikit mendorong tubuh Arana agar menghadapnya.
"Ara lo--
Arana tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.
"Aku--aku udah ingat semuanya."
Tak lama Hades tersenyum bahagia lalu membawa Arana ke dekapannya kembali.
"Makasih....makasih...." Gumam pemuda itu berulang kali.
"Seharusnya gue yang berterima kasih. Makasih sudah menunggu." Balas Arana yang memeluk Hades tak kalah erat.
🍁🍁🍁🍁🍁
KAMU SEDANG MEMBACA
Tunangan Antagonis
RandomMenurut Rena terperangkap dalam tubuh seorang tokoh novel hanyalah dongeng dari sebuah cerita. lalu bagaimana jika ia mengalami kejadian yang menurutnya hanya sebuah dongeng tak nyata itu? ***** Arana Wilson, tunangan dari Hades Giovandrick, dalam n...
